Malam Kemulyaan

Penulis: - Rabu, 06 Juni 2018 , 05:53 WIB


JERNIH.CO.ID, Jambi - Setiap malam ada berkah Allah yang diulurkan dan dihamparkan untuk manusia, utamanya pada dua pertiga malam, ketika seseorang bangun berwudhu, shalat minimal dua rakaat, zikir doa, membaca dan memahami Qur'an dengan tertib (tartila).

Khusus bulan suci Ramadhan, semua malam adalah penuh berkah, semua amal ibadah dilipat gandakan tak ternilai, karena keistimewaan yang Allah anugerahkan di dalamnya.

Saking mulianya malam-malam Ramadhan, Allah menurunkan sebuah surat Al-Qodar.
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr: 1-5).

Betapa mulyanya malam itu, di mana dunia didatangi oleh para malaikat Allah, yang dipimpin oleh Malaikat Jibril. Kehadiran para malaikat adalah melaksanakan perintah Allah merancang dan mengatur semua urusan makhluk sebagai pengelola bumi "khalifah fil ardi". Sehingga malam itu bernilai lebih baik dari 1000 bulan, atau setara 84 tahun.

Menurut para mufasirin bahwa malam kemulyaan itu berlangsung di atas malam 20, atau malam-malam ganjil, yakni malam 21-29.

Di Indonesia tradisi menyambut malam kemulyaan ini (lailatul qadar) dilakukan dengan kegiatan ibadah malam berupa i'tiqaf di Masjid. Biasanya i'tiqaf ini di awali dengan menetap di masjid (tidur) sampai waktu dua pertiga malam, sekitar pukul 02.00, dilanjutkan dengan shalat malam (tahajud dsb), hingga sahur dan subuh.

Ibadah malam berupa i'tiqaf, diisi dengan selain ibadah shalat, zikir doa juga mengkaji dan membaca Al-Qur'an.

Sunnah Rasulullah, menyikapi 10 malam terakhir ini, berpacu harapkan ridha, berkah dan ampunan Allah. Beliau menggulung tempat tidurnya, beliau mengurangi tidur malamnya. Beliau habiskan waktu-waktu malamnya di masjid.

Beliau adalah seorang nabi dan Rasul yang telah dijamin Allah masuk surga, tetapi tetap merunduk patuh di hadapan Allah, terlebih 10 malam terakhir, menurut penuturan Umi Aisyah RA. Ibadah rasulullah, tidak sanggup beliau ikuti, sampai bergantungan di tali untuk bangkit dari sujud, dan kakinya sampai bengkak mengikuti ibadah malam rasulullah. Begitulah ibadah rasulullah di malam-malam akhir Ramadhan, di malam-malam kemuliyaan, makin tawadhu, makin merunduk makin bersujud dihadapan Allah, dalam upaya mengghapai berkah, rahmat, ridha, dan ampunan Allah.

Rasulullah sunahkan kita membaca doa ini di malam Ramadhan, terlebih memasuki malam-malam kemulyaan: Allahumma innî as’aluka ridhâka wal jannah, wa ‘azubika min sakhatika wannâr. Allah, aku meminta rida-Mu dan surga-Mu dan aku berlindung dari azab api neraka-Mu. aamiin.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID