Pelatihan Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa Sogo dalam Advokasi Konflik Lahan JERNIH.ID, MUARO JAMBI – Konflik lahan yang telah mendarah daging sejak 2007 antara warga Desa Sogo dan PT. Bukit Bintang Sawit (PT. BBS) mendorong masyarakat setempat mengambil langkah strategis. Warga menggelar Pelatihan Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa Sogo dalam Advokasi Konflik Lahan selama dua hari efektif, Sabtu–Minggu, 12–13 September 2026, di Desa Sogo.
Kegiatan yang diinisiasi secara swadaya oleh masyarakat ini diikuti oleh 30 peserta dan difasilitasi oleh Yayasan Keadilan Rakyat (YKR), yang merupakan anggota Walhi Jambi.
Akar permasalahan ini bermula dari tumpang tindih izin lokasi. Berdasarkan catatan, Bupati Muaro Jambi menerbitkan SK No. 321 Tahun 2007 untuk PT. MBB seluas 6.000 Ha dan SK No. 507 Tahun 2007 untuk PT. BBS seluas 1.000 Ha di Desa Seponjen. Namun, dalam praktiknya, PT. BBS justru menguasai dan menanami lahan yang masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Sogo.
Pelatihan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola dan menyelesaikan sengketa secara terorganisir, legal, dan berkelanjutan.
Secara khusus, para peserta dibekali materi mendalam mengenai:
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini sangat aplikatif, meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, workshop pemetaan konflik, studi kasus, simulasi advokasi, presentasi pleno, hingga penyusunan rencana aksi. Rangkaian materi lengkap dan daftar narasumber/fasilitator disusun dalam agenda terlampir.
Perwakilan fasilitator, Achmat Subhan (Aan), menegaskan pentingnya pendidikan kritis bagi warga yang berhadapan dengan persoalan agraria.
“Pendidikan ini penting. Agar masyarakat mengetahui hak-haknya. Dan mau memperjuangkan haknya,” ujar Aan.
Ia juga menambahkan optimismenya terhadap jalannya proses perjuangan warga. “Kami berharap agar konflik dapat diselesaikan dengan baik. Dan masyarakat mendapatkan haknya,” kata Aan sambil tersenyum.
Melalui pelatihan intensif ini, warga Desa Sogo menargetkan beberapa luaran konkret, di antaranya pemahaman komprehensif terkait kronologi dan dasar hukum, terbentuknya Tim Advokasi Desa Sogo, serta tersusunnya Peta Konflik dan Dokumen Kronologi resmi.
Indikator keberhasilan dari kegiatan swadaya ini meliputi:
Dengan terbentuknya tim advokasi dan dokumen resolusi konflik ini, masyarakat Desa Sogo kini melangkah lebih terorganisir dalam memperjuangkan hak atas tanah mereka yang telah terabaikan selama hampir dua dekade.(*/JR2)