(Mudir/Pimpinan Ponpes Darul Arifin Jambi), Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA Oleh : Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA*
JERNIH.ID, Kota Jambi - Nabiyullah Musa pun menanyakan kepada Nabiyullah Khidir untuk ikut menyertai Nabiyyullah Khaidir apabila beliau tidak keberatan. Nabi Khaidir mengatakan: engkau tidak akan sanggup, namun Nabi Musa terus mendesak sambil berujar: in sya Allah engkau akan mendapati kami termasuk golongan orang yang bersabar.
Akhirnya Nabiyullah Khaidir menerima permintaan Nabi Musa dengan satu syarat: engkau tidak boleh bertanya apapun yang engkau ingkari dan engkau tidak mengetahui hikmah maupun kebenarannya, sampai saya menyempaikannya kepadamu. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir, Jilid:6/96).
Setelah sudah mencapai kesepakatan maka keduanya pun berjalan bersama, dalam perjalanan keduanya nanti terdapat peristiwa-peristiwa menarik:
1.Tatkala keduanya menaiki perahu, dan perahu sudah berjalan cukup jauh dan menerjang gelombag lautan. Kemudian secara tiba-tiba Nabiyullah Khaidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, yaitu dengan mencabut salah satu papan perahu. Dengan agak sedikit heran Musa bertanya kepada Nabi Khidir: mengapa engkau melubangi perahu tersebut apakah untuk menenggelamkan perahunya? Nabi Khidir terdiam sejenak dan mengatakan, dengan nada mengingatkan: perbuatan apa yang sudah saya lakukan dengan sengaja ini termasuk diantara perkara yang saya syaratkan kepadamu, supaya engkau tidak mengingkarinya. Karena engkau masih belum mengetahui ilmunya, karena ada rahasia dibalik perbuatan tersebut yang engkau belum mengetahuinya. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir, Jilid:6/97).
Lanjut Nabi Khidir: Sungguh engkau melakukan kesalahan besar, maka bukankah sudah pernah saya ingatkan: bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku.
Nabi Musa dengan nada halus sambil berharap supaya dimaafkan, Nabi Musa mengatakan: Jangan engkau menghukum saya karena kealpaan saya dan jangan engkau membebani dengan suatu urusan yang sulit. (Q.S. Al-Kahfi: 73).
Dengan terus meminta maaf dan memohon, akhirnya Nabi Khidir pun memakluminya dan memaafkannya.
2. Setelah menaiki perahu mereka berdua turun, hingga keduanya berjumpa dengan anak muda. Yang kemudian Nabi Khidir tanpa bosa basi langsung membunuhnya. Lalu Nabi Musa dengan nada yang lebih keras mengingkarinya, mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Nabi Musa beralasan apabila perahu dilubangi masih bisa ditambal kembali, Sedangkan nyawa tidak dapat dikembalikan lagi. (Lihat: Tafsir Ibn Katsir, Jilid:6/97).
Nabi Khidir dengan ringan menjawab: bukankan sudah saya sampaikan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersama saya. (Q.S. al-Kahfi: 72).
Maka menarik Nabi Musa meminta maaf lagi dengan mengatakan: Jika saya bertanya lagi tentang sesuatu setelah ini, maka jangan bolehkan saya menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup bersabar menerima permintaan maaf saya.
3. Setelah dua kejadian di atas keduanya berjalan sampai masuk kesebuah perkampungan, keduanya meminta jamuan kepada penduduk setempat, namun mereka enggan dan menolaknya. Kemudian keduanya mendapati dinding rumah yang hamper roboh dan runtuh, lalu beliau menegakkannya. Nabi Musa dengan reflek mengatakan: jika engkau mau niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.
Nabi Khidir pun mengatakan: inilah perbedaan antara saya dengan engkau. Karena engkau sudah mensyaratkan kepada dirimu sendiri setelah pembunuhan pemuda itu, engkau mengatakan: saya akan berpisah denganmu.
Namun Nabi Khidir menyampaikan diakhir perpisahan. Sebelum kita benar-benar berpisah saya akan sampaikan hikmah-hikmah yang tejadi pada peristiwa tersebut.
Bersambung……… Hikmah dan Rahasianya di bagian ke-3
Semoga barokah dan bermanfaat di dunia dan akhirat Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.
*Penulis Merupakan Pimpinan Ponpes Darul Arifin Jambi
Website resmi : https://darularifinjambi.ponpes.id/