Lebaran

Penulis: Redaksi - Sabtu, 13 April 2024 , 07:25 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Hampir tidak masa dimana hampir semua umat Islam ‘merasa berdosa’ dalam waktu yang sama. Tidak peduli, apakah pernah bertemu atau tidak sebelumnya, apakah pernah berkomunikasi sebelumnya atau tidak, orang tua, orang muda, laki laki perempuan, semua ‘sepakat’ untuk minta maaf.

Dan juga jarang sekali ditemukan, diwaktu yang bersamaan, umat Islam ‘serempak’ mengirimkan pesan yang maknanya hampir sama: “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin’, dengan berbagai platform media sosial: WA, Facebook, twitter, Instagram dll. Tidak peduli apakah pesan itu dibaca atau tidak, pokoknya minta maaf.

Dan ini tidak afdol rasanya bila tidak berjabat tangan. Herannya, setiap ketemu maka tangan dulu dijulurkan sebagai tanda ‘masih lebaran’. Bisa jadi dalam satu hari bisa bersalaman lebih dari satu kali, pokoknya setiap ketemu bersalaman. Peristiwa ini bisa tidak terjadi pada hari hari biasa.

Yang luar biasa adalah dalam waktu yang sama ‘sepakat’ untuk pulang kampung bersama (mudik). 'Ritual' pulang kampung itu bisa menjadi forum silaturahim massal ditengah masyarakat. Rindu kampung halaman tidak bisa diganti dengan ‘telepon atau video call’ ke kampung. Walaupun dalam komunikasi ini terjalain interaksi, face to face, tapi tidak sama rasanya bila ketemu langsung di kampung. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman.

Entah kenapa disaat lebaran, umat Islam sama sama teringat ‘kematian’ dengan berziarah ke kuburan. Sudah menjadi tradisi ditengah masyarakat saat lebaran, umat Islam ‘terpikiran’ pergi berziarah ke kubur keluarga baik orang tua, kakek, nenek dan leluhur maupun keluarga terdekat sambil mendoakan, membaca yasin dan tahlil. Ritual ini tidak biasa dilakukan pada hari hari biasa.

Lebaran juga membuat umat Islam ‘lebih dermawan’. Tanpa ada ‘perintah’, umat Islam serempak membayar zakat, bersedekah dan berinfak. Islam mewajibkan umatnya membayar zakat fitrah dan zakat maal untuk mensucikan diri dari dosa. Zakat fitrah wajib dibayarkan di bulan Ramadhan, sementara zakat maal biasanya dibayarkan umat Islam Indonesia di bulan Ramadhan (Baznas).

Tentu saja pendistribusian zakat, infak dan sedekah dari orang yang mampu ini akan meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat miskin, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan mereka dengan memenuhi kebutuhan pokok dan mengurangi kelaparan ekstrem (Umar).

Selain zakat, umat Muslim juga berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Dan yang paling ditunggu oleh sanak keluarga adalah THR (Tunjangan Hari Raya). Entah siapa yang memulai, THR ditunggu oleh sanak saudara. Oleh karena itu, Ramadhan juga menjadi waktu untuk memperkuat solidaritas di antara umat Muslim, meningkatkan kepedulian, dan mengurangi kesenjangan antar manusia.

Itulah dahsyatnya lebaran. Lebaran bisa digunakan untuk ‘menyelesaikan’ berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Harus diakui bahwa lebaran telah menciptakan perubahan mendasar di tengah masyarakat. Fenomena lebaran memberi dampak sosial dan psikologis tertentu bagi umat islam. Oleh karena itu, kita perlu bersyukur ‘punya’ tradisi lebaran.

Lebaran membuat persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Umat Islam memiliki sifat religiusitas yang tinggi, dan tentu hal ini berdampak besar dalam mempertahankan, menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturahim lebaran.

Modal sosial lebaran turut berpartisipasi dalam merajut persatuan dalam perbedaan. Karena hasil puasa Ramadhan membuat kita kembali ke keadaan nol. Kita memulai sesuatu dari niat suci. Bila puasa menghapus dosa dosa yang bersifat vertikal kepada Allah SWT, diharapkan lebaran menghapus dosa dosa, kesalahan yang sifat horizontal. Diyakini, momen lebaran, tali silaturahmi dan saling memaafkan kembali terjalin.

Lebaran memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, sanak saudara, teman-teman, para tetangga, dsb. Lebaran adalah momen paling religius untuk memaafkan orang-orang yang pernah melakukan kesalahan pada kita dan memperbaiki hubungan yang kurang bagus. Dan ini menjadi momen yang penting untuk memperkuat persaudaraan dan kerukunan.

Lebaran membuat silaturahim (hubungan kasih sayang) di tengah masyarakat terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu, tidak berinteraksi dan berkomunikasi. Ini tentu menjadi pintu masuk untuk memelihara, merawat dan menjaga pilar kebersamaan secara utuh.

Hampir semua umat Islam ikut menyibukkan diri menghadapi lebaran ini. Apalagi menjelang lebaran. Kita mengerah semua tenaga dan waktu terkuras dalam menyiapkan diri menyongsong hari lebaran. Saat lebaran terkadang dijadikan sebagai kesempatan bagi sebagian masyarakat untuk ‘memperlihatkan’ sesuatu yang baru: baju baru, kain sarung baru, celama baru dan lain-lain yang serba baru.

Bisa dikatakan bahwa lebaran adalah momentum untuk bersuka cita, semua merasa terbebas dari kesusahan, kesedihan, semua merasa kepedulian dalam berbagi kebahagiaan kepada orang yang tidak mampu agar bisa merasakan suka cita pada hari tersebut.

Pada hari itu, semua merasa berdosa, dan harus saling memaafkan atas segala dosa dan kekhilafan dan dilanjutkan dengan bersalam-salaman. Dilanjutkan dengan saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mema’afkan seraya mengucapkan Minal ‘Aidin wal Faizin. Semoga kita dapat kembali menemukan jati diri kita dan semoga kita semua memperoleh ampunan, ridho, dan kenikmatan dunia dan akhirat.

Harapanya adalah pasca lebaran ada peningkatan spiritual ditandai dengan sikap yang selalu merendah, khusyu’, kepada Allah, dan merasa bahwa dihadapan Allah, kita adalah hambah yang lemah. Selain itu, juga berupa perbaikan sikap, ucapan, perilaku dengan sesama, disertai dengan meningkatkan kualitas beribadah kita. 

Lebaran hendaknya melenjitkan kesalehan sosial baik tindakan, ucapan, maupun pikiran. Lebaran mestinya mampu memperlihatkan sikap dan perilaku yang penuh kesantunan, keakraban, persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan persamaan. Pesan moral dari psikologi lebaran adalah penyadaran manusia terhadap pentingnya kembali pada jati diri eksistensialnya yang paling asasi, yaitu sebagai makhluk sosial religius yang setia memperjuangkan dan membela nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keadilan (QS Ar-Rum: 30). (uinjkt)

Akhirnya, jika kita masih menyalahkan orang lain, itu artinya perjalanan kita masih jauh. Ketika kita menyalahkan dirimu sendiri, itu artinya perjalanan kita sudah dekat. Tapi ketika kita tidak menyalahkan siapapun, itu artinya, kita sudah sampai.

Bisa jadi, memaafkan itu terasa berat, namun sebenarnya itu justru meringannya. Dengan memaafkan, kita melepaskan rasa sakit dan energi negatif dalam diri kita untuk merasakan ketenangan dan kedamaian. Memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan orang yang telah tidak baik kepada kita. Tuhan telah berjanji bahwa setiap perilaku manusia akan kembali pada diri kita sendiri. Wallahu a’lamu bi as-Shawab.

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)

Tag:


PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID