Sabet Perak Asian Games 2026: Atlet Dayung Asal Jambi Letda M. Ali Mardiansyah Disambut Hangat di Kampung Halaman

Penulis: Redaksi , Editor: Ardy - Ahad, 27 September 2026 , 12:31 WIB
Letda M. Ali Mardiansyah disambut hangat di kampung halaman Letda M. Ali Mardiansyah disambut hangat di kampung halaman


JERNIH.ID, JAMBI - ​Prestasi membanggakan kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Atlet dayung andalan asal Jambi, Letda M. Ali Mardiansyah, sukses mempersembahkan medali perak dari ajang prestisius Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.

​Kepulangan sang pahlawan olahraga ini pun disambut meriah setibanya di Bandara Sultan Thaha Jambi. Wakil Ketua KONI Provinsi Jambi Prof. Dr. Sukendro bersama Ketua Umum PODSI Provinsi Jambi Raden Wawan Setiawan turun langsung menyambut kedatangan Ali beserta jajaran pengurus. Penyambutan hangat ini menjadi wujud apresiasi atas kerja keras Ali yang sukses mengibarkan Merah Putih di pentas olahraga Asia.

​Tampil di nomor Lightweight Men's Double Sculls berpasangan dengan Rafiq Wijdan Yasir, Ali mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya hingga berhasil mengamankan posisi kedua dan meraih medali perak.

​Di balik kesuksesan tersebut, Ali menyimpan banyak cerita berkesan selama berada di Jepang. Mulai dari keramahan panitia, penyambutan yang luar biasa, hingga fasilitas akomodasi unik menggunakan kapal pesiar. Menariknya, kehadiran banyak awak kapal dan pekerja restoran asal Indonesia membuat Ali merasa seperti berada di rumah sendiri.

​"Selama di kapal pesiar, kebanyakan awak kapalnya, orang yang memasak dan di restoran banyak orang Indonesia. Jadi kita merasa seperti pulang ke kampung sendiri," ujar Ali, Minggu (27/9/2026).

​Perjalanan Ali meraih podium juara tidak diraih dengan mudah. Perubahan jadwal pertandingan akibat ancaman cuaca buruk dan badai memaksa panitia menggeser jadwal dari 21 September menjadi semifinal pada 23 September dan final pada 24 September.

​Perubahan mendadak ini menjadi ujian fisik dan mental tersendiri bagi atlet kelas ringan. Ali harus menahan rasa lapar lebih lama demi menjaga berat badan ideal menjelang proses penimbangan yang diundur hingga siang hari.

​"Biasanya kalau sesuai jadwal kelas ringan lomba sekitar jam sepuluh pagi. Karena jadwal berubah, kita harus menahan berat badan lebih lama. Timbang berat badan baru sekitar jam dua siang, jadi dari pagi sampai siang kita tahan makan," ungkapnya penuh syukur.

​Meski persaingan di kelas ringan tergolong sangat ketat melawan atlet-atlet dunia yang memiliki jam terbang tinggi di Eropa, Ali dan tim tidak Ciut nyali. Keterbatasan fasilitas dan minimnya kesempatan try out justru dibakar menjadi motivasi ekstra untuk memantau kekuatan lawan dan membuktikan bahwa atlet nasional mampu bersaing di level tertinggi.

​"Kita tidak berkecil hati. Kita jadikan itu motivasi lebih untuk memantau lawan-lawan kita," tegasnya.

​Puas menorehkan sejarah di Jepang, Ali langsung memasang target baru yang lebih tinggi. Ia kini bersiap menatap babak prakualifikasi Olimpiade Los Angeles dan bersiap kembali menjalani pemusatan latihan nasional (Pelatnas) bersama tim dayung Indonesia.

​Dukungan penuh turut disuarakan oleh KONI Provinsi Jambi. Prof. Sukendro menilai pencapaian gemilang ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan cabang olahraga dayung di Jambi berjalan sukses dan siap menjadi barometer prestasi menuju Pra-PON 2027 dan PON 2028. Hal senada juga disampaikan Ketua Umum PODSI Jambi, Raden Wawan Setiawan, yang berharap prestasi dunia ini melecut semangat para atlet muda daerah untuk terus mengharumkan nama bangsa.(*/JR2)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID