Madrasah Kehidupan: Belajar Dari Takdir

Penulis: Redaksi - Senin, 29 April 2024 , 12:59 WIB
Amri Ikhsan
Dok pribadi
Amri Ikhsan


Oleh: Amri Ikhsan

Menerima takdir bukanlah sesuatu yang mudah, dan seringkali kita memerlukan latihan mental tingkat tinggi. Karena pekerjaan ini akan melibatkan kompetensi untuk melepaskan kendali atas hal-hal yang tidak dapat kita ubah, sambil tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam kendali kita.

Yang menjadi permasalahan dalam menyikapi takdir adalah hanya masalah pikiran yang terlalu dini dalam menilai. Semua terasa tidak tepat bila kita berpikir yang terjadi itu tidak tepat. Namun semua akan tepat ketika kita berpikir seuatu itu tepat. Apa yang kita khawatirkan bukanlah suatu kenyataan, melainkan hanya imajinasi yang belum terjadi. Maka tugas kita adalah mengendalikan pikiran kita sebelum keadaan mengendalikan pikiran kita.

Ketahuilah, Allah tidak akan mempercepat, Allah juga tidak akan memperlambat kehendak kita tapi Allah pasti akan mengabulkan disaat yang tepat, karena cepat belum tentu yang terbaik, lambat juga belum tentu buruk. Ikhtiarkan saja yang terbaik dan lakukan saja yang terbaik, semoga yang disemogakan akan Allah segerakan.

Tidak ada takdir yang salah, yang ada hanya pikiran yang sering salah dalam menilai. Hukum alam telah diciptakan Tuhan dan bersifat tetap. Pikiran yang salahlah yang mengantarkan kita kepada keadaan yang serba salah. Tidak perlu kita  menyalahkan takdir kita. Saatnya memulai ‘permohonan’ baru dalam memperbaiki takdir kita dengan terlebih dahulu memperbaiki pikiran kita.

Berikhtiar dan bersabarlah, terkadang dalam kehidupan kita, adakalanya manusia membuat kita sakit, membuat kita tidak nyaman tapi Allah mengajari kita untuk bangkit. Begitu juga, mungkin manusia memberi kita luka sedangkan Allah menghadiahkan kita bahagia. Meski pahit, nikmati, meski berat, ikhlaskan. Bersabar dengan segala ujian dan tetap berbuatlah kebajikan.

Kita tidak pernah tahu takdir kita hari ini yang kita anggap sebagai air mata, ternyata kelak menjadi syukur yang penuh bahagia, yang kita duga penuh luka, nyatanya berakhir mulia. Sandarkan semua kepada Allah, semua terjadi atas kehendak-Nya. Yang terbaik pasti sudah disiapkan.

Belajarlah sabar agar tindakan kita benar, kecewa tapi tidak mengeluh, marah tapi tidak membenci, gagal tapi tidak menyerah, pernah disakiti tapi tidak dendam, sukses tapi tidak lupa diri, sedih tapi masih bisa tersenyum, iri tapi dijadikan motivasi, terpuruk tapi tetap optimis. Ini rumus kehidupan yang layak kita praktekkan.

Rawatlah ikhlas kita dan biarkan takdir memeainkan perannya. Tidak perlu khawatir dengan perasaan kita. Allah pasti tahu lelah kita, yakinlah Allah tahu niat kita. Jangan membenci sesuatu yang Allah takdirkan untuk kita, sebab, setiap ujian ada pahala, setiap sakit penghapus dosa, setiap kehilangan akan diganti, setiap musibah ada hikmahnya.

Adakalanya kita perlu menjadi lilin, membakar diri untuk menerangi, adakalanya kita perlu menjadi pohon untuk menjadi tempat berteduh bagi yang memerlukan. Adakalanya kita perlu menjadi tisu, dikoyak rapuh namun teguh menyapu air mata yang mengalir. (Zainul Asri)

Sebuah masalah itu seperti air keruh, jika diaduk terus menerus, ia akan menjadi semakin keruh dan hitam. Tapi coba didiamkan, maka dengan sendirinya ia akan jernih. Begitupun dengan permasalahan manusia, jika terus dipertanyakan kenapa Allah memberi kita ujian, maka semakin gelisah dan tak tentu arah hidup kita. Tapi, jika kita jalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran, maka kita akan menemukan hikmah yang tersembunyi di dalamnya.

Sabar saja, semua ada saatnya, tidak perlu bertanya kapan dan tidak semua yang kita inginkan Allah langsung ijabah. Jalani semampunya, nikmati seadanya dan syukuri segalanya. Yakini saja Allah akan memberikan bukan di saat yang cepat melainkan di saat yang tepat.

Telan saja dulu semuanya, sampai kita benar benar bisa melihat mana yang menyakitimu, mana yang membuat diri kita sejatuh jatuhnya. Terkadang diam bukan berarti kita kalah. Tapi itu adalah cara mengalah terbaik untuk diam diam pindah jalan ke jalur langit.

Terkadang kita harus menutup mata untuk menjaga kesabaran, terkadang kita harus tulikan telinga untuk menjaga keikhlasan, terkadang kita harus mendiamkan mulut untuk menjaga ketabahan, karena adakalanya kita harus menjaga hati kita sendiri supaya tidak disakiti dan menyakiti.

Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya, biarkan takdir menentukan segalanya, tugas kita hanya menjalani, menikmati dan mensyukuri semua yang diberika-Nya, takdir milik Allah, tapi usaha dan doa milik kita.

Ketika hari gelap, baru tersadarkan apa artinya terang. Ketika kekeringan baru tersadarkan betapa berartinya air. Ketika kehilangan baru tersadarkan apa artinya memiliki. Ketika sakit baru tersadarkan betapa berartinya sehat, ketika berpisah baru tersadarkan seberapa nikmatnya kebersamaan.

Terkadang menjauh dari seseorang bukan sebab ingin memutuskan tali silaturrahmi tapi ingin membiarkan masalah kita sirna dengan sendirinya. Kita sengaja tidak ingin menceritakan kembali takdir yang sudah terjadi. Itu memang kehendak yang Maha Kuasa dan biarkan saja semesta yang menjawab. Sekaligus ingin menata kembali langkah langkah kehidupan berikutnya tanpa terbebani dengan sesuatu yang sudah terjadi.

Itu bukan kita benci, tapi hanya menjaga hati. Jika ‘kesendirian’ ini dinilai tidak baik, tidak mengapa, karena kita memang berniat untuk menyelesaikan masalah diri. Tapi kalau dinilai baik, syukur, semua hadir dalam hidup kita memiliki perannya masing masing, ada yang kebahagiaan, ada yang memberikan kepedihan.

Mungkin bukan hari ini, tapi suatu hari nanti semuanya akan sangat masuk akal, kita akan memahami mengapa semua ini terjadi pada kita, hati kita akan mulai lapang dan kita akan percaya bahwa sebenarnya Allah tidak menggagalkan rencana kita, melainkan Dia hanya menggantikan dengan rencana-Nya yang jauh lebih indah.

Ikuti kata hatimu, jangan ikuti kata orang lain, karena yang membuatmu bahagia adalah dirimu sendiri bukan orang lain. Jangan dengar yang tidak perlu didengar, jangan lihat yang tidak perlu dilihat, jangan cari tahu apa yang tidak perlu kita tahu. Jangan bicarakan apa yang tidak perlu dibicarakan. Hiduplah seperti garam, secukupnya saja.

Yakinlah bahwa Allah senantiasa mendampingi kehidupan ini dalam setiap denyut nadi, dan akan merealisasikan impian kita  dengan cara-Nya, maka tenanglah Allah tahu apa yang terbaik untuk kita.

Memang perjuangan itu tidak mudah untuk menjadikan semuanya indah. Ada banyak resah yang harus diubah menjadi tabah, ada banyak lelah yang tidak boleh kalah dengan kata menyerah. Tetap melangkah dan jangan menyerah. Lelahmu menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.

  • Kalau sesuatu itu milikmu, dia akan mencari jalan untuk mendekat, tapi sebaliknya kalau itu bukan milikmu (lagi), ada ada saja jalan baginya untuk menjauh. Dan itulah takdir. Wallahu a'lam bish-shawab!

(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)

Tag:


PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID