M.Septian Hidayatul Chandra Oleh: M.Septian Hidayatul Chandra (B1A121188)
Indonesia tanah surga tongkat dan kayu jadi tanaman, katanya! tapi kenyataanya.? Indonesia memang negara yang kaya akan alamnya, dengan semua kekayaan alam yang berlimpah, keindahan negaranya, keindahan suku dan budayanya. Dengan tanah yang luas dan kekayaan alamnya yang berlimpah seharusnya para petani kita sudah hidup makmur, tapi hingga saat ini petani kita masih ada yang jauh dari kata makmur. Ada banyak petani yang ada di negara kita salah satunya petani sawit.
Siapa yang tidak kenal dengan tanaman sawit ini, Indonesia menjadi salah satu negara dengan penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Indonesia menjadi salah satu produsen terbesar di dunia sejak 2006, produksi terbesar ini di dukung dengan ketersediaan lahan kebun yang luasnya mencapai 15,1 juta hektar. Produksi minyak sawit dan inti sawit pada tahun 2018 tercatat sebesar 48,68 juta ton, yang terdiri dari 40,57 juta ton crude palm oil (CPO) dan 8,11 juta ton palm kernel oil (PKO). Jumlah produksi tersebut berasal dari Perkebunan Rakyat sebesar 16,8 juta ton (35%), Perkebunan Besar Negara sebesar 2,49 juta ton (5%,) dan Perkebunan Besar Swasta sebesar 29,39 juta ton (60%). Sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, industri kelapa sawit telah menyediakan lapangan pekerjaan sebesar 16 juta tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.Induatri kelapa sawit di indonesia dibangun dengan pendekatan yang memprioritaskan keseimbangan antara aspek ekonomi dan sosial.
Petani sawit merupakan petani dengan luas tanam kelapa sawit kurang dari atau sama dengan 20 hektar. Tetapi rata-rata petani sawit mengelola sekitar 2 hektar kebun kelapa sawit per rumah tangga. Seharusnya dengan lahan yang luas para petani sawit di indonesia sudah hidup makmur, tetapi kenyataanya,hanya beberapa yang memiliki kebun yang sangat luas, bagaimana dengan buruh yang bekerja dikebun kelapa sawit?. Sekarang dengan harga buah kelapa sawit yang rendah di samping harga bahan pokok dan bbm naik membuat para petani sawit kesulitan. Disamping itu juga pemerintah pernah memberhentikan ekspor minyak sawit membuat banyak buah sawit yang terlantar dan harganya jatuh membuat para petani sawit menjerit. Indonesia sebagai pengekspor minyak kelapa sawit terbesar didunia, seharusnya pemerintah lebih bijak lagi mengurus lahan perkebunan yang ada di indonesia ini.
Seharusnya dengan semua kekayaan alam di indonesia yang memiliki segalanya baik dari emas,batubara,minyak bumi,ditambah dengan tanah yang subur indonesia bisa menjadi negara maju bukan negara berkembang lagi. Tapi kenyataanya masih banyak masyarakat miskin,masih banyak yang tinggal di kolong jembatan, masih banyak anak-anak generasi penerus bangsa tidak bersekolah dikarnakan tidak memiliki biaya. Tepat 24 september 2022 kemarin diperingati hari tani nasional, sudah 62 tahun petani kita tetapi masih jauh dari kata makmur. Semoga kedepannya indonesia memiliki pemerintah yang bisa mengelola SDA maupun SDM yang ada di indonesia.
“Bertani bergenerasi. Sebagai seorang anak petani,kita memang tidak dituntut untuk kembali menggarap kebun, tetapi ada baiknya kita meneruskan mengelola kebun setelah selesai menuntut ilmu di perkuliahan. Jabatan PNS dab lain sebagainya adalah bonus. Selamat hari tani nasional”.
(Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jambi semester 3)