Hati Gersang dan Tandus

Penulis: - Selasa, 29 Mei 2018 , 04:31 WIB


JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Konsep gersang dan tandus banyak disebut di dalam Al- Qur’an, yang dikaitkan dengan tanah, untuk memberikan pemahaman adanya hubungan korelasional antara tanah (turab), air dan tumbuhan serta hati manusia.

Kedua istilah itu memiliki perbedaan, gersang dan tandus. Gersang bermakna suasana tanah yang memiliki potensi air terbatas, boleh jadi karena kemarau panjang, panas yang tinggi, sehingga kantung-kantung airnya menjadi kering, akibatnya tanah-tanah menjadi gersang. Sedangkan tandus menunjukkan tidak ada potensi air, malah terkesan tanah yang berbatuan, berpasir, tumbuhan pun sulit tumbuh.

Walau dua istilah itu mempunyai pengertian yang relatif beda, namun keduanya menunjukkan keadaan atau suasana tanah yang ekstrim berkaitan dengan iklim atau cuaca yang disebabkan panas yang tinggi dan minimnya curah hujan dan tidak tersedia kantung air.

Dalam perspektif Al-Qura’an, Allah memberi pelajaran bahwa gersang dan tandus merupakan sebuah perumpamaan kehidupan manusia utamanya berkenaan dengan hati (ruhiyah) manusia.

Dalam sebuah HR. Mutafak alaih, ada tiga karakter tanah yang mencerminkan keadaan hati manusia. Pertama, tanah yang subur. Yakni tanah yang cukup asupan air, cukup curah hujan, tanaman di atasnya tumbuh subur. Ini sebagai gambaran hati manusia yang suci dan bersih sehingga sangat mudah menerima ilmu, mau menuntut ilmu dan mau berbagi ilmu sehingga dia memperoleh hidayah hidup dari Allah dengan keimanan dan takwa yang mantap. Ini yang dikenal dengan "qalbun salim" hati yang suci bersih atau hati yang sehat.

Kedua, tanah yang gersang. Yakni tanah yang kurang asupan air, kurang curah hujan, panas yang tinggi, dan hanya pohon-pohon tertentu saja yang dapat tumbuh, namun kebanyakan pohonnya mati.

Perumpamaan tanah gersang, bagai hati yang berlumur kotoran, sehingga sulit menerima realitas kebenaran Allah. Kalaupun beragama hanyalah sebagai prestise untuk sebuah kepentingan dihadapan manusia, dengan menampilkan simbol-simbol agama dan sikap-sikap beragama dalam kepura-puraan. Suasana hati seperti ini juga mencerminkan hati yang sakit.

Ketiga, tanah yang tandus. Mencerminkan tanah yang selain kering tidak ada air curah panas yang tinggi memperbaiki tanah ini, tidak subur dan juga sulit menerima asupan air, apalagi kantung-kantung airnya tidak ada. Suasana hati seperti ini mencerminkan hati yang sakit (qalbun marid), hati sudah tertutup, telinga tidak mau mendengar dan mata tidak mau melihat semesta kenyataan sebagai kebesaran Allah dan himbauan Allah.

Ramadhan karim meberi solusi dalam membingkai hati agar tetap subur, bersih dan sehat, yakni dengan berpuasa, ibadah malam, tadarus dan tadabbarul Qur'an, mendalami ilmu agama serta mengamalkan, berzikir, sedekah, memberi makan orang berpuasa, menjaga silaturrahim, dan menunaikan berbagai shalat wajib dan sunat di sepanjang hari.

Cara-cara penguatan dan pengokohan penghambaan diri kepada Allah dan peduli kepada sesama manusia seperti ini, adalah jalan ampuh membangun hati yang sehat, bagaikan tanah yang subur, yang siap ditanami apapun dan akan tumbuh semua tanaman dengan subur serta maslahat bagi makhluk Allah lainnya. Semoga.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID