Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
Jika kita belum mampu menyisihkan harta untuk menyembelih hewan kurban, maka berbicaralah dengan diri sendiri, wahai diri: aku sembelihkan sifat sombongku, iri hatiku, kepurapuraanku, ketamakanku, kelancanganku, yang selama ini selalu merasa benar, selalu merasa pintar, selalu merasa berilmu.
Dikisahkan, Nabi Ibrahim as rutin berqurban binatang ternaknya, kambing, api, dan ekor unta. Masyarakat di sekitarnya begitu takjub dan berkata: “Wah Ibrahim hebat!”, Dengan tidak menunjukkan itikad sombong Nabi Ibrahim menjawab: “Hewan ternak ini biasa saja, seandainya aku dikaruniai putra, Ia akan aku Qurbankan.” (Riau.go.id)
Atas izin Allah SWT, Nabi Ibrahim pun dikaruniai seorang putra bernama Isma’il. Kehadiran putra yang didamba dambakan sehingga beliau lupa akan janji yang pernah diucapkan. Nabi Ibrahim pun ditegur oleh Allah dengan mimpi-mimpi yaitu untuk menyembelih putra tercinta Isma’il as.
Nabi Ibrahim menyakini mimpi itu bersumber dari Allah SWT, Ia segera ‘berdiskusi’ dengan dengan putranya Isma’il as. Tanpa keraguan sedikitpun, Isma’il pun patuh. Ketika pisau tajam akan diarahkan ke leher Isma’il, Malaikat Jibrail atas izin Allah SWT menggantikan Isma’il dengan seekor domba. Ismail pun selamat dan dombalah yang tersembelih.
Ketaatan dan kepasrahan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. adalah puncak kecintaannya kepada Allah SWT. Allah SWT lebih dicintai dari yang lain, termasuk yang paling dicintai, disayangi. Kecintaan ini timbul dari keyakinan yang kuat, hidup diserahkan semuanya untuk Allah SWT. Kalau sudah perintah Allah, semua diserahkan, dilakukan.
Setiap kita sebenarnya adalah Ibrahim. Ibrahim punya “Ismail”. Ismailmu mungkin keluarga, dan hartamu. Ismailmu mungkin kekasihmua dan jabatanmu. Ismailmu mungkin ilmu dan pengetahuanmu. Ismailmu mungkin ego dan kepintaranmu. Ismailmu adalah sesuatu yang kita bangga banggakan dan selalu selalu kita bela.
Hakikatnya, Nabi Ibrahim tidak diperintahkan untuk menyembelih ‘Ismail’, tetapi Allah meminta untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail (UII). Seolah olah kita sudah memiliki sesuatu, mempertahankan dan membela ‘mati matian’ padahal pada hakikatnya semua itu adalah titipan dan hanya milik Allah.
Hari raya kurban mengingatkan kita untuk selalu memuhasabahkan diri. Sebenarnya yang harus diperbaiki itu adalah diri kita, hati kita, sifat buruk kita, prasangka kita, perilaku kita, dan lisan kita. Kita melihat kesalahan orang lain, lihatlah diri kita terlebih dulu, bisa jadi kesalahan kita lebih banyak dari pada kesalah orang lain.
Jangan pernah menganggap diri lebih baik dari orang lain karena sejatinya hanya Allah yang paling tahu kita sebenarnya.
Apa yang dialami Nabi Ibrahim a.s puncaknya dirayakan sebagai hari raya kurban atau Idul Adha merupakan ‘rekaman peristiwa’ untuk mengingatkan kita bahwa yang harus dikorbankan bukanlah manusia akan tetapi sifat-sifat kebinatangan pada diri manusia seperti rakus, suka menindas yang lemah, ambisi/nafsu yang tak terkendali, kemalasan dan kebodohan, dsb.
Sifat tersebut mesti dihapuskan demi tercapainya ketaqwaan kepada Allah SWT. Allah SWT mengingatkan ” Daging dan darahnya sekali-kali tidak akan dapat mencapai (keridhaan) Allah tetapi ketaqwaanmu yang dapat mencapainya” (QS. 22.37).
Pesan simbolik dan tersirat dalam hari Idul Adha adalah kaum muslim yang sudah memiliki harta berkecukupan, sudah saatnya untuk berkurban. Berkurban itu sangat identik dengan kepedulian, atau kesalehan sosial. Kita memang diwajibkan memiliki kesalehan individu, seperti shalat, membaca Al-qur’an, zikir, berpuasa, dsb, tetapi akan lebih bermakna bila kita peduli dengan sesama.
Diakui, rasa kepedulian di era digital, ‘perasaan’ sudah peduli melalui media sosial sudah membuat kita ‘bahagia’. Padahal, itu hanya terjadi di dunia maya, dan secara hakikat ‘hubungan ini sama sekali tidak bisa dinikmati didunia nyata. Banyak ‘nitizan’ dengan sengaja mem-posting ‘makanan mewah’ di media sosial, itu sebenarnya ‘mengganggu’ paandangan mata pihak tertentu.
Untuk itu, diperlukan ‘suatu peringatan’, dan hari raya idul adha adalah tempat kita untuk menunjukan kepedulian sosial dan diimplementasi dalam ranah sosiologis di tengah masyarakat. Ini bertujuan untuk memacu kesadaran pada setiap orang agar kembali pada pesan-pesan takwa. Tepat sekali, apabila ibadah kurban ini dijadikan media untuk memupuk rasa solidaritas sosial ditengah kondisi masyarakat yang cenderung bersifat individualistik.
Pelajaran yang bisa dipetik pada hari raya idul kurban, pertama, saling menghargai, sekecil apapun masalah, mestinya dimusyawarahkan, dengan orang orang yang berkepentingan, jangan langsung diambil keputusan. Walaupun ini perintah Allah, Nabi Ibrahim tetap dibicarakan ihwal mimpi itu kepada anaknya, Nabi Ismail.
Keputusan diambil bersama sama, semua pihak harus diajak untuk berpartisipasi dalam mengambil kebijakan siapapun orangnya. Jangan sekali kali meremehkan orang orang ‘kecil’. Intinya adalah pemimpin wajib menganggap semua orang itu ‘penting’.
Percakapan dalam mengambil keputusan ‘penting’ harus dilakuan secara santun, transparan dan tentu dalam koridor arief dan bijaksana. Komunikasi dilakukan dua arah dan ‘membiarkan’ Nabi Ismail membuat keputusan sendiri tanpa paksaan.
Nabi Ibrahim menyampaikan perintah itu dengan bijaksana. Tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi, ancaman, Nabi Ibrahim tidak melaksanakan secara tiba tiba, atau menunggu Nabi Ismail melengah, kemudian diculik. Meskipun Ibrahim memiliki wewenang, kekuatan dan kekuasaan tetapi beliau tidak menggunakan potensiini agar anaknya bertekuk lutut di hadapannya. Perintah Allah diungkapkan dengan penuh keyakinan dan disampaikannya dengan transparan dengan argumentasi Ilahiah.
Kedua, saling berbagi adalah tujuan utama. Ibadah kurban bukan prosesi penyembelihan hewan, tetapi ini merupakan kesalehan sosial dalam wujud kepedulian dengan kaum dhuafa. Kepedulian ini ingin membagi ‘kebahagian’, sehingga semua orang akan merasakan nilai kebersamaan yang harus dilanjutkan.
Ketiga, ketaatan dengan Allah tak terganti oleh apapun. Secara manusiawi, dia adalah putra yang diimpikan bertahun-tahun, maka timbul pilihan dilematis: mempertahankan putra kesayangan atau patuh pada perintah-Nya yaitu menyembelih putranya. Namun dengan keteguhan iman, Nabi Ibrahim tetap konsisten menuruti perintah-Nya, atas izin Allah diganti dengan seekor domba.
Keempat, membuang sifat hewani. Memang yang disembelih itu hewan kurban, tapi pesan tersirat bagi kaum muslim, dengan tersembelihnya hewan tersebut, maka terbuan pula sifat sifar hewan yang kemungkinan ada dalam jiwa manusia: tamak, mau menang sendiri, tidak peduli, sombong, malas, selalu menyalahkan orang lain, dll.
Ya Allah, ampuni aku, sayangi aku, tutuplah aibku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, sehatkanlah aku, maafkan aku. Aaminn!
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)