CORONA - Pengingat untuk Sang Kecil

Musri Nauli
Istimewa
Musri Nauli
Pernulis: Super Admin

Oleh: Musri Nauli

“Jangan cium si Kecil. Dulu.. Cuci tangan.. Tunggu badan agak meningen”, kata sang istri mengingatkan.

“Cuci tangan dulu sebelum pegang si kecil”, kata sang istri kembali mengingatkan.

Entah mengapa “ajaran kuno” yang diajarkan sang nenek kemudian selalu diingatkan sang istri ketika pulang dari luar rumah. Saat mencium sang kecil.

Berbagai ajaran seperti “mencuci tangan”, “jangan mencium sang kecil” adalah ajaran sederhana ketika melihat sang kecil. Rindu tidak tertahan mesti “ikuti” kaidah tertib mengenai sang bayi.

Belum lagi, tradisi di Melayu Jambi yang selalu menyiapkan “tempayan besar” didepan rumah. Membersihkan tangan, membersihkan kaki sebelum memasuki rumah.

Semuanya kemudian “ilang” ditelan zaman. Semuanya kemudian “abai” terhadap pelajaran sederhana dirumah.

Ketika saya membaca protokol yang dikeluarkan berbagai lembaga yang merujuk dari protokol WHO, saya kemudian tersenyum. Mengapa “ajaran” yang dahulu begitu ketat kemudian dihilangkan ?

Mengapa WHO kemudian menetapkan protokol yang berangkat dari kehidupan sehari-hari.

Bukankah ajaran nenek moyang adalah “pergumulan” panjang dari tradisi yang diwariskan turun temurun. Tradisi yang cuma dipraktekkan tanpa “harus memerlukan penjelasan ilmiah. Tradisi yang dipraktekkan tanpa harus banyak bertanya.

Lalu ketika WHO kemudian menetapkan, bukankah Corona kemudian mengingatkan.

Kembali ke ajaran nenek moyang !!!

Terima kasih, Corona.

Engkau telah mengingatkan tentang “ajaran luhur”..

Mengembalikan tradisi untuk “cuci tangan” dan “membersihkan kaki dan tangan” dari luar rumah.

Salam hormatku kepada leluhur. Nenek moyang yang selalu mengajarkan.  Tradisi praktek tanpa suara.

Tidak salah kemudian saya kemudian mengingat Corona. Sang pengingat akan tradisi Melayu Jambi.

*Advokat tinggal di Jambi*