Di Balik Proklamasi Kemerdekaan (Peristiwa Rengasdengklok 1945)

Penulis: Jernih 1 - Rabu, 21 Oktober 2020 , 22:42 WIB
Suasana Perundingan Rengasdengklok
Istimewa/Dok. Sejarah
Suasana Perundingan Rengasdengklok


Oleh: Sita Dewi Kumala

Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Berita tentang kekalahan Jepang ini masih dirahasiakan oleh Jepang. Namun berita tersebut diterima melalui siaran radio di Jakarta oleh para pemuda yang termasuk orang-orang Menteng Raya 31 seperti Chaerul Saleh, Abubakar Lubis, Wikana. Pada Rabu, 15 Agustus 1945 sekitar jam 20.00 WIB.

Peristiwa Rengasdengklok merupakan salah   satu peristiwa yang sangat bersejarah   bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi salah satu faktor dimana Indonesia mencapai puncak kejayaanya pada masa itu. Jadi bagaimana peristiwa itu bisa terjadi?

Peristiwa Rengasdengklok dilatar belakangi karena adanya perbedaan pendapat antara golongan tua dengan golongan muda. Golongan tua seperti Ir. Soekarno dan Moh. Hatta menginginkan bahwa proklamasi didiskusikan terlebih dahulu dengan PPKI. Sedangkan golongan muda memaksa agar cepat-cepat diumumkan kemerdekaan, selain itu golongan muda tidak suka dengan PPKI yang tak ingin negara Jepang ikut campur dan tidak terpengaruh oleh Jepang.

Sebelum itu golongan pemuda telah mengadakan perundingan di salah satu lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan
hubungan
dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Hasil keputusan disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak oleh Soekarno karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI.

Ir. Soekarno dan Moh. Hatta memiliki wibawa yang besar dan karena itu golongan muda enggan mendekati mereka. Berdasarkan pernyataan Soekarno kepada Shudanco Sanggih bahwa Ir. Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah kembali ke Jakarta. Esok siangnya, Shudanco Sanggih kembali ke Jakarta dan menyampaikan berita kepada kawan-kawan
dan
golongan   muda   bahwa   Ir. Soekarno akan bersiap memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sementara itu di Jakarta sedang terjadi perundingan antara Perwakilan Golongan Tua (Achmad Subarjo) dengan Perwakilan Golongan Muda (Wikana). Mereka sepakat bahwa akan melaksanakan proklamasi di Jakarta, dan Laksamana Tadachi Maeda mengizinkan rumah kediamanya sebagai tempat perundingan dan menjamin keselamatan mereka.

Akhirnya  Ahmad Subardjo,   Sudiro,   dan Yusuf   Kunto   segera menuju Rengasdengklok. Rombongan tersebut tiba di Rengasdengklok pukul 17.30 WIB. Peranan Ahmad Subardjo sangat penting dalam peristiwa kembalinya Soekarno Hatta ke Jakarta, sebab mampu meyakinkan para pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan akan  dilaksanakan keesokan harinya paling lambat pukul 12.00 WIB. Nyawanya sebagai jaminan. Akhirnya Subeno sebagai komandan kompi Peta setempat bersedia melepaskan Soekarno Hatta ke Jakarta.

Ada bebrapa tokoh Pemuda yang berperan penting dalam peristiwa Rengasdengklok, yaitu Sukarni, Chaerul Saleh, Wikana, Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo, Adam Malik Batubara, Adam Malik Batubara, Sayuti Melik dan Latif Hendraningrat.

(Penulis merupakan Mahasiswi Semester 3 Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID