Saling Memaafkan

Penulis: - Ahad, 17 Juni 2018 , 18:11 WIB


JERNIH.CO.ID, Jambi - Memaafkan adalah sikap kita melepaskan segala sangkut paut orang lain dengan kita, baik berupa salah, khilaf, lupa, atau unsur kesengajaan berupa kezaliman bahkan kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap kita.

Sangat berat memberi maaf, jika kita ingat kezaliman atau kejahatan orang yang dilakukan terhadap kita. Namun disitulah ukuran iman dan takwa seorang hamba manusia, dihadapan manusia lainnya dan terhadap Allah.

Di situ pula beda ukuran kemulyaan dan kemormatan kita dengan orang lain, terletak dari ikhlasnya dia memaafkan orang lain. Bahkan Rasulullah pernah mengadili beberapa orang bertikai, dan kesudahannya rasulullah katakan siapa yang memaafkan, Allah bangun untuknya Istana di surga.

Begitu agungnya seorang pemaaf terhadap saudaranya yang telah bersalah atau melakukan kesalahan. QS. Ali Imran ayat 133, "wal 'afina 'anin nas" dari awal ayat dikatakan, dan orang yang bertakwa adalah orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan dalam QS. Al-A'raf ayat 199, lebih tegas Allah perintahkan kita "khudzi al'afwa" jadilah engkau pemaaf".

Semua ayat yang bicara tentang maaf dalam Al-Qur'an tidak ada perintah atau seruan meminta maaf, tapi semua adalah menyuruh kita memaafkan. Hal ini disebabkan fitrah manusia sama dengan fitrah Allah yang berpadu dalam agama Islam yang lurus (hanifa).

Karakter Allah adalah pemaaf, dan Allah tidak pernah meminta maaf kepada hambanya manusia atau makhluk lainnya, karakter memberi dan mengikhlaskan adalah karakter sangat mulya dan sangat terhormat, sedangkan karakter peminta adalah karakter rendahan, kita hanya boleh meminta kepada sang Khalik Allah SWT. Pemilik segalanya, sang maha kaya. Bukan meminta kepada sesama manusia yang lemah dan tak berdaya, apalagi meminta dengan memelas dan mengemis, sehingga melemahkan posisi kemanusiaan.

Sesuai dengan asal katanya, maaf berasal dari kata 'afw yang bermakna menghapus atau lebih populer dengan makna memberi maaf, ada padanan kata lain
al-ashafh yang bermakna lapang atau lembaran baru.

Jadi sikap saling memaafkan adalah kita saling menghapus kesalahan saudara kita baik besar maupun kecil, dengan saling berlapang hati atau ikhlas, selanjutnya kita membuka lembaran baru, dengan hati yang bersih, tiada lagi dendam kesumat, tiada sakwasangka yang buruk (sudzan), tiada lagi beban di dada yang membikin perih, pedih dan sedih akibat sakit hati karena masih terganjalnya kesalahan orang lain yang bermukim di dada.

Belajarlah memaafkan, walau berat, tapi hanya cara itu Allah akan ampuni kita semua. Artinya saling lepaskan sangkut paut hati dan pikiran dengan sesama dengan saling memaafkan, barulah Allah angkat dosa kita. QS. An-Nur ayat 22, Allah mengingatkan kita: "Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?”. Memaafkan sesama ternyata adalah kunci utama Allah akan maafkan kita semua.

Idul fitri yang kita jalankan di bulan Syawal, adalah upaya kita mengembalikan sejatinya diri menjadi fitrah, dan Allah belum buka pintu ampunan sebelum kita saling memafkan saudara kita yang masih terpaut soal dengan kita, dan sebaliknya mereka juga tidak diampuni Allah sebelum mereka memaafkan kita. Betapa pentingnya dan tingginya nilai saling memaafkan di sisi Allah. Karena memaafkan adalah karakter Allah atau sifat Allah yang harus ada dalam tiap diri manusia, agar menjadi mulya dan bermartabat, dan posisi itulah fitrah manusia produk Ramadhan mubarak. Salam Syawal.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID