Gita Ayu Stephanie Oleh : Githa Ayu Stephanie
Mohammad Toha atau sering dikenal dengan nama Toha ini merupakan anak yatim dari pasangan Suganda dan Nariah. Toha dilahirkan di Kota Bandung tepatanya didesa Suniaraja pada tahun 1927.
Selang dua tahun ia dilahirkan, ayahnya meninggal dunia. Sehingga Ibunya memutuskan menikah lagi dengan pamannya yaitu adik ayahnya sendiri. Tetapi pernikahan tersebut tidak berjalan lama dan keduanya memutuskan untuk berpisah. Pada akhirnya Toha diasuh oleh kakek dan nenek dari pihak ayahnya.
Pada umur tujuh tahun, Toha dimasukan ke Sekolah Rakyat dimana dia menginjak bangku sekolah hanya sampai kelas 4. Toha harus berhenti dikarenakan Perang Dunia kedua terjadi saat bersamaan dia melakukan pendidikan sekolah dasar.
Setelah berhenti sekolah Toha yang kesehariannya membantu kakeknya di Biro Sunda, akhirnya memutuskan bekerja disebuah bengkel motor yang dimiliki oleh seorang pasukan militer Jepang. Dari situlah awal Toha, mengenal dunia militer pada masa pemerintahan Jepang melalui Seinendan.
Seinendan merupakan sebuah organisasi militer yang dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Toha juga mempelajarai dan memperoleh kemampuan berbahasa Jepang sejak masuk organisasi tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, tahun 1945 Toha diangkat untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang diketuai oleh pamannya sendiri yaitu Ben Alamsyah. BRI selanjutnya digabung dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Benteng Republik indonesia (BBRI).
Toha sendiri menjabat sebagai Komandan Seksi I bagian Penggempur di badan perjuangan BBRI. Menurut pandangan dari paman dan juga tetangganya , Toha merupakan sosok pemuda yang cerdas, patuh terhadap orangtua, memiliki disiplin yang kiat dan sangat pandai bergaul sehingga Toha memiliki banyak teman disekitarnya.
Pada tahun kemerdekaan, Toha digambarkan sebagai laki-laki yang pemberani dengan tinggi 1,65 cm, bermuka lonjong dengan pancaran mata yang tajam.
Pada tangal 24 Maret 1946, masyarakat Bandung melakukan aksi pembumihangusan atau membakar Kota Bandung yang sekarang dikenal dengan Bandung Lautan Api dengan sengaja sebagai bentuk perlawanan terhadap para penjajah atau sekutu Belanda yang datang ke Bandung untuk menyerahkan segala isi wilayah dan tumpah darah Bandung ke tangan Belanda.
Dalam peristiwa ini Mohammad Toha dan dua anggota BRI ikut andil dalam melakukan aksi perjuangan mempertahankan Kota Bandung. Toha mendapat misi atau tugas mengahancurkan gedung amunisi (gudangnya senjata). Toha berhasil meledakan gudang tersebut dengan dinamit.
Setelah itu Toha dan anggota lainnya melakukan peledakkan Gedung Mesui. Ledakan yang kuat dan dahsyat itu terjadi ketika siang hari pada tanggal 11 Juli 1946 setelah peristiwa Bandung Lautan Api.
Warga sangat terkejut ketika melihat asap yang mengepul tinggi sangat besar dan hitam pekat dilangit Daehyukolot hingga ke Majalaya. Dari semua pejuang yang selamat, hanya Toha yang ditinggal dalam luka tembakan.
Kabar peledakan Gedung Mesui itu cepat menyebar dan ternyata Toha dikabarkan bahwa jasadnya tidak ditemukan pada saat kejadian peledakan itu.
Dalam peristiwa inilah Mohammad Toha diyakini gugur ketika melakukan peledakan di Gedung Mesui tebesar di Daehyukolot. Aksi pengorbanan pemberaninya ini membuat maskayarat kota Bandung membuat monumen patung setengah badan Mohammad Toha yang dibuat diatas tempat bekas gedung mesui yang diledakannya.
(Penulis merupakan Mahasiswi Universitas Jambi Fakultas FKIP Prodi Ilmu Sejarah)