Hikmah Pagi: Serpihan Hilyatul Auliya’

Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA
dok. pribadi
Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA
Pernulis: Redaksi

Oleh : Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA*

JERNIH.ID, Kota Jambi - Jauh sebelumnya penulis telah menuangkan goresan tentang Ibn Atho’illah As-Sakandary dengan Hikamnya, yang kemudian salah satu syarh (penjelasan) yang dianggap luar biasa adalah sebuah karya fenomenal dari Syekh Ramadlan al-Buthy yang bertajuk: ‘’Asy-Syarh Wa at-Tahlil’’. Bagaimana beliau mengemukakan: ‘’Tidaklah penting istilah ‘’tashawwuf’ yang kemudian hanya menjadi perdebatan panjang, yang paling penting adalah nilai subtansi dari tashawwuf itu sendiri yang melekat pada diri seseorang’’’. Maka menarik salah satu ucapan seorang ulama yang mengatakan: ‘’siapa yang hidup dengan berkaca kepada kehidupan Rasulullah maka ia telah menjalankan sunnah, siapa yang hidup dengan melihat akhlaq (bathin) Nabi maka ia adalah seorang sufi’’.

Imam Junnaid Ibn Muhammad beliau adalah seorang ulama’ hadits dikarunia otak yang sangat cemerlang, menjawab berbagai pertanyaan dengan jawaban dari berbagai ragam keilmuan, komunikasinya sangat memukau. Maka tak heran ketika beliau wafat di Baghdad tahun 298 H, tidak kurang dari 60.000 lautan manusia menshalatkan jenazah beliau. Sampai sekarang setiap hari ramai pengunjung yang berziarah untuk mendo’akan beliau. (Lihat: Tarikh Baghdad, Jilid: 7/241).

Beliau mengungkapkan: ‘’ Bahwa tashawwuf paling tidak mengandung 10 makna penting: ‘’Berupaya untuk tidak bermegah-megahan terhadap dunia, (2). Kemantapan hati terhadap Allah baik dalam kondisi diam maupun bergerak, (3). Sangat cinta dan senang dengan keta’atan dengan senantiasa menjalankan yang disunnahkan oleh Allah, (4). Bersabar terhadap hilangnya dunia, (5). Berupaya membedakan yang akan diambil (hal tersebut merupakan kebaikan atau keburukan), (6). Menyibukkan diri kepada Allah pada seluruh aktivitasnya, (7). Menyamarkan dzikirnya, (8). Berupaya untuk selalu ikhlas ketika terdapat was-was dalam setiap tindakan, (9). Yakin sepeuh hati kepada Allah, (10). Menyerahkan kepada Allah setiap ada guncangan jiwa maupun sebuah keburukan yang melekat’’. (Lihat: Hilyatul Auliya’, Jilid: 1/49).

Maka sungguh butuh perjuangan ketika seseorang akan mendalami yang namanya tashawwuf, karena ia bukan hanya sekedar dengan lisan akan tetapi butuh penghayatan di dalam hati yang paling dalam.

Maka menarik salah seorang ulama yang bernama Abu Bakar Asy-Syibli (W. 334 H) seorang ulama terkemuka di masanya beliau mengatakan bahwa sebenarnya seorang Shufi (seorang yang dibersihkan hatinya) adalah: ‘’Seseorang yang Allah bersihkan jiwanya dari kekotoran, disucikan hati dari kotoran, otaknya dipenuhi dengan keilmuan, dan sama saja baginya mempunyai harta maupun tidak’’. (Lihat: Hilyatul Auliya’, Jilid: 1/53).

Maka kata “Tashawwuf” tidak perlu diperdebatkan karena ia merupakan salah satu karakter yang baik yang melekat pada diri seseorang ketika hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah.

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita semuanya dan nantinya dikumpulkan bersama orang-orang shaleh Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.