Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
Prinsip ideal dari pendidikan adalah kejujuran. Kejujuran artinya mengatakan atau melakukan apa adanya tanpa mengubah atau menambah suatu objek yang akan di sampaikan. Sebenarnya kualitas pendidikan tergantung kualitas kejujuran pengajar dan stateholder (Republika). Namun, kejujuran pada zaman sekarang sangat langka.
Pendidikan adalah proses yang suci, semua pihak harus mengedepan dan mengambil langkah langkah suci agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Inti dari pendidikan adalah proses pembelajaran, terjadi interaksi dan komunikasi antar ‘citizen’ di ruang kelas. Memang ruang ini kecil, rata rata 4 x 4 meter, tapi ruang kecil ini akan menentukan masa depan bangsa.
Jika ruang kelas adalah sebuah galaksi, seperti bumi yang selalu mengitari matahari, maka ‘matahari’ nya ruang kelas adalah guru. Guru adalah pusat dari ‘tata surya’ ruang kelas, siswa selalu mengelilingi matahari. Kalau matari bersinar, maka terang ruang kelas, atau sebaliknya kalau matahari ‘tidak bersinar’ maka gelaplah ruang kelas itu.
Setiap perubahan yang terjadi di ruang kelas, iklim, cuaca, musim, sangat tergantung pada matahari. Kesejukan, kepanasan, pasang surut, bencana juga dipengaruhi oleh matahari. Jadi semua energi yang timbul baik positif atau negatif akan bersumber dari matahari. Boleh dikatakan tidak ada ‘kehidupan’ bila tidak ada matahari.
Itulah guru. Dia memiliki kekuatan yang maha besar, dia bisa mengubah banyak hal, semua pihak tergantung dari kekuatan yang dimiliki. Guru harus memperhitungkan bahwa dinamika yang terjadi di ruang kelas sangat bergantung pada ‘kekuatan’ guru. Dia tidak boleh ‘main main’ dalam menjalankan tugasnya.
Karena ‘matahari’ memiliki kekuatan ‘maha panas’, sehingga tak satupun ‘orang’ yang bisa melihat dan ‘mendekat’ untuk menyaksikan bagaimana guru itu bekerja. Kekuatan ‘super power’ guru ini membuat pihak lain ‘hanya’ mendengar ‘kabar’ bagaimana guru menyelesaikan tugasnya.
Karena memiliki kekuatan yang ‘maha dahsyat’, maka sifat yang ideal dimilki guru adalah sifat jujur, Kekuatan ‘besar’ guru hanya bisa dikendalikan oleh kejujuran. Sikap kejujuran itu: apakah guru merencanakan pembelajaran dengan jujur, melaksanakan dan menilai pembelaran dengan jujur, apakah guru jujur mengakui kekurangan diri? Apakah guru jujur mau terus belajar. Kemudian apakah guru jujur menerima hasil penilaian kinerja meskipun dinilai tidak memuaskan dan apakah guru jujur dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan.
Apakah guru jujur bahwa guru mengetahui dan menindaklanjuti proses pendidikan itu adalah suatu proses pendewasaan terhadap manusia secara khusus. Karena mengajar itu memang harus dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kriteria khusus dan harus memiliki keilmuan bercirikan khusus pula. Harus menyadari bahwa mengajar dan mendidik itu adalah satu pekerjaan yang memiliki objek sama yakni siswa tetapi potensi, kebutuhan, latar belakang, perasaan yang berbeda.
Kejujuran guru itu sangat vital dalam dunia pendidikan. Apa jadinya bila seorang guru yang tugasnya membangun karakter siswa, memperkaya ilmu pengetahuan siswa “tidak memahami” bagaimana cara yang tepat dan benar dalam mewujudkan hal tersebut, maka ‘menyimpanglah’ tugas si guru itu. Kalau tidak ada pihak yang ‘menegur’, ketidaktepatan mengerjakan tugas diluar dari ketentuan yang berlaku maka hasil pekerjaannya akan ‘salah sasaran’, dan inilah yang akan menyebabkan si anak ‘gagal’ memperoleh haknya pembelajaran yang sebenarnya.
“Kegiatan salah sasaran” dan “ketidakpahaman” tersebut dilakukannya berulangulang, sepanjang tahun, “tanpa ada usaha dan niat” untuk memperbaikinya, ini sesungguhnya ‘neraka’ dunia pendidikan kita. Dalam konteks ini, guru ‘tidak jujur’ dengan apa yang dilakukan akan ‘mengaburkan’ masa depan anak bangsa. Dan ini harus menjadi perhatian pihak punya kewenangan ‘menegur’ guru.
Yang diharapkan dari guru adalah mengakui ketidaktahuan, ketidak pahaman, ketidak mengertian, dan mau belajar. “Jujurlah” menjadi kata kunci. Jangan sampaikan guru ‘pura pura’ paham dan menyembunyikan ketidak tahuannya demi gengsi. Gengsi menyatakan ketidaktahuan inilah pangkal; dari ketidak bermutuan proses pembelajaran.
Tanda tanda guru gengsi menyatakan ketidaktahuan: a) sudah puas dengan ilmu yang dimiliki padahal ilmu pengetahuan terus berkembang, b) Jika dikritik dan diberikan masukan, maka dijawab, ‘saya sudah tahu’, padahal sesungguhnya ia tidak “tahu”, c) perangkat administrasi kelihatan ‘sempurna’, padahal hasil ‘copy-paste, d) tidak mau diajak diskusi akademik dengan ‘seribu’ alasan, e) kalau berhasil, itu hasil kerjanya, tapi kalau gagal, selalu mencari ‘kambing hitam’ bila ada permasalahan, f) selalu ingin dipuji, pendapat harus ‘didengar’, kalau tidak dia akan ‘merajuk’.
Ketika semua orang seakan terlupa dengan kejujuran, maka guru harus terdepan dalam bersikap dan bertindak jujur, guru harus berani memproklamirkan diri sebagai profesi yang dihiasi dengan nilai nilai kejujuran, terutama dalam menjalankan tugas dalam proses pembelajaran. Kejujuran guru diimplementasikan dalam bentuk sikap yang jelas dan tegas, berbentuk prilaku bermoral bernilai tinggi atas praktek profesi guru yang dilakukan.
Al Qur'an menjelaskan bahwa perbuatan tidak jujur atau penyimpangan sebenarnya bersumber dari hati yang sedang sakit. Solusinya adalah dengan mengobati penyakit hati itu. Sepanjang penyakit itu belum sembuh, siapapun yang menderitanya, pasti akan melakukan penyimpangan. Rasanya tidak ada manusia yang terbebas dari penyakit yang satu ini. Oleh karena itu, jika ada yang ‘menderita’ penyakit ini, jangan dianggap aneh, penyakit memang berpotensi dimiliki oleh semua orang.
Cara yang paling ampuh mengobati penyakit ini dengan kembali nilai nilai agama dengan mempersepsikan bahwa apa yang dilakukan guru di ruang kelas apalagi mendidik anak bangsa merupakan bagian dari ibadah yang pahalanya terus mengalir. Kalau ini bisa dilakukan, maka dengan sendirinya kejujuran akan tumbuh dengan sendirinya. Dan inilah muhasabah yang bisa dilakukan.
Bermuhasabah menjadi alternatif yang bisa dilakukan. Orang yang selalu bermuhasabah, insya dAllah hatinya akan sehat. Manakala hati mereka sudah sehat, maka kejujurannya akan datang. Guru yang hatinya sehat tidak memerlukan ‘presensi online’, pengawasan yang datang dari luar dirinya. Pada dirinya sudah terkumpul kekuatan untuk melaksanakan tugas dengan baik tanpa harus diawasi.
Guru yang tidak jujur dalam menjalankan tugasnya sejatinya merugi. Jika ketidak jujuran tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa. Dan, jika hak ini diketahui pihak lain, dia tidak akan dipercaya lagi dan bisa diberi ‘gelar’ guru tidak profesional. Harus diakui, kebiasaan tidak jujur itu sangat berbahaya, tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Kepercayaan dan kewibawaannya akan hilang.
Robert Blair mengatakan berinovasilah. Jangan pernah biarkan orang lain mengatakan kamu tidak bisa! Jadilah guru pembelajar dan jujur pada profesi. Wallahu a'lam
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)