Hebat Bermartabat: Sebuah Analisis Pragmatik

Penulis: Redaksi - Jumat, 01 Januari 2021 , 15:14 WIB
Amril Ikhsan
Istimewa
Amril Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Dalam rangka pelaksanaan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama (Kemenag) RI ke- 75 Tahun 2021, tgl. 3 Januari, Ada slogan yang tetap relevan untuk dibahas: “Madrasah Hebat Bermartabat” , walaupun slogan ini telah di-launcing tahun 2018.

Slogan ini menunjukkan Kemenag sudah menunjukkan identitas, ciri khas kepada masyarakat. Kemenag sudah mengutarakan pendapat dan pandangan, mendeskripsikan bagaimana profil madrasah ke depan, sehingga tidak mengherankan apabila slogan ini mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan.

Menurut KBBI (2008:480) slogan merupakan tuturan, perkataan, atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk memberi tahu atau menjelaskan tujuan suatu ideologi golongan, organisasi atau instansi, dan sebagainya.

Tuturan dalam slogan bertujuan untuk menyampaikan informasi berupa visi, misi, dan tujuan dari pemilik slogan, sehingga akhirnya menimbulkan tindakan tertentu dari penerima slogan tersebut dan bentuk tuturannya memililiki karakteristik yang berbeda dengan bentuk tuturan lainnya. Madjadikara (2004:252) menyatakan bahwa slogan merupakan fenomena penggunaan bahasa yang berbeda dengan penggunaan bahasa pada jenis komunikasi lainnya.

Slogan bertujuan untuk mempengaruhi khalayak dengan menggunakan kalimat yang menarik dan mudah diingat (Suyanto, 2005: 145) bukan hanya sekedar sebuah pernyataan singkat atau kalimat pendek yang terlepas dari konteksnya. Melalui sebuah slogan yang mempunyai ciri khas, keunikan, dan daya tarik, akhirnya masyarakat memahami tujuan yang dimaksud dalam slogan tersebut.

Dengan slogan itu, madrasah diharapkan bisa menjadi yang terbaik. Makna hebat tidak lagi dilihat dari bentuk bangunan saja, tapi tercermin pada siswa lulusan madrasah, hebat dalam gurunya mengajar, hebat dalam menyalurkan ilmunya ke masyarakat, hebat prestasi, hebat kualitas siswa dan hebat dalam tata kelola kelembagaan. Sedangkan martabat, menurutnya identik dengan pembangunan karakter peserta didik guna menghasilkan siswa yang berakhlakul karimah.

“Madrasah Hebat Bermartabat” adalah madrasah yang menampilkan sesuatu yang unik, maju dan berbeda. “Hebat bukan berarti harus ‘besar’, tetapi sesuatu yang tidak biasa bagi madrasah atau sekolah di sekitarnya. Memiliki keunggulan lokal atau keunikan-keunikan tertentu, dengan demikian madrasah akan menjadi pilihan masyarakat. (duta.co)

“Madrasah Hebat Bermartabat” yang diucapkan akan menimbulkan sebuah tindakan dari penutur maupun mitra tutur. Karena dalam ujaran selalu memiliki maksud tertentu yang melatar belakangi ujaran, maksud itulah yang dapat menimbulkan pengaruh tertentu terhadap orang lain (Yule, 2006).

Untuk meningkatkan kinerja, memang diperlukan sebuah slogan yang dinilai pas untuk menggairahkan semangat kerja. Banyak lembaga yang sukses, lantaran menggunakan slogan yang unik dan menginspirasi aparatur. slogan ini adalah kesimpulan akhir dari makna suatu pesan, dan menjadi “jiwa” dari sebuah lembaga, slogan biasanya dituliskan dalam bahasa yang sangat mudah diingat. (Harjanto, 2009).

Slogan “Madrasah Hebat Bermartabat” dipercaya bertujuan untuk menyatukan persepsi guru madrasah Kemenag sebagai pelayan masyarakat. Artinya, apapun yang dikerjakan warga madrasah harus membangga masyarakat, tidak boleh ada keluhan, beban pada masyarakat yang dilayani.

Dalam pragmatik, tuturan ‘Hebat Bermartabat’ tidak hanya sekedar diucapkan, tetapi mengandung makna komunikatif yang tinggi. Austin mengatakan ada tiga jenis tindak tutur dalam setiap tuturan (baca- slogan):

Pertama, Tindak tutur lokusi atau apa yang dikatakan (locutionary act). Fokus lokusi adalah makna tuturan yang diucapkan, semata-mata tindak berbicara (an act of saying something). Dalam konteks ini, Kemenag sudah bertindak dengan menyatakan sesuatu, yaitu: ‘Hebat Bermartabat’.

Kedua, tindak tutur ilokusi (illocutionary act): Ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan, tindak melakukan sesuatu. Dalam hal ini, Kemenag menginformasikan kepada guru untuk bekerja dengan Hebat Bermartabat.

Dalam dunia komunikasi “Madrasah Hebat Bermartabat” menjadi fenomena dengan maksud menunjukkan dan mempromosikan kinerja untuk mencapai tujuan tertentu. Hebat Bermartabat mengandung maksud bahwa penutur mengajak mitra tutur supaya melakukan sesuatu sebagaimana yang dinyatakan oleh penutur. Bisa juga adalah suatu tuturan yang mengandung maksud meminta, menyerukan, atau mengajak mitra tutur melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh sebagaimana yang dikehendaki oleh penutur.

“Hebat Bermartabat” harus menciptakan profesional guru: (1) menyiapkan proses pembelajaran secara matang; (2) peduli dengan peserta didik; (3) mempunyai banyak ilmu baik ilmu mendidik maupun ilmu murni; (4) matanya awas dan peduli dengan prestasi peserta didik; (5) ‘melek’ tehnologi informasi; (6) berfikir kritis dalam proses pembelajaran; (7) selalu berkomunikasi dengan stakeholder pendidikan yang lain.

“Hebat Bermartabat” harus mengubah paradigma berpikir dari seorang ‘follower’ (pengikut setia) ke seorang inovator, dari orang yang dipikirkan menjadi seorang pemikir, dari seorang yang selalu menerima apa saja dari atasan ke seorang ‘devil advocate’ (orang yang selalu memberi masukan yang konstruktif terhadap sebuah kebijakan).

Hebat bermartabat itu, guru tidak memberi contoh, atau membuat contoh, apalagi mencontoh contohkan, tapi guru itu mencontohkan dengan perbuatan sendiri. Dia sendiri yang melakukan tindakan itu sebagai sebuah tradisi, kebiasaan, bukan dibuat buat agar kelihatan ‘hebat’.

“Hebat Bermartabat” itu, kerja guru ‘ditunggui’, dipantau, diteropong, dinilai oleh semua pihak. Dia tidak boleh bekerja sembrono, bekerja sekendak hati. Disini guru ‘dilarang kerja ‘asal asalan’. Sedikit saja guru berbuat salah, maka ‘seluruh dunia’ akan ribut.

Ketiga, tindak tutur perlokusi: mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan. Bagi yang mendengar atau membaca, dikhawatirkan akan berefek ‘merasa’ hebat dan bermartabat. Karena ‘hebat dan bemartabat’ adalah hasil akhir dari sebuah perjuangan yang panjang dan melelahkan, bisa jadi perjuangan itu ‘berdarah darah’. Memang tidak mudah menggapai hebat bermartabat.

Efek lain yang mungkin timbul adalah ‘merasa’ hebat dan bermartabat karena prestasi pihak lain. Memumpang ‘hebat’ atas nama besar pihak lain, mohon maaf, padahal dia belum berbuat apa apa.

Dirgahayu Kementerian Agama. Sekali Kementerian Agama tetap Kementerian Agama. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, meridlai amal dan pengabdian kita. Wabillahi taufiq walhidayah,Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Wassalamu'alaikum wr.wb.

(Penulis adalah pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID