Memaknai Universitas Kelas Dunia: Kesiapan PTKIN Indonesia

Penulis: Redaksi - Selasa, 18 November 2025 , 18:07 WIB
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd
Dok pribadi
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd


​Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd

​Word Class Univeraty (WCU)

​Institusi Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia kini berada di persimpangan jalan dalam peta pendidikan global. Desakan untuk menjadi World Class University (WCU) bukan sekadar tren, melainkan respons fundamental terhadap tuntutan era globalisasi dan revolusi industri 4.0 dan 5.0 (Altbach & Reisberg, 2019, h. 57). Pertanyaannya bukanlah PTKIN harus bertransformasi, melainkan bagaimana dan sejauh mana transformasi tersebut dapat dilakukan. Bagian ini akan menguji kontradiksi sentral: Apakah PTKIN benar-benar memiliki kapasitas untuk berkompetisi secara langsung dengan WCU dunia yang didominasi model Barat, ataukah fokus yang lebih realistis dan mendesak adalah memaknai konsep WCU, dengan mengadopsi standar inti kualitas global sambil mempertahankan dan mengarusutamakan karakter keislaman dan kearifan lokal (Ahmad, 2021, h. 12).

​B. WCU: Sebuah Keniscayaan di Era Global dan Digital

​Konsep WCU telah menjadi mata uang akademik global, di mana daya saing suatu bangsa seringkali diukur dari kualitas universitasnya. Di era digital, universitas dituntut untuk tidak hanya menjadi pusat pengajaran, tetapi juga motor inovasi riset, diseminasi pengetahuan, dan solusi sosial (Salmi, 2017, h. 22). Bagi PTKIN, keniscayaan ini berarti meninggalkan zona nyaman sebagai lembaga berbasis pengajaran agama semata. Tantangan terbesarnya adalah mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam yang kaya dengan metodologi riset modern dan relevansi industri global (Said, 2023, h. 45). Kegagalan untuk berpartisipasi dalam arena WCU akan berakibat pada penurunan kualitas lulusan dan terputusnya relevansi keilmuan Islam dari diskursus global.

​C. Teori WCU Kontemporer: Universitas Terkemuka Islam Dunia dan Negara Maju

​Model WCU modern, seperti yang diwujudkan oleh Harvard, Stanford, atau Ivy League lainnya, umumnya didasarkan pada tiga pilar utama: konsentrasi bakat (staf dan mahasiswa), sumber daya yang melimpah (pendanaan dan fasilitas), dan tata kelola yang efektif (otonomi dan visi) (Salmi, 2019, h. 18).

​Namun, penting juga untuk melihat model universitas terkemuka Islam dunia (seperti Qatar University, King Saud University, atau Universitas Al-Azhar dalam konteks tertentu), yang berupaya menyelaraskan standar global dengan misi keislaman (Mustafa, 2022, h. 101). Model ini menawarkan perspektif bahwa WCU tidak harus homogen. Indonesia, khususnya PTKIN, dapat belajar dari upaya mereka dalam memperkuat riset interdisipliner antara studi Islam dan sains/teknologi. Hal ini relevan bagi PTKIN untuk merumuskan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang unik, yang menyeimbangkan antara publikasi internasional dan kontribusi pada peradaban Islam dan pembangunan nasional (Latif, 2024, h. 15).

​D. Standar Menjadi WCU

​Standar WCU didefinisikan secara ketat oleh sistem pemeringkatan global utama (QS, THE, ARWU). Umumnya, standar tersebut meliputi:

​Kualitas Penelitian: Jumlah sitasi, publikasi jurnal bereputasi (Q1/Q2), dan hibah riset eksternal (Jalal, 2020, h. 68).

​Kualitas Pengajaran: Rasio dosen–mahasiswa, kepuasan kerja lulusan, dan dosen internasional.

​Internasionalisasi: Persentase mahasiswa dan staf asing, serta kolaborasi riset internasional (Muda & Widyarini, 2021, h. 90).

​Reputasi Akademik dan Pemberi Kerja (QS, 2024, h. 3).

​PTKIN menghadapi tantangan signifikan pada pilar internasionalisasi dan kualitas penelitian. Keterbatasan dana, beban pengajaran yang tinggi, dan budaya publikasi yang masih berfokus pada jurnal nasional menjadi hambatan utama.

​E. Transformasi Mendasar PTKIN Membangun WCU

​Untuk mengatasi tantangan tersebut, transformasi PTKIN harus bersifat mendasar, mencakup:

​Tata Kelola: Pergeseran dari lembaga di bawah birokrasi kementerian menjadi universitas yang otonom dan gesit (PTN-BH), memungkinkan fleksibilitas finansial dan akademik (Kurniawan, 2022, h. 50).

​Fokus Riset: Redirecting dana dan sumber daya ke riset unggulan yang memiliki dampak global (misalnya, Islamic Finance, Halal Science, atau Peace Studies dalam perspektif Islam) (Setyawan, 2023, h. 30).

​Peningkatan Kapasitas SDM: Kewajiban publikasi internasional, program visiting professor dan post-doctoral di universitas ternama, serta dukungan biaya pelatihan bahasa Inggris (Amin, 2024, h. 110).
​Digitalisasi dan Kemitraan: Pemanfaatan teknologi untuk smart campus dan menjalin kemitraan strategis dengan WCU Asia dan Timur Tengah (Rahman, 2021, h. 75).

​F. Memaknai vs Berkompetisi

Membangun WCU PTKIN
​Pada titik ini, perdebatan kembali pada pertanyaan di Pendahuluan. Mengingat gap sumber daya yang lebar, apakah PTKIN harus berkompetisi langsung dalam semua dimensi WCU, atau cukup memaknai WCU?

​Argumennya adalah: PTKIN mungkin tidak akan segera mencapai peringkat Top 100 global, namun ia dapat menjadi "World Class Islamic University" (WCIU) dengan memaknai WCU (Ahmad & Nasution, 2020, h. 202). Memaknai berarti:

​Mengadopsi standar kualitas riset, tata kelola, dan pengajaran yang ketat.
​Mendefinisikan kembali metrik keberhasilan untuk mencakup dampak sosial keagamaan yang kuat dan unik (misalnya, indeks moderasi beragama, kontribusi pada penyelesaian konflik berbasis etika Islam).

​Ini adalah pendekatan yang realistis: PTKIN harus berkompetisi di area keunggulan uniknya (Islam) dan memaknai standar global di area lainnya. Transformasi menjadi PTN-BH adalah langkah awal yang krusial menuju kompetisi riil (Ali, 2019, h. 9).

​G. Penutup

​Kesiapan PTKIN bertransformasi menjadi WCU adalah proses dialektis antara ambisi global dan realitas lokal. Tidak semua PTKIN dapat atau harus berkompetisi langsung, tetapi semuanya wajib memaknai dan menerapkan standar kualitas WCU dalam setiap aspeknya (Riza, 2024, h. 85). Perjalanan ini menuntut dukungan politik, komitmen otonomi yang kuat (PTN-BH), dan keberanian intelektual untuk mengintegrasikan keilmuan Islam dengan sains kontemporer. Tujuan akhirnya bukanlah semata-mata peringkat, melainkan menciptakan universitas yang relevan secara global, unggul secara akademik, dan berakar kuat pada nilai-nilai Islam.

(Penulis merupakan Guru Besar UIN STS Jambi)

​Referensi

​Ahmad, D. (2021). Islamic Higher Education: Between Tradition and Global Standard. Routledge.

​Ahmad, D., & Nasution, Z. (2020). Reorientasi misi PTKIN menuju WCU: Studi kasus pada UIN di Indonesia.

Journal of Islamic Education Research, 3(2), 195-210.

​Ali, S. (2019). Transformasi kelembagaan PTKIN: dari IAIN ke UIN dan peluang menjadi PTN-BH. Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 1-15.

​Altbach, P. G., & Reisberg, L. (2019). The international imperative in higher education. Comparative Education Review, 63(1), 54-73.

​Amin, A. (2024). Strategi Peningkatan Kualitas SDM Dosen Menuju WCU. Kencana.

​Jalal, K. (2020). Peran publikasi ilmiah dalam akselerasi transformasi PTKIN menuju WCU. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 5(1), 60-75.

​Kurniawan, B. (2022). Otonomi kampus dan peluang PTKIN meraih PTN-BH: Analisis efektivitas tata kelola. Jurnal Manajemen Pendidikan, 13(2), 45-58.

​Latif, M. (2024). Visi PTKIN: Mengintegrasikan Riset Islam dan Sains untuk Dampak Global. UIN STS Jambi Press.

​Muda, F., & Widyarini, D. (2021). Internasionalisasi kurikulum pada PTKIN: Tantangan dan prospek. Jurnal Pendidikan Islam Kontemporer, 6(1), 80-95.

​Mustafa, I. (2022). Comparing World Class Islamic Universities: Lessons for Indonesian HEIs. Journal of Muslim World Affairs, 4(2), 98-115.

​QS. (2024). QS World University Rankings Methodology 2024. QS Quacquarelli Symonds.

​Rahman, Z. (2021). Digitalisasi kampus dan smart university: Tren pengembangan PTKIN. Jurnal Teknologi Pendidikan, 10(1), 70-85.

​Riza, F. (2024). Memaknai WCU di Indonesia: Antara tuntutan peringkat dan tanggung jawab sosial. Jurnal Kebijakan Pendidikan, 15(1), 80-92.

​Said, A. (2023). Integrasi keilmuan Islam dan sains modern: Kunci transformasi PTKIN. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 14(3), 40-55.

​Salmi, J. (2017). The World Class University Model: A Global Perspective. Higher Education Forum, 14, 19-35.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID