Opini Amri Ikhsan: Guru Superior

Penulis: Amri Ikhsan - Rabu, 24 November 2021 , 20:26 WIB
Amri Ikhsan Amri Ikhsan


Sebaik-baik input calon siswa sekolah/madrasah jika didampingi para guru yang sebenarnya, dipastikan tidak akan mampu membuat siswa berprestasi, cerdas dan berkarakter. Guru tidak sekedar harus memiliki ilmu pengetahuan ‘tinggi’ dengan sederet gelar dan telah mengikuti diklat ‘kesana kemari’, tapi juga harus mampu berpikir ‘melenceng’ dari kebiasaan untuk menghasilkan inovasi baru yang menantang para siswa. Itulah guru superiour.

Guru superior selalu merasa bangga menjadi guru, berkemampuan bisa berbuat lebih dari profesi lain. Guru harus punya keberanian untuk menunjukkan ke public bahwa kemampuannya tidak hanya çeramah’ di depan kelas tapi punya kemampuan inovasi dan kreativitas untuk memperkaya khasanah pembelajaran. Guru itu tidak boleh merasa inferior, marasa terhina dengan pekerjaannya sebagai guru.

Guru harus menyadari bahwa dia tidak akan lahir secara genetik tanpa proses pembinaan. Cara Stillings Candal dari Pioneer menegaskan “Great teachers aren’t born, great teachers are made.” Guru yang besar tidak dilahirkan tapi diciptakan, guru yang mau belajar. Menjadi guru itu tidak gampang, perlu proses panjang dan berliku liku.

Menjadi guru merupakan profesi yang mulia, kemuliaan seorang guru terlihat dari kesungguhan, keseriusan, dan ketulusan ketika mengajar siswa-siswanya. Amanahnya berat, yaitu menjaga atau memelihara kecerdasan dan akhlak siswa. Untuk menjadi seorang guru yang tidak biasa dengan kemampuan di atas rata-rata guru lainnya, guru harus berpikir ‘diluar kotak’ sekaligus superior.

Guru harus keluar dari kebiasaan biasa dengan mengembangkan diri dengan think of the box, bagaimana berpikir diluar kebiasaan untuk menciptakan gagasan diluar kebiasaan yang ada untuk memperkaya proses pembelajaran yang bisa mengilhami siswa untuk semangat belajar.

Tidak ada jalan lain, guru harus berani mengambil keputusan untuk keluar dari ‘kotak’ tersebut, zona aman yang dimiliki, maka barulah hal-hal baru, inovasi, pengalaman, dan keberhasilan baru yang tidak terbayangkan bisa menghampiri diri guru.

Berbeda dengan guru yang berpikir di dalam kotak atau in of the Box. Guru seperti ini lebih suka menjadi pengikut, tidak suka yang aneh-aneh, sesuai standar, dan biasa-biasa saja. Tidak pernah mencoba suatu gagasan yang baru, pokoknya semua sesuai dengan apa yang ada dan disepakati.

Berpikir di luar kotak artinya berpikir berbeda dengan yang lainnya. Yang dilakukan adalah ‘menjungkir balikkan’  kebiasaan yang selama ini dilakukan. Selalu mencari jalan lain yang dianggap benar tanpa melanggar aturan resmi yang sudah ditetapkan. Yang terpenting adalah tujuan yang sudah direncanakan bisa tercapai.

Guru superior tak mudah terpengaruh oleh pemikiran orang lain, dia selalu berusaha untuk mencari cara paling efektif dengan hasil yang positif. Mencari jalan lain yang -mungkin- tak terpikirkan oleh kebanyakan orang, yakni cara efektif yang bisa menghasilkan lebih banyak namun mudah untuk dilakukan.

Guru superior mampu berpikir kreatif, fleksibel dan imajinatif. Dia mampu menciptakan hal-hal baru dari kekuatan imajinasinya. Guru-guru yang bisa disebut kreatif mempunyai daya imajinasi, dimanapun berada, biasa mengeluarkan ide secara spontan. Saat melihat suatu hal, akan dilihat secara mendetail yang kemudian bisa memunculkan imajinasi dan ide-ide baru.

Salah satu tanda yang paling bisa diamati dari guru superior adalah memiliki banyak sudut pandang ketika menentukan sebuah pilihan. Kemampuan melihat dari banyak sudut pandang ini tak lepas dari pengalaman dan kebiasaan yang sering melihat suatu hal secara “berbeda”. Mencerna sesuatu dari banyak sisi yang kemudian disaring menjadi sebuah ide baru yang cemerlang, inilah keahlian guru yang berpikir out of the box.

Albert Einstein pernah mengatakan bahwa suatu permasalahan itu tidak akan pernah dipecahkan jika kita menggunakan pola pikir yang sama ketika masalah itu diciptakan. Berinovasilah dan teruslah berubah karena sesungguhnya zaman itu terus berkembang dengan segala masalah-masalah yang tidak bisa diperbarui dengan cara lama.

Untuk itu, memberdayakan guru adalah dengan menjadikan guru superior, dengan menghindari kebiasaan umum, perilaku umum, hal yang biasa, hal yang lumrah, dan sesuatu yang memang sudah nampak wajar dan tidak aneh.

Guru superior akan memulai tugasnya dengan 1) siswa adalah teman, bukan objek ajar; 2) siswa itu bisa jadi guru, tidak usah diceramahi panjang lebar; 3) biarkan siswa berbuat salah, dan jangan menyalahkan siswa dalam konteks apapun, beri saja penjelasan, siswa akan otokoreksi; 4) latihan dulu, baru belajar; 5) PR diberikan diawal bukan diakhir; 6) belajar 10%, ‘main main’ 90%; 7) siswa jangan dinilai apalagi pakai angka.

Guru superior guru itu seorang pemikir bukan orang yang difikir. Berdasarkan hasil pemikirannya, hasil analisisnya dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan strategis dalam tugasnya dan diperkaya dengan masukan dan kritikan dari berbagai pihak (kolega, pihak sekolah, pengambil kebijakan, dsb). Ide ide cemerlang dari pihak lain mungkin kelihatan prospektif tetapi belum tentu cocok dengan kultur siswa yang dia ajarkan. Untuk itu, sudah saatnya para guru untuk mengubah paradigma berpikir dalam proses pembelajaran dari seorang ‘follower’ (pengikut setia) ke seorang inovator, dari orang yang dipikirkan menjadi seorang pemikir.

Guru superior suka habiskan waktu sendiri, bukan tidak gaul, tapi ternyata kerumunan membuat orang cerdas tidak nyaman. Guru superior cenderung tidak menghabiskan begitu banyak waktu bersosialisasi, lebih senang untuk 'me time' atau menghabiskan waktu sendiri karena mereka fokus pada hal lain substantif, berpikir dan belajar untuk menemukan strategi terbaik untuk pembelajaran. (Norman P. Li).

Guru superior membiarkan meja belajar berantakan, seseorang dengan meja belajar yang berantakan disebut lebih banyak melahirkan ide kreatif dibandingkan dari mereka dengan meja belajar yang rapi. (Penelitian dari University of Minnesota). Guru superior cenderung tenggelam dalam pemikiran yang berfokus pada suatu permasalahan, kebersihan menjadi kurang penting diperhatikan karena terlalu sibuk untuk menyelesaikan suatu masalah.

Memang agak aneh, Wallahu a’lam bi al-Shawab! Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2021, “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”

(Penulis adalah seorang pendidik di Madrasah)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID