Antusiasme Siswa SD Menteng 03 Jakarta saat simulasi mencoblos dalam Pemilu 2019 lalu di Kantor KPU JERNIH.ID, Kota Jambi - Gan, sudah tahu belum kalau politik bukan hanya urusan orang dewasa? Apalagi, berpolitik adalah hak yang sudah dijamin bagi setiap warga negara di Indonesia sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Oleh karena itu, sebagai orang tua, menerapkan cara mengenalkan politik pada anak sangat dianjurkan agar anak jadi melek politik sejak dini, Gan!
Apalagi, politik bukan hanya soal kekuasaan. Sebab, politik juga berkaitan erat dengan sikap toleransi, menghargai pilihan dan pendapat orang lain, menghargai kebebasan untuk memilih, dan akhirnya menciptakan lingkuna yang damai dan harmonis di tengah masyarakat.
Lalu, bagaimana ya cara mengenalkan politik pada anak sejak dini mulai dari lingkungan keluarga? Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini ya, Gan!
1. Mulai dari hal-hal yang mendasar.
Seperti yang pasti sudah Anda ketahui, keluarga adalah lingkungan pertama di mana anak belajar dan membentuk karakter. Karena itu, cara mengenalkan politik pada anak yang paling awal adalah dimulai dari keluarga terlebih dahulu, Gan.
Dan perkenalkan kepada anak mulai dari hal-hal yang paling mendasar. Misalnya soal hak dan tanggung jawab, disiplin, menepati janji, kepedulian dan welas asih, dan sebagainya. Seluruh sifat-sifat tersebut yang membentuk pribadi anak akan membantunya bukan hanya dalam berpolitik setelah ia dewasa nantinya, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat.
2. Ajak anak berdiskusi dan dengarkan pendapatnya.
Seiring dengan bertambahnya usia, anak pun semakin menyadari apa yang ia mau dan inginkan. Di samping itu, kemampuan anak dalam bernalar dan mengobservasi lingkungannya juga meningkat. Karena itu, biasakan untuk mendengarkan pendapat anak dan mengajaknya berdiskusi, bahkan mulai dari hal sekecil tentang menu makan siang apa yang sebaiknya disiapkan, jajanan atau mainan yang ingin dibeli, dan sebagainya.
Dengan begitu, anak akan tumbuh sebagai pribadi yang senang berdiskusi dan bermusyawarah, mau mendengarkan pendapat orang lain, dan tidak segan untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri.
3. Sampaikan dengan apa adanya, tapi sesuai dengan proporsi dan usia anak.
Beberapa isu dalam kehidupan bermasyarakat dan berpolitik barangkali masih dirasa cukup berat untuk dipahami anak, terutama yang masih muda. Contohnya konflik perang, rasisme, dan terorisme. Meski begitu, bukan berarti Anda bisa melewatkan topik tersebut begitu saja, Gan!
Malah, sebagai orang tua, Anda perlu memperkenalkan topik-topik tersebut kepada anak sejak dini, tapi tentunya sesuai dengan proporsi dan usianya. Misalnya, gunakan buku cerita sebagai bahan dan cara mengenalkan politik pada anak sejak dini, dan gunakan istilah yang lebih mudah dicerna anak.
4. Ajarkan toleransi dalam perbedaan.
Ketika anak diajari untuk berdiskusi, pada dasarnya anak juga dipaparkan pada realita bahwa akan selalu ada perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya, terutama perbedaan pendapat. Lebih jauh lagi, perbedaan di tengah masyarakat juga dapat dilihat dari sudut pandang kelas sosial dan ekonomi, suku bangsa, agama, tingkat pendidikan, dan sebagainya.
Sebagai orang tua, ajarkan anak untuk selalu menghargai dan menerima perbedaan, dan membiasakan diri untuk berdiskusi dan bermusyawarah demi kebaikan dan kesepakatan bersama. Sebab, meskipun setiap orang berbeda, tekankan kepada anak bahwa pada dasarnya semua adalah manusia.
5. Sampaikan dengan cara yang ringan.
Walaupun politik seperti isu yang sangat serius dan berat, bukan berarti penyampaiannya harus selalu kaku, Gan. Anda bisa selipkan sedikit humor agar anak lebih bisa rileks dalam menerima wawasan tentang politik dari kedua orang tuanya. Meski begitu, tentu saja Anda harus tentukan batasan humornya, ya! Pastinya, jangan sampai humornya kebablasan hingga menjadi kasar atau sensitif, seperti menyinggung isu-isu SARA.
6. Ajarkan bagaimana cara menghadapi tekanan karena perbedaan.
Sayangnya, perbedaan masih dipandang sebagai sesuatu yang buruk dan digunakan sebagai cara untuk memisah-misahkan individu ke dalam golongan tertentu. Lebih buruk lagi, golongan minoritas pun berisiko untuk menerima tekanan dan diskriminasi.
Meskipun Anda tentu tidak menginginkan anak mengalami hal tersebut, Anda pun perlu menyiapkan mental anak agar siap menghadapi tekanan, atau bahkan bullying, karena dianggap berbeda dan tidak satu haluan di lingkungan sekitarnya.
Tanamkan ke dalam diri anak bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk diskriminasi, dan ajarkan pada anak bahwa ia punya hak untuk memiliki pendapatnya sendiri. Kemudian, infokan kepada anak apa yang sebaiknya perlu ia lakukan jika anak menerima tekanan atau diskriminasi karena dianggap “berbeda”. Dan pastinya, selalu berikan dukungan kepada anak untuk membantu mengurangi efek dari tekanan yang ia terima, seperti dengan selalu mendengarkan curhat anak.