Azki Akhyari Oleh: Azki Akhyari
Pertanyaan semacam itu sering saya terima dari kerabat, keluarga maupun teman-teman yang ingin "menitipkan" anak mereka di pesantren.
Mengapa saya sebut menitipkan?
Dalam tradisi pesantren, saat anak mulai mengikuti proses pendidikan, orang tua akan menyerahkan anak mereka secara penuh kepada pengasuh-pengurus pesantren. Selama masa pendidikan ini, pengasuh-pengurus pesantren punya wewenang penuh terhadap aturan keseharian, nilai-moral yang ditanamkan, hingga seperangkat kurikulum yang akan dituntaskan anak hingga menyelesaikan masa pendidikan.
Biasanya, perangkat kurikulum ini bersifat independent bagi pengasuh-pengurus pesantren. Seorang profesor dalam bidang pendidikan sekalipun tidak bisa mendikte pesantren tempat anak mereka dididik. Bila kurikulum dianggap tak sesuai dengan keinginan orang tua, mereka bisa memindahkan anak mereka ke lembaga pendidikan lain. Itu solusi dan hak yang dimiliki orang tua. Mengenai kurikulum dan peraturan pesantren, itu hak penyelenggara pesantren yang bersangkutan.
Saat masa pendidikan anak dianggap telah selesai, biasanya orang tua akan kembali memohon izin kepada pengasuh-pengurus pesantren untuk membawa pulang anaknya.
Tradisi semacam ini biasanya tidak ditemui di lembaga pendidikan lain, baik sekolah dasar, sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Hal ini juga yang menjadi salah satu penyebab adanya perbedaan hubungan emosional antara wali santri dan pengasuh pesantren, dengan hubungan emosional antara wali siswa dan guru di sekolah formal. Kepatuhan dan penghormatan seorang anak terhadap kiainya di pesantren berbeda dengan kepatuhan dan penghormatan seorang siswa terhadap gurunya di sekolah. Hal ini bisa kita buktikan dengan membandingkan tradisi yang berlaku dalam keseharian di dua lembaga pendidikan yang berbeda ini.
Meski saya belum pernah mengukur hubungan emosional ini melalui sebuah penelitian kuantitatif, saya meyakini jalinan hubungan emosional seperti ini punya pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan karakter peserta didik. Perlu penjelasan kronologis dan pembedahan indikator yang cukup panjang tentunya untuk langkah verifikasi pernyataan ini. Mungkin saja akan lebih efektif untuk dibahas pada kesempatan lain.
Kembali pada pertanyaan, "bagusnya mondok di pesantren mana?"
Setiap pesantren punya paradigma pendidikan dan corak pemikiran tersendiri. Tentunya proses pendidikan, kurikulum dan output yang dihasilkan juga akan berbeda-beda.
Jadi, para orang tua sebaiknya jangan berharap dalam waktu singkat dan dalam satu paket pendidikan bisa menghasilkan anak yang bersuara merdu dan hafal al-qur'an 30 juz, mahir berbahasa asing, punya penguasaan literasi keislaman yang luas, lihai berpidato dan pandai berdialektika, punya kemampuan bisnis yang hebat, dan punya skill berpolitik yang baik hingga bisa menjadi politisi tangguh untuk menduduki jabatan berpengaruh. Rasanya sangat sulit (untuk menghindari kata mustahil) membentuk seorang pribadi yang punya kapasitas tersebut dalam satu paket pendidikan, apalagi dalam waktu yang relatif singkat hanya beberapa tahun saja.
Seorang penghafal al-qur'an biasanya butuh waktu yang cukup lama dan fokus-konsentrasi yang tidak boleh terpecah. Jangan harap seorang anak bisa menghafal al-qur'an dengan maksimal bila pada saat bersamaan ia dituntut untuk mendapat nilai tinggi dan penguasaan materi pada pelajaran matematika, fisika maupun kimia.
Saya pernah beberapa pekan mengamati sebuah pesantren di Jogja yang mendidik para mahasiswa untuk menghafal al-qur'an di asrama. Sebatas pengamatan dan wawancara saya bersama santri di sana, sangat jarang ada santri yang mampu menuntaskan hafalan al-qur'an 30 juz bersamaan dengan prosesi wisuda kuliah tepat pada waktunya. Biasanya, santri yang mampu menuntaskan hafalan al-qur'an adalah santri yang fokus menghafal al-qur'an dan materi keislaman saja, tanpa diselingi tuntutan akademik lainya. Itu pun butuh waktu yang tidak sebentar.
Begitu pula di beberapa pesantren besar yang mengadopsi sistem klasikal-tradisional dengan fokus kajian kitab kuning. Biasanya, santri yang mampu menuntaskan didikan dan kurikulum dari kiainya adalah santri yang fokus mondok dengan durasi lama, tanpa diselingi dengan pendidikan formal seperti teman sebayanya. Kalaupun kelak mereka mengikuti proses pendidikan di perguruan tinggi, biasanya ini mereka jalani saat pendidikan pesantrenya telah purna.
Melihat keadaan tersebut, saya sering sedih kalau ada santri yang fokus menghafal al-qur'an atau mendalami kajian kitab kuning (namun tak berproses di sekolah formal seperti teman sebayanya) mendapat sindiran pedas: kalau tidak sekolah dan tidak punya ijazah, kelak mereka akan jadi apa.
Orang-orang yang menyindir dengan nada demikian biasanya lupa, bahwa para ulama besar yang berkontribusi aktif di masyarakat dan kepergianya ditangisi banyak orang itu adalah orang yang saat melewati masa pendidikanya sama seperti anak-anak yang sering disindir "kelak jadi apa" tadi.
Dalam sejarah pendidikan Islam, bukankah salah satu kelompok yang berjasa besar dalam penyambung estafet keilmuan Islam adalah para sahabat yang sering disebut Ahlush Shuffah. Kita sangat akrab dengan nama Abu Hurairah. Sahabat nabi yang termasuk pembesar Ahlush Shuffah ini dikenal karena jasanya dalam periwayatan hadits nabi. Tidak terbayangkan bagaimana tradisi ilmu hadits bisa berjalan tanpa orang-orang seperti Abu Hurairah. Dan kita tidak boleh melupakan bahwa Abu Hurairah dan tokoh sahabat yang berkontribusi besar dalam bidang keilmuan islam waktu itu hanya berfokus pada kajian agama. Tanpa diselingi kerja keras intelektual di bidang keilmuan lainya.
Jadi, kalau mendapat pertanyaan "bagusnya anak saya mondok di pesantren mana?" Saya akan kembali bertanya kepada yang bersangkutan: Anda ingin anak anda mempelajari apa dan ingin anak tersebut punya kemampuan apa setelah menyelesaikan masa pendidikan di pondok pesantren?
Pertimbangan ini sangat penting karena antara satu pesantren dengan pesantren lainya pasti punya perbedaan kurikulum dan akan berbeda pula karakter lulusan yang dihasilkanya. Kalau ingin anak menjadi penghafal Al-Qur'an atau ulama yang menguasai kitab-kitab literatur keislaman, jangan tuntut anak menguasai sains dan memperoleh berbagai prestasi lain di saat bersamaan.
Jangan sampai seseorang menginginkan anaknya menjadi penghafal al-qur'an dan penerus estafet keilmuan dari para ulama, tapi di saat bersamaan merasa iri saat anak tetangga menjadi juara olimpiade dengan berbagai raihan piala.
(Penulis merupakan kader GP Ansor Kota Jambi)