Fadli Zon kunjungi Museum Sriwijaya Dharmakirti Jambi JERNIH.ID, JAMBI — Menteri Kebudayaan Fadli Zon melakukan kunjungan kerja sekaligus meresmikan Museum Sriwijaya Dharmakirti di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi. Dalam lawatannya, ia secara tegas mengklaim museum situs budaya tersebut sebagai yang terbesar di Indonesia, bahkan melampaui skala fasilitas serupa di Candi Borobudur maupun Candi Prambanan.
Fadli Zon mengungkapkan, ukuran masif tersebut sangat selaras dengan luas KCBN Muaro Jambi yang membentang hingga hampir 4,000 hektare. Kawasan ini memikul tanggung jawab besar untuk merepresentasikan kejayaan sejarah peradaban Nusantara di mata dunia.
"Museum Muaro Jambi ini mungkin merupakan museum yang terbesar di antara situs-situs budaya kita. Bahkan lebih besar dari museum yang ada di Candi Borobudur dan lebih besar dari museum di Candi Prambanan," ujar Fadli Zon saat meresmikan museum tersebut di KCBN Muaro Jambi, Jumat (31/7).
Selama kunjungannya, pemerintah mencatat KCBN Muaro Jambi sebagai salah satu lanskap arkeologi paling vital di Tanah Air. Menempati area seluas 3,981 hektare, kawasan ini melintasi delapan desa serta menyimpan lebih dari 100 struktur arkeologi. Mulai dari kompleks percandian, menapo, kanal, kolam kuno, hingga jejak permukiman masa lampau berdiri kokoh di sana.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Muaro Jambi berkembang pesat sebagai pusat agama, pendidikan, kebudayaan, dan pertukaran ilmu pengetahuan era Melayu-Sriwijaya sejak abad ke-7 hingga abad ke-14. Kawasan strategis ini dulunya menghubungkan Nusantara secara langsung dengan India, Tiongkok, Tibet, dan berbagai negara Asia Tenggara.
Bahkan, pemerintah meyakini Muaro Jambi layak menyandang status sebagai pusat pendidikan tertua di dunia. Keyakinan ini merujuk pada temuan prasasti tembaga Raja Balaputradewa yang merekam hubungan erat antara Kerajaan Sriwijaya dan Universitas Nalanda di India.
"Kalau Nalanda dikenal sebagai perguruan tertua di dunia, maka Muaro Jambi seharusnya lebih tua. Tempat ini sudah menjadi pusat pembelajaran jauh sebelum itu," tegasnya.
Dalam agenda kunjungannya, Fadli Zon mendorong pengelolaan museum agar tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menyimpan benda purbakala mati. Ke depan, pengelola wajib menjadikan museum sebagai etalase peradaban bangsa yang dikelola secara profesional lewat riset mendalam dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pihaknya turut mengarahkan penerapan teknologi digital secara masif di dalam area museum. Langkah pembenahan ini mencakup penyediaan pusat suvenir, restoran representatif, serta fasilitas pendukung lain guna menarik minat generasi muda serta wisatawan mancanegara.
Kehadiran Museum Sriwijaya Dharmakirti bersama KCBN Muaro Jambi diharapkan menjelma menjadi pusat penelitian dunia, ruang kebudayaan inklusif, sekaligus motor penggerak ekonomi warga lokal melalui sektor pariwisata budaya.
Pemerintah menargetkan Muaro Jambi bertransformasi menjadi living heritage—sebuah situs sejarah yang hidup, dinamis, dan rutin menarik kunjungan masyarakat global, khususnya umat Buddha lintas negara. Potensi besar wisata religi dan sejarah ini memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk realisasi peningkatan status Bandara Jambi menjadi bandara internasional.
"Muaro Jambi memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Tugas kita sekarang adalah menjaga, mengembangkan, dan menjadikannya sebagai pusat peradaban dunia yang memberi manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.(*/JR2)