Mengembalikan Kesadaran yang Hilang (Loss Awareness)

Penulis: Redaksi - Senin, 27 Oktober 2025 , 15:56 WIB
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd


Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd

​A. Pendahuluan

​Dunia modern, dengan segala kemajuan teknologinya, secara paradoks telah membawa manusia pada jurang keterasingan spiritual. Kita hidup dalam hiruk-pikuk informasi, namun mengalami kekeringan batin yang akut. Fenomena ini, yang dalam kajian ini kita sebut sebagai Kehilangan Kesadaran (Loss Awareness), bukan sekadar lupa biasa, melainkan pengabaian sistematis terhadap hakikat diri dan tujuan eksistensi. Inti dari kesadaran yang hilang ini adalah Zakara, sebuah istilah yang kita gunakan untuk merujuk pada Kesadaran Peringatan atau Pengingat Ilahi yang bersifat primordial dan Transedental. Kehilangan Zakara telah menyebabkan krisis multidimensi, dari keruntuhan moral kolektif hingga kekosongan eksistensial individu.

​Paper ini bertujuan untuk mendiagnosis Kehilangan Kesadaran ini dengan menyelami fondasi Kesadaran (Zakara) dalam tradisi spiritual. Kita akan membedah hakikat Zakara sebagai inti kemanusiaan yang berpusat pada Dhamir (Hati Nurani), menelusuri penyebab-penyebab mendalam mengapa Zakara tertutup dari diri manusia, dan pada akhirnya, menawarkan kerangka pemulihan (restorasi) Kesadaran Ruhiyah-Ilahiyah ini. Restorasi ini diposisikan sebagai kiblat baru bagi tiga fakultas utama manusia, akal (Aql), hati (Qalb), dan nafsu (Nafs)—untuk kembali menemukan keterhubungan abadi dengan Sang Pencipta. Kajian ini akan menggabungkan kedalaman wawasan spiritual dari Kitab Kuning dengan analisis filosofis dan psikologis modern, menjadikan narasi ini bersifat ilmiah namun santai dan mudah dicerna.

​B. Paradigma Kesadaran (Zakaro): Inti Makna Kemanusiaan

​Hakikat kemanusiaan sejati (al-insan al-kamil) tidak diukur dari kecerdasan kognitif semata, melainkan dari intensitas Zakara yang dimilikinya. Zakara adalah kesadaran tertinggi yang mengakar pada janji primordial dan transedental manusia kepada Tuhannya (mitsaq). Ia adalah "Memori Ilahi" yang tersimpan dalam fitrah, saat mana janji dan persaksian ruh dengan Tuhan dilakukan ketika manusia masih dalam rahim ibunya.

​1. Zakara sebagai Memori Ontologis dan Dhikr

​Zakara berakar pada konsep Dhikr (mengingat/peringatan) yang melampaui ritual lisan. Sebagaimana dijelaskan oleh Seyyed Hossein Nasr, Dhikr adalah "keadaan batin yang waspada dan terkoneksi" (Nasr, 1989, hlm. 78). Zakara adalah pengakuan batin bahwa eksistensi kita bergantung penuh pada Allah. Kehilangan Zakara adalah kegagalan untuk mengingat hakikat diri.

​Ayat Al-Qur'an secara tegas mengaitkan Dhikr dengan ketenangan batin:

​“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)

​Ayat ini mengindikasikan bahwa ketenangan (thuma'ninah) adalah fungsi langsung dari Zakara. Tanpa Kesadaran ini, hati (Qalb) akan senantiasa gelisah, mencari jangkar yang mustahil ditemukan di dunia materi.

​2. Zakara dan Integrasi Fakultas Kemanusiaan

​Zakaa adalah kekuatan sentral yang mengintegrasikan tiga dimensi psikologis dan spiritual manusia:

​Aql (Intelektual): Zakaro memastikan akal berpikir secara transenden. Akal yang tercerahkan oleh Zakara (al-'aql al-mustanir) tidak hanya memahami "apa" dan "bagaimana" dunia bekerja, tetapi juga "mengapa" (Hikmah). Ia memandang alam semesta sebagai Ayat (tanda-tanda) kekuasaan Ilahi.
​Qalb (Hati Spiritual): Dalam tradisi Islam, Qalb (hati) adalah pusat spiritual, bukan sekadar organ pemompa darah. Hadis sahih menegaskan sentralitas ini:​“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati (Al-Qalb).” (HR. Bukhari dan Muslim). Zakaro adalah makanan utama bagi Qalb.
​“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati (Al-Qalb).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Zakara adalah makanan utama bagi Qalb.

​Nafs (Jiwa/Ego): Zakaro adalah penjinak Nafs. Ia menuntun Nafs dari tingkatan rendah (al-Nafs al-Ammarah bis-Suu’, nafsu yang mendorong pada kejahatan) menuju tingkatan tertinggi (al-Nafs al-Muthmainnah, jiwa yang tenang).

​Zakara dengan demikian adalah inti makna kemanusiaan karena ia merupakan daya penggerak utama menuju kesadaran Ilahiyah.​

​C. Kesadaran Ruhiyah - Kesadaran Ilahiyah: Berpangkal di Hati Nurani (Dhamir)

​Kesadaran yang hilang (Zakara) sesungguhnya berpangkal pada inti terdalam diri manusia, yaitu Dhamir (Hati Nurani atau Conscience). Dhamir adalah reservoir fitrah dan benteng moral yang Allah tempatkan di setiap jiwa.

​1. Dhamir: Fitrah dan Kompas Moral
​Dhamir adalah manifestasi Kesadaran Ruhiyah (kesadaran akan asal-usul Ruh yang ditiupkan oleh Allah). Dalam kerangka sufi, Dhamir seringkali dianggap sebagai dimensi Sirr (rahasia) atau Ruh yang paling murni dalam Qalb (Al-Jili, 2000, hlm. 112). Di sinilah letak Kesadaran Ilahiyah, keyakinan intuitif dan pengakuan konstan terhadap Ketuhanan (Tauhid).

​Dhamir berfungsi sebagai kompas moral universal. Sebelum Aql sempat menganalisis untung rugi duniawi, Dhamir sudah memberikan sinyal etis (Al-Muhasibi, 1980, hlm. 90). Rasulullah saw. bersabda tentang dosa sebagai sesuatu yang mengganjal hati:

​“Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang mengganjal dalam hatimu, dan kamu tidak suka diketahui oleh manusia.” (HR. Muslim).

​Dhamir yang hidup oleh Zakaro adalah Dhamir yang selalu "menggugat" dan "mencerca" diri sendiri ketika melakukan kesalahan (Nafs al-Lawwamah), menjadikannya jembatan menuju Nafs al-Muthmainnah.

​2. Keterkaitan Ruhiyah dan Ilahiyah

​Kesadaran Ruhiyah adalah kesadaran akan hakikat ruh yang bersifat Amr (perintah) Allah, sedangkan Kesadaran Ilahiyah adalah kesadaran akan pengawasan (Muraqabah) dan Kehadiran (Hadrah) Allah. Keduanya tidak terpisahkan. Ketika Dhamir dijaga oleh Zakaro, manusia hidup dalam kesadaran kehadiran Allah, mengubah seluruh tindak-tanduknya menjadi ibadah.

​Dalam konteks filosofis Barat, hal ini disebut conscience yang terhubung dengan dimensi transenden. Tanpa Zakara yang menghidupkan Dhamir, manusia kehilangan kemampuan untuk merespons penderitaan orang lain, menjadi individualistik dan sinis (Smith, 1999, hlm. 55).​

​D. Mengapa Kesadaran (Zakara) Hilang dari Manusia: Kemana Perginya Zakara?

​Zakaro sejatinya tidak hilang, melainkan tertutup (hijab) oleh lapisan-lapisan kekotoran batin yang disebut Rān (karat hati sanubari). Kesadaran itu terperangkap di dalam Dhamir yang telah tumpul. Pertanyaannya bukan "Kemana perginya Zakara?", melainkan "Apa yang telah kita lakukan sehingga Zakara tidak lagi mampu bersuara dan bersinar?"

​1. Dominasi Nafs al-Ammarah dan Ghurur Dunia

​Penyebab utama hilangnya Zakara adalah hegemoni Al-Nafs al-Ammarah bis-Suu’ (Nafsu yang Memerintah kepada Kejahatan). Nafsu ini, didorong oleh syahwat, harta, dan jabatan, secara terus-menerus menumpuk materia dunia di atas hati. Allah berfirman:

​“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu menutupi hati mereka.” (Q.S. Al-Muthaffifin [83]: 14)

​Karatan ini membuat hati buta terhadap tanda-tanda kebenaran. Manusia terjerat dalam Ghurur (tipuan dunia), menjadikan harta dan anak sebagai tujuan, bukan sarana (Q.S. At-Taghabun [64]: 15).

​2. Rasionalisme yang Terputus (Al-Aql al-Ma'ashi)

​Penyebab kedua adalah penggunaan akal (Aql) yang terputus dari bimbingan spiritual. Akal yang hanya berorientasi pada hal-hal empiris dan materi (materialisme reduksionis) tidak mampu melampaui batas fisikal. Akal jenis ini memandang realitas hanya sebagai data, mengabaikan dimensi transenden. Akibatnya, ia menjadi budak Nafs, bukan pemimpinnya. Modernitas, dengan mengagungkan akal positivistik, secara kolektif meredupkan Zakaro di hati masyarakat.

​3. Krisis Eksistensial dan Kehampaan Modern

​Secara psikologis, hilangnya Zakara bermanifestasi dalam kekosongan eksistensial (existential vacuum). Meskipun individu mencapai kesuksesan materi, mereka tetap merasa hampa dan tidak berarti (Frankl, 1984, hlm. 120). Kekosongan ini terjadi karena jangkar spiritual (Zakaro) telah ditarik dari Dhamir. Di tengah gemerlapnya dunia, manusia menjadi alien bagi dirinya sendiri.

​E. Kesadaran Ruhiyah (Dhamir) - Zakaro: Kiblat 'Aqli, Qalbi, dan Nafs Menuju Ilahiyah

​Upaya mengembalikan Zakara yang hilang adalah proyek Tazkiyatun al-Nafs (Penyucian Jiwa) secara komprehensif. Tujuan akhir adalah menjadikan Dhamir yang hidup oleh Zakara sebagai kiblat internal yang mengarahkan seluruh fakultas manusia menuju Kesadaran Ilahiyah.

​1. Memfungsikan Kembali 'Aqli: Dari Zakara menuju Ma'rifah

​Restorasi 'Aql bermula dari Tafakkur (perenungan mendalam) yang dibimbing oleh Zakara. Akal harus didorong untuk merenungkan kebesaran Allah di alam semesta, yang dalam Sufisme disebut Ayat (Chittick, 1994, hlm. 205). Zakaro mentransformasi akal dari sekadar instrumen data menjadi instrumen Ma'rifah (pengetahuan intuitif Ilahi). Akal kemudian bertindak sebagai penasihat spiritual bagi Nafs dan Qalb.

​2. Menghidupkan Kembali Qalbi: Sentralitas Dhikrullah

​Qalb adalah arena utama pertempuran. Pembersih (detergent) utama yang menutupi Qalb adalah Dhikrullah (mengingat Allah) secara berkelanjutan. Dhikr adalah praktik menghadirkan Zakara di setiap saat. Ini termasuk ritual (salat, tilawah Qur'an), serta non-ritual (refleksi dan Muraqabah).

​Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa penyembuhan hati hanya dapat dicapai melalui penghayatan makna Asmaul Husna, yang merupakan esensi dari Zakaro (Al-Ghazali, 1993). Hati yang telah suci akan menjadi Qalb Salim (hati yang selamat), satu-satunya hal yang berguna di hari akhirat (Q.S. Asy-Syu'ara [26]: 88-89).

​3. Mendisiplinkan Nafs: Meraih Muthmainnah

​Zakara yang kuat membekali Nafs dengan kemampuan Mujahadah (perjuangan keras) dan Riyadhah (latihan spiritual). Ini adalah proses mendisiplinkan Nafs al-Ammarah sehingga ia naik tingkat menjadi Nafs al-Muthmainnah (Jiwa yang Tenang). Puncak dari restorasi Zakara ini direkam oleh Al-Qur'an:

​“Wahai jiwa yang tenang (Nafs al-Muthmainnah)! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

​Kiblat Zakara memastikan bahwa setiap aktivitas Aql, Qalb, dan Nafs memiliki titik balik yang sama: ketaatan dan cinta (Hubb) kepada Ilahi. Restorasi ini adalah penemuan kembali orientasi sejati kehidupan.​

​F. Penutup

​Kehilangan Kesadaran (Loss Awareness), atau meredupnya Zakara, adalah isu krusial yang mendefinisikan krisis kemanusiaan di era kontemporer. Zakara, Kesadaran Ruhiyah-Ilahiyah yang bersemayam dalam Dhamir, adalah pusat integritas moral dan spiritual manusia. Ia hilang bukan karena dicabut, melainkan karena tertutup oleh karat dosa, dominasi hawa nafsu sanubari (al-Nafs al-Ammarah) dan keterputusan akal dari sumber wahyu.

​Mengembalikan Zakara adalah panggilan untuk melakukan revolusi batin, yang menuntut penyucian jiwa (Tazkiyatun al-Nafs) secara menyeluruh. Ini berarti mengarahkan Aql menuju Ma'rifah, menghidupkan Qalb dengan Dhikrullah yang konstan, dan mendisiplinkan Nafs menuju ketenangan (Muthmainnah). Ketika Zakara kembali bersuara nyaring di Dhamir, seluruh fakultas diri menemukan kiblatnya, dan manusia kembali menjadi khalifah yang sadar dan bertanggung jawab.

​Restorasi Zakara menjanjikan bukan hanya kedamaian individu, tetapi juga fondasi moral yang kokoh bagi peradaban. Dengan demikian, tugas terpenting manusia hari ini adalah menanggapi seruan abadi ini: Mengembalikan Kesadaran yang Hilang dan kembali kepada Sang khalik dalah kesadaran Ruhiyah - kesadaran ilahiyah.

(Penulis merupakan Guru Besar - Ketua Senat UIN STS Jambi)

​Refetensi:

​A. Kitab Kuning
​Al-Ghazali, A. H. (1993). Ihya' 'Ulumuddin (Jilid III, Bab Dhikr dan Nafs). Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah. (hlm. 45, dst.)
​Al-Muhasibi, A. A. (1980). Al-Ri’ayah li Huquqillah. Beirut: Dar al-Fikr. (hlm. 90, dst.)
​Al-Qusyairi, A. K. (t.t.). Al-Risalah al-Qusyairiyyah. Kairo: Dar al-Ma'arif. (hlm. 150, dst.)
​Al-Jili, A. A. (2000). Al-Insan al-Kamil. Kairo: Maktabah al-Thaqafah al-Diniyyah. (hlm. 112, dst.)
​Ibn 'Ata'illah al-Sakandari. (t.t.). Al-Hikam (Aforisma tentang Qalb dan Dhikr). (hlm. 20, dst.)
​Ibn Taimiyyah, A. A. (1995). Majmu' al-Fatawa (Jilid 10: Tentang Suluk dan Dhikr). (hlm. 50, dst.)
​An-Nawawi, M. (1972). Riyadhus Shalihin (Bab Dhikr dan Muraqabah). (hlm. 180, dst.)
​Ibn Qayyim al-Jauziyyah. (t.t.). Madarij al-Salikin. (hlm. 300, dst.)
​As-Sulami, A. A. (1960). Haqaiq al-Tafsir. (hlm. 100, dst.)
​Al-Tirmidzi, A. M. (1996). Adab al-Nufus. (hlm. 65, dst.)
​Al-Hakim al-Tirmidzi. (t.t.). Khatm al-Awliya'. (hlm. 40, dst.)
​Fakhruddin al-Razi. (2000). Mafatihul Ghaib/Tafsir Kabir (Tafsir Q.S. Ar-Ra’d: 28). (hlm. 210, dst.)
​Jalaluddin as-Suyuthi. (t.t.). Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. (hlm. 15, dst.)
​Abdullah ibn 'Alawi al-Haddad. (1995). Risalatul Mu'awanah. (hlm. 70, dst.)
​Imam Malik ibn Anas. (2004). Al-Muwatta' (Kitab Dhikr). (hlm. 95, dst.)
​B. Buku
​Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the Sacred. Albany: State University of New York Press. (hlm. 78)
​Chittick, W. C. (1994). Imaginal Worlds: Ibn al-'Arabī and the Problem of Religious Diversity. Albany: State University of New York Press. (hlm. 205)
​Smith, H. (1999). The World's Religions. New York: HarperOne. (hlm. 55)
​Frankl, V. E. (1984). Man's Search for Meaning. New York: Washington Square Press. (hlm. 120)
​Schuon, F. (2004). Understanding Islam. Bloomington: World Wisdom. (hlm. 35)
​Lings, M. (1991). What Is Sufism? London: Islamic Texts Society. (hlm. 88)
​Fromm, E. (1956). The Art of Loving. New York: Harper & Row. (hlm. 10)
​Taylor, C. (2007). A Secular Age. Cambridge: Harvard University Press. (hlm. 400)
​Wilber, K. (2000). A Theory of Everything. Boston: Shambhala Publications. (hlm. 15)
​Corbin, H. (1998). The Concept of Comparative Philosophy. Tehran: Institute of Islamic Studies. (hlm. 60
Hidayat, K. (2018). Psikologi Kebahagiaan. Jakarta: Mizan. (hlm. 40)
​Qardhawi, Y. (2000). Konsep Islam tentang Kesadaran dan Pengawasan Diri. Jakarta: Gema Insani. (hlm. 75)
​Zainuddin, A. (2015). Filsafat Kesadaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hlm. 120)
​Nurcholish, D. (2005). Islam, Pluralisme, dan Akomodasi Budaya. Jakarta: Paramadina. (hlm. 90)
​Latif, S. (2020). Menuju Manusia Sejati: Refleksi Spiritualitas dan Moralitas. Jakarta: Gramedia. (hlm. 15)



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID