JERNIH.CO.ID, Jambi - Kecintaan kepada Rasulullah senantiasa dirindukan setiap makhluq di dunia ini, ternyata bukan hanya manusia saja yang merindukan sosok manusia pilihan itu namun alampun ikut rindu kepdanya.
Sebagaimana kisah seorang budak bernama Tsauban sangat menyayangi dan hatinya selalu merindukan Rasulullah. Sehari saja tidak bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya. Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu. Kerana jika ia tidak bertemu Rasulullah, dia amat sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang Tsauban terhadap dirinya.
Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama denganmu disana. Kedudukanmu sudah tentu di surga yang paling tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di surga paling bawah atau yang paling mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke surga-Nya. Jika demikian, tentu saya tidak akan bertemu denganmu lagi.” (Lihat: Hilyatul Auliya’, Jilid: 1/365).
Rasulullah amat terharu mendengar perkataan Tsauban. Namun beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena balasan surga atau neraka bagi setiap hamba itu hak dan urusan Allah. Maka setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah yang berbunyi; “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang- orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS: An-Nisaa’: 69).
Maka bergembiralah engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.
Kalau tidak seperti Tsuban paling tidak kita seperti kayu berikut ini,
Dulu nabi menyampaikan khutbah di masjidnya sebelum dibangunkan mimbar bersandar pada sebatang pohon sehingga para sahabat bisa melihat Rasulullah.
Ketika di bangun mimbar baru, Rasulullah meninggalkan pohon kayu dan beralih ketika berkhutbah naik mimbar, tiba tiba para sahabat mendengar tangis rintihan seperti unta hamil yang hampir melahirkan, suara itu berasal dari kayu yang biasa di gunakan untuk berkhutbah, ia merintih karena tidak mau berpisah dengan Rasulullah, lalu Rasulullah turun dari mimbar barunya; lalu meletakkan tangannya di atas pohon tersebut dan berkata “apakah kamu mau di kuburkan disini dan engkau akan bersama ku disurga? mak diamlah kayu itu? (Lihat: Sahirul Layali Fi Riyadlil Jannah, Hal: 185).
Semoga kita umat yang senantiasa mencintai dan dirindukan oleh Rasulullah ShallAllahu ‘Alaihi Wa Sallam Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.