Munajat Kebangsaan dan Pengukuhan MUI: Simbol Kebangkitan Peradaban Islam di Dunia Global

Penulis: Redaksi - Ahad, 08 Februari 2026 , 18:14 WIB
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd
Dok pribadi
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd


​Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd

Pendahuluan

​Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi catatan sejarah yang monumental bagi bangsa Indonesia. Masjid Istiqlal Jakarta menjadi lautan putih, dihadiri sekitar 88.000 jemaah yang larut dalam khidmat zikir, shalawat, dan Munajat Bangsa sejak fajar hingga Zuhur. Peristiwa ini menandai Pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Periode 2025–2030, sebuah agenda yang bukan hanya seremoni organisasi, melainkan sebuah proklamasi spiritual dan intelektual tentang arah baru peradaban Islam di panggung global.

MUI Sebagai Pilar Strategis Keumatan dan Kebangsaan

​Dalam sambutannya yang menggetarkan, Presiden menegaskan bahwa MUI adalah pilar keumatan dan kebangsaan yang selalu hadir dalam setiap denyut nadi keumatan dan kebangsaan. MUI secara konsisten telah membuktikan komitmennya sebagai pengemban pilar ke Indonesiaan serta pengawal kerukunan bangsa. Peran strategis ini ditegaskan melalui dua fungsi utama: Khodimul Ummah (Pelayan Umat) dan Shodiqul Hukumah (Mitra Strategis Pemerintah).

​Suasana sangat mengharukan dan membanggakan adalah pernyataan presiden dalam sambutannya, sebagai bentuk apresiasi negara, Presiden menghibahkan tanah seluas 4.000 meter persegi di kawasan elite Bundaran HI. Di atas lahan strategis tersebut, akan dibangun Gedung Menara MUI setinggi 40 lantai. Langkah ini merupakan simbol nyata bahwa MUI adalah wadah terhormat bagi para kiai, ulama, zuama, akademisi serta cendekiawan lintas disiplin untuk merumuskan solusi atas tantangan zaman.

Pandangan Pakar: Proyeksi Kebangkitan Peradaban Islam 2045-2070

​Kebangkitan Islam yang disimbolkan melalui pembangunan Menara MUI ini selaras dengan kajian futuristik global mengenai pergeseran episentrum peradaban dunia. Sejumlah pakar dan lembaga riset internasional menempatkan Indonesia sebagai lokomotif utama dalam lini masa kebangkitan tersebut:

1. ​Transformasi Georeligius (Pew Research Center): Laporan "The Future of World Religions" (2015) memproyeksikan bahwa pada tahun 2070, Islam akan menjadi agama dengan pemeluk terbesar di dunia. Lonjakan populasi yang berkualitas di Indonesia menjadi modal utama dalam memimpin diskursus peradaban Islam global.

2. ​Pergeseran Kekuatan Ekonomi (Jim O'Neill & PwC): Jim O'Neill dalam "The Growth Map" (2011) serta laporan PriceWaterhouseCoopers (2017) memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu dari lima raksasa ekonomi dunia pada tahun 2045. Kemandirian ekonomi ini adalah prasyarat bagi tegaknya kedaulatan peradaban Islam yang modern.

3. ​Rekonsiliasi Wahyu dan Sains (M. Umer Chapra): Dalam tesisnya mengenai pembangunan berbasis Maqasid al-Shari'ah (2008), Chapra menekankan bahwa kebangkitan peradaban Islam abad ke-21 bergantung pada kemampuan umat mengintegrasikan nilai agama dengan kemajuan sains, sebuah visi yang kini diwadahi oleh kehadiran Menara MUI.

Isyarat Kebangkitan Peradaban Islam Dunia Global

​Bangunan megah 40 lantai yang dipersembahkan Presiden di awal tahun 2026 ini bukan hanya pencapaian arsitektural, melainkan isyarat kuat mengenai kematangan peradaban. Angka 40 dalam tradisi Islam melambangkan usia kematangan sempurna. Ini menjadi sinyal bahwa pada tahun 2045 dan puncaknya di tahun 2070, peradaban Islam tidak lagi berada di pinggiran sejarah, melainkan menjadi penentu arah kebijakan dan etika global. Indonesia, melalui sinergi ulama dan umara, kini menjadi laboratorium peradaban yang memadukan spiritualitas, intelektualitas, dan kemajuan material secara harmonis.

Penutup

​Munajat Kebangsaan di Istiqlal Jakarta, dan rencana beaar pembangunan Menara MUI di pusat jantung ibu kota adalah bukti nyata bahwa fajar peradaban baru telah menyingsing dari Nusantara. Dengan spirit kebersamaan yang ditunjukkan oleh 88.000 jemaah dan komitmen kuat negara, Indonesia siap memandu dunia Islam menuju kejayaan global yang inklusif dan Rahmatan lil 'Alamin.

(Penulis merupakan Dewan Pertimbangan MUI Pusat-Ketua Bidang Pendidikan PKU MUI Provinsi Jambi)

​Refrensi Pendukung

1. ​Chapra, M. Umer. (2008). The Islamic Vision of Development in the Light of Maqasid al-Shari'ah. London: International Institute of Islamic Thought (IIIT).

2. ​Hefner, Robert W. (2000). Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton: Princeton University Press.

3. ​O'Neill, Jim. (2011). The Growth Map: Economic Opportunity in the BRICs and Beyond. New York: Portfolio/Penguin.

4. ​Pew Research Center. (2015). The Future of World Religions: Population Growth Projections, 2010-2050. Washington D.C.

5. PriceWaterhouseCoopers (PwC). (2017). The Long View: How will the global economic order change by 2050?. London: PwC Reports.(*/JR2)​



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID