Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
Kita sudah memasuki 10 hari ketiga puasa Ramadan kali ini. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah, "Awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya 'Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)." (NU)
Amalan 10 hari terakhir Ramadan menjadi penting, sebab Nabi Muhammad SAW menjadikan 10 hari terakhir di bulan puasa sebagai yang terfavorit karena merupakan fase pembebasan dari api neraka. Artinya, umat Muslim tidak boleh kendor dalam beribadah meskipun sudah memasuki akhir Ramadan.
Agar ‘kekendoran’ ibadah tidak terjadi, sebagai orang yang berpuasa, kita seharusnya mengidentifikasi ‘capaian’ ibadah puasa kita selama bulan ramadan kali ini. Kita harus mengenal Kurikulum Merdeka Ramadan ini diperuntukan khusus bagi orang beriman sebagai langkah mentransformasi pendidikan demi terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertaqwa.
Kurikulum ini menggabungkan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana ibadah akan lebih optimal agar orang yang berpuasa memiliki waktu dan tenaga untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi ‘taqwa’ sebagai orang yang beriman dan disusun lebih fleksibel dengan tetap mengedepankan pada ibadah esensial dan pengembangan karakter orang yang berpuasa.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan ibadah puasa yang menyenangkan, relevan, dan mendalam diperlukan indikator Capaian pembelajaran (CP). Capaian pembelajaran merupakan sekumpulan kompetensi yang terdiri dari sikap dan performa yang harus capai oleh orang yang berpuasa yang disusun secara komprehensif dalam bentuk pemahaman, pemikiran dan perbuatan nyata.
Capaian pembelajaran terdiri dar kompetensi yaitu kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dapat didemonstrasikan oleh ‘orang yang berpuasa’ yang menunjukkan orang itu telah berhasil mencapai nilai taqwa; dan konten yaitu ibadah esensial dan utama yang wajib, sunat dikerja selama menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Setelah memahami capaian pembelajaran, orang yang berpuasa dengan sendiri menemukan ide-ide tentang ibadah apa saja yang harus dilakukan dalam satu fase Ramadan. Dampak dari ibadah ini akan dirasakan oleh diri sendiri dalam bentuk ketenangan, kebahagiaan, dll, tapi juga berdampak pada orang lain: orang akan merasa nyaman, terbantu dll. Dengan adanya keberadaan kita.
Capaian pembelajaran tidak sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi meningkatkan kualitas jiwa kita agar menjadi lebih terkendali dalam mengelola hawa nafsu, menghindar dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat (antara.com).
Ketidakmampuan kita mengendalikan perbuatan akan menyebabkan penyakit batin. Imam Ghazali menyebutkan di antara penyakit batin itu antara lain : pemarah, pendendam, sulit memaafkan, iri dengki, serakah, pelit, egois, ujub, riya’, sombong, berbohong, bergunjing dan fitnah. Di sini kita bisa berlatih keteguhan jiwa dalam suasana krisis.
Materi dalam kurikulum Ramadhan adalah kehidupan manusia. Sebab puasa mengajarkan banyak hal tentang kehidupan manusia. Kehidupan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Puasa mengajarkan kita untuk berlapar-lapar dan menghindari nafsu seksual tujuannya adalah kita mampu berkomunikasi dengan Allah SWT (kompasiana).
Oleh karenanya, setidaknya ada lima materi pokok, yang mesti diajarkan dalam madrasah ramadhan tersebut seperti yang disampaikan oleh Umar bin Abdullah al-Muqbil, yaitu:
Pertama, tarbiyah ruhiyah (pembinaan spritual), ramadhan merupakan media yang paling tepat untuk memperbaiki ruhiyah. Karena puasa ramadan akan memfokuskan diri dalam beribadah, karakter ‘lapar dan haus’ akan membuat orang berpuasa lebih khusu’ dalam mengejar pahala, berbuat baik sesama manusia. Dan ini merupakan ‘latihan’ membentuk rohaniyah yang lebih dekat dengan Allah SWT.
Kedua, tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani), banyak pihak menyatakan bahwa puasa merupakan ‘kekuatan’ untuk sehat. Jangan heran bila dokter ingin melakukan ‘tindakan’ medis yang lebin serius, maka pasien diminta untuk puasa. Ternyata untuk sehat, sebenarnya kita bisa puasa. Rasulullah saw bersabda : “Shumu Tashihhu; Puasalah niscaya kamu akan sehat” (HR. al-Thabrani).
Rasulullah juga bersabda :”Perut adalah rumah penyakit, dan pengaturan makanan adalah obat utamanya.” (Sahih-Muslim). Ini mengindikasikan bahwa makanan yang kita isi ke dalam perut kita memberikan dampak bagi kesehatan kita. Proses pengolahan makanan di perut kita tiada henti selama 11 bulan, maka dalam bulan puasa ‘mesin pengolah’ makanan istirahat sejenak untuk ‘bekerja’
Ketiga, tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial), hal paling mendasar ibadah puasa adalah kesadaran umat bahwa kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Disini ditumbuhkan rasa kepekaan, kepedulian dan interaksi tidak hanya melalui komunikasi tapi yang paling penting interaksi dalam bentuk sedekah, infak, zakat, dll.
Keempat, tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlak). Puasa melatih kita untuk berakhlak mulia dan terpuji. Ini mesti ditunjukkan melalui komunikasi lisan, perbuatan dan pemikiran. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: “Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela atau dimusuhi orang lain, katakanlah, aku ini sungguh sedang berpuasa”.
Kelima, tarbiyah Qiyadiyah (pembinaan kepemimpinan). Puasa itu menyadarkan kita akan pentingnya kepemimpinan. Pada dasarnya, semua kita pemimpin. Dalam kepemimpinan juga terkandung ketaatan. Dengan nilai kepemimpinan, kita akan diarahkan menjadi pribadi yang bijak dalam memimpin.
“Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu.Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR Muslim).
Sepuluh hari terakhir ramadhan adalah masa yang paling menentukan. Secara duniawi, amal perbuatan ditentukan oleh hasil akhir, bagaimana kita mengakhiri bulan suci ini. Sepuluh hari terakhir ramadhan diyakini waktu datangnya lailatul qadar. Malam lailatul qadar adalah salah satu malam yang paling mulia sebab Allah SWT, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Dengan modal target mendapat ‘gelar’ taqwa ini Allah swt, senantiasa memberi waktu dan kekuatan untuk tetap semangat beribadah sedang berada fase ketiga, yaitu dijauhkan dari siksa api neraka. Walau harus disadari, sebagian dari sudah mengalihkan ‘perhatian’ ke baju baru, kue dan minuman. Wallahu a'lam bish-shawab!
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)