JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Mudik lebaran adalah sebuah tradisi yang terjadi pada masyarakat rantau, di manapun di belahan bumi dunia. Mudik lebaran difahami juga pulang ke kampung halaman tempat tanah kelahiran, baik pribadi atau suami dan istri.
Mudik lebaran berlangsung secara khusus pada momen hari besar nasional, hari besar agama, atau hari-hari terjepit yang memungkinkan orang memanfaatkan waktu pulang ke kampung.
Dilihat dari tujuannya mudik lebaran adalah untuk melakukan silaturrahim dengan orang tua, saudara, sanak kerabat yang masih ada dikampung halaman, bahkan juga momen yang indah mengenang masa lalu, masa kecil yang penuh dengan suka duka.
Tiada keindahan perjalanan hidup seseorang tanpa kenangan masa lalu, masa lalu adalah motivasi atau dorongan, masa kini adalah capaian, masa depan adalah ikhtiar kemenangan.
Dalam Islam mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan jauh dikenal dengan "safar atau safari". Sangat dianjurkan, bahkan diatur sedemikian rupa, dalam sebuah HR. Abu Daud, Rasulullah mengingatkan agar jangan berjalan "safar" mudik sendiri atau berdua, karena itu perjalanan setan, tapi harus rombongan minimal bertiga.
Dalam HR. Tarmizi juga Rasul mengingatkan, agar ketika bepergian 3 orang, hendaklah menjadikan salah seorang sebagai pemimpin. Bahkan dalam safar atau berjalan, HR. Abu Daud mengatakan hendaklah tidak ngebut, tuntun mereka yang lemah sambil doakan keselamatan diperjalanan.
Begitu eloknya tuntunan mudik lebaran, selain silaturrahim yang akan dibangun tentu banyak manfaat lain, seperti adanya dinamika ekonomi bahkan dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekononi dan kesejahteraan masyarakat dikampung, karena tiap mereka yang pulang kampung, kantongnya pasti tebal, karena sudah nabung setidaknya minimal tiga bulan sampai satu tahun. Maka pada saat mudik orang akan menumpahkan uangnya dikampung baik untuk konsumtif bahkan ada juga yang membeli aset harta di kampung halaman.
Makna lain mudik lebaran dapat pula bermanfaat dalam pencerahan pemikiran, wawasan, budaya dan bahkan keagamaan. Karena kepulangan orang-oranag ke kampung, terdapat mereka yang terdidik bahkan para ilmuwan dan ulama, maka adalah kesempatan yang baik saling berbagi dengan masyarakat di kampung dalam hal keilmuan.
Terlepas dari berbagai kepentingan mudik lebaran, hakikinya adalah menghubungkan tali kasih, tali rindu, tali persahabatan. Siapa yang menghubungkan tali kasih Allah akan hubungkan kasih dengannya. "la yadkhulul jannnah qaathi'urrahim" Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat (tali rahim). Rahim adalah rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, siapa yang menjaganya, dia mendapat rahim Allah.
Selamat mudik lebaran, selamat memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan desa, selamat memberi pencerahan dan membingkai religiousitas masyarakat desa. Semoga bahagia di masa mudik lebaran. Salam Lebaran.