JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Mendengar istilah revolusi selalu orang mengaitkan dengan sebuah gerakan yang sifatnya cepat, tanggap, responsif dan mengikuti prosedur yang terstruktur untuk sebuah perubahan yang lebih baik.
Ada juga yang menggunakan konsep lain yang populer yakni reformasi, restorasi dan rekonstruksi. Semua istilah ini digunakan oleh para pihak sesuai dengan nalar dan persepsi masing-masing. Namun esensinya sama, yakni perubahan yang dilakukan pada individu, masyarakat kelompok, lembaga, sistem atau sebuah negara.
Dalam sejarah Islam, revolusi spiritual ditandai dengan turunnya wahyu kepada Rasulullah Muhammad SAW. Wahyu yang merupakan pesan-pesan Tuhan yang disampaikan oleh Malaikat Jibril untuk meberikan perubahan budaya dan peradaban masyarakat Arab saat itu, wabil khusus kaum Quraisy dan sekutunya.
Kaum Quraisy yang terkenal sebagai penguasa yang memiliki budaya dan peradaban "jahiliah", memegang peran penting dan posisi yang sangat strategis dalam komunitas bangsa Arab. Sehingga kekuatan fisik dan material merajalela dan dapat menguasai siapa saja dalam masyarakat.
Budaya dan peradaban jahiliah, tidak mengenal perikemanusiaan, mereka penyembah berhala dan tidak berperiketuhanan. Hidup dalam ego centris pribadi, ego kelompok, ego etnis dan ego kesukuan. Sehingga sistem hidup masyarakat, baik ekonomi, sosial budaya dan politik lebih pada kekuatan individu dan kelompoknya masing-masing. Yang besar memonopoli yang kecil, yang kuat menguasai yang lemah, begitulah kehidupan jahiliah.
Budaya dan peradaban jahiliah tidak ada keadilan sosial, tidak ada penegakan hukum, wanita dan anak-anak tidak ada perlindungan dan diperlakukan sewenang-wenang. Sistem Perbudakan merajalela, sistem persatuan dan kesatuan jauh dari kehidupan masyarakat.
Turunnya Al-Qur'an sebagai revolusi spiritual adalah membingkai budaya dan peradaban Arab menjadi beradab, manusiawi, dan berbasis theocentris yang berperikemanusiaan dan berperiketuhanan.
Perilaku jahiliah, dalam waktu hanya 22 tahun berubah menjadi perilaku Islam yang damai, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, mengembalikan esensi spiritual ilahiyah ketuhanan dalam kehidupan manusia yang telah hilang ditelan masa, sejak masa kerasulan sebelumnya. Simbol spiritualitas ini tersimpul dalam budaya dan peradaban yang disematkan atas dua negara suci Madinatul Munawwarah dan Makatul Mukarramah.
Semoga nuzul Qur'an yang dirayakan malam ini menggairahkan kembali umat Islam dunia untuk tetap hidup dalam damai, menebar keselamatan dan saling menjaga silaturrahim kemanusiaan dan yang lebih utama tetap dalam iman dan takwa kepada Allah SWT, agar semua kita terbebas dadi azab Allah di dunia dan akhirat.
Inilah janji Allah dalam QS. Al-'Araf ayat 96, Walau anna ahlal qura amanu wattaqau lafatahna alaihim barakatim minassamai wal ardhi (sekiranya penduduk suatu negeri beriman & bertakwa kepada Allah, pastilah Allah akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Allahuma aamiin.