Media Massa Sarana Efektif untuk Konsolidasi Internal Parpol dan Membangun Persepsi Publik

Penulis: Muhammad Sapii , Editor: Yusminardi - Rabu, 23 Maret 2022 , 18:28 WIB
Sigit Eko Yuwono saat menjadi narasumber di Rakorda MPO DPD I Golkar Provinsi Jambi
Muhammad Sapi'i/jernih.id
Sigit Eko Yuwono saat menjadi narasumber di Rakorda MPO DPD I Golkar Provinsi Jambi


JERNIH.ID, Jambi - DPD I Partai Golkar Provinsi Jambi bidang Media dan Penggalangan Opini (MPO), menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) yang digelar selama dua hari, 23-24 Maret 2022 di Sekretariat DPD I Golkar Provinsi Jambi.

Di Rakorda MPO DPD I Golkar Provinsi Jambi ini, Sigit Eko Yuwono menjadi salah satu narasumber sebagai pengamat media sosial dan kebijakan publik.

Dihadapan para peserta Rakorda MPO Sigit mengatakan, bahwa kalau dulu ada istilah mulutmu, harimaumu, sekarang jempolmu, harimaumu.

"Itu realita yang ada, banyak sekali hari ini kejadian hanya gara-gara tulisan berujung ke hukum karena terjerat UU ITE," kata Sigit, Rabu (23/3/2022).

Dirinya mengatakan bahwa hari ini kita berapada pada dunia teknologi dan internet secara signifikan membentuk cara kita berinteraksi, berprilaku, berpikir dan berkomunikasi sebagai manusia dalam lingkungan masyarakat.

"Dulu akses mendapatkan informasi sangat terbatas, kalau dulu kejadian bisa beberapa hari baru kita mendapatkan informasi, sekarang kejadian detik itu juga bisa kita ketahui melalui tayangan live," ujar Sekretaris DPD Ormas MKGR Jambi ini.

Dulu juga disampaikannya media massa punya peran besar sebagai medium penyampaian informasi, saat ini ada alternatif lain bagi publik mengakses informasi di luar media massa.

Kemudian internet membuka ruang untuk menjadi ruang publik untuk berinteraksi. Ruang publik paling nyata di internet terlihat dalam rupa media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain.

Solid atau tidaknya sebuah organisasi, dikatkaannya dapat diamati dari grup medsos organisasi tersebut. Kritik yang obyektif, konstruktif dan solutif sangat diperlukan untuk kemajuan dan untuk membesarkan organisasi termasuk partai politik (Parpol).

"Kedisiplinan, kedewasaan dan kebijaksanaan kader Parpol dalam bermedsos menjadi satu keniscayaan bagi kemajuan Parpol," katanya.

Tak hanya itu, Sigit juga memaparkan terkait dampak hoaks dan kiat menangkal mis-disinformasi. Ia mengungkapakan bahwa lebih dari sepertiga pengguna internet membagikan informasi tidak melalui kanal media sosial. Tapi lewat layanan perpesanan, forum, atau email.

"Lalu lintas saluran Dark Social tidak terdeteksi oleh software analisis web. Itulah mengapa cara berbagi tautan konten dengan cara ini diistilahkan 'sisi gelap'. Sementara berbagi konten via media sosial disebut sebagai bagian 'sisi terang'," ungkap Sigit.

Terhadap situs abal-abal, Sigit yang jugaKetua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jambi ini memberikan tips agar selalu mengecek alamat situsnya. Kemudian cek data perusahaan media di Dewan Pers, cek detail visual.

"Waspada jika terlalu banyak iklan, bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream, waspada dengan judul-judul sensasional, cek berita ke situs mainstream dan cek Google Reverse Image Search pada foto utama," terangnya.

Dipenghujung menjadi narasumber ini, ia berpesan agar bijak dalam bermedsos, manfaatkan medsos untuk hal-hal yang positif dan produktif untuk kepentingan pribadi dan organisasi.

"Jangan menebar hoaks, jangan reaktif, serta harus dapat memilah dan memiilih informasi," tutupnya.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID