Puasa Menjadi Pribadi Inklusif

Penulis: - Selasa, 22 Mei 2018 , 04:40 WIB


JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Setiap tahun umat Islam yang beriman dipanggil menunaikan kewajiban rukun Islam yang ketiga yakni berpuasa. Bahkan puasa disunahkan oleh Rasululah agar setiap minggu dilaksanakan minimal dua kali, Senen dan Kamis.

Artinya puasa telah baku menjadi fondasi Islam dan prioritas bagi yang beriman. Siapa saja dan sekecil apapun iman seseorang justru puasa akan dapat memantapkan dan mengokohkan keimannanya.

Mengapa demikian? Karena dalam puasa ada dimensi ego pribadi sektoral yang harus dikreasikan menjadi dimensi sosial komunal. Sehingga hal-hal yang sifatnya ekslusif individual yang serba aku dan keakuan dikelola menjadi sikap inklusif komunitas menjadi kekitaan.

Di sinilah puasa dapat membendung bertahtanya kekuatan dimensi Jin, Setan dan Iblis dalam diri manusia yang hidup dalam dimensi congkak, sombong, pongah, dan egois.

Iblis cs telah dengan sombong memproklamirkan dirinya sebagai satu makhluk yang hebat sehingga berani menantang kekuasaan Allah. Kata populer pembangkangan dan sombongnya iblis cs ini adalah "ana khairu minhu". Aku lebih baik dari dia (manusia), aku lebih sempurna dari dia!!!

Pernyataan yang sama acapkali kita dengar keluar dari pernyataan manusia, yang esensinya adalah menunjukkan dirinya lebih hebat, lebih baik, lebih kaya, lebih pantas dan sebagainya. Ternyata dia lupa, bahwa sesungguhnya dia telah terperangkap oleh kroni dan egonya Setan cs.

Padahal, sekalipun manusia telah diciptakan Allah dengan sebaik-baiknya, seelok-elok ciptaan dan seindah-indah rupa di antara semua makhluk, namun tetap saja manusia diciptakan dalam keadaan lemah "wakhuliqul insaanu dhaif". Dan Allah ingatkan kita, jangan kamu melangkah di muka bumi ini dengan sombong "wala tamsi fil ardi maroha".

Pesan-pesan spirirual inilah yang mesti diejawantahkan oleh tiap pribadi secara manusiawi. Tiap keangkuhan dan kesombongan pasti bermuara dengan kejatuhan yang dihinakan, baik dihadapan manusia dan pengadilan Allah. Telah banyak bukti sejarah yang mengisahkan tentang kesombongan ini, ada Qabil, ada Fir'aun ada Qarun, dan lainnya, sang penguasa di dunia.

Ibadah puasa sebagai ibadah individual mengajarkan kepada kita, agar dapat menata ego esklusif individu kita, menjadi pribadi yang inklusif yang peduli sesama dan lingkungan.

Ada dimensi sosial yang amat mulia yang semestinya terbingkai dari puasa, karena sejatinya kita kata Rasulullah, adalah makhluk sosial yang mesti membuka kran-kran cinta terhadap saudara dan komunitas sosial maupun lingkungan sebagaimana kita cintai diri kita sendiri. Salam inklusif.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID