Hikmah Pagi: Mutiara-Mutiara Pejuang Itu Lahir Dari Pesantren Didikan Rasulullah

Penulis: Redaksi - Selasa, 21 Juli 2020 , 08:46 WIB
Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA
dok. pribadi
Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA


Oleh : Ustadz Dr. KH. Zainul Arifin, M.Ed, MA*

JERNIH.ID, Kota Jambi - Mungkin kita akan tercengang dengan judul di atas, judul di atas adalah benar adanya. Tatkala penyebaran Islam di Mekkah tidak mendapatkan respon yang cukup baik dari para penduduknya, namun nabi berhasil mengumpulkan generasi militan yang luar biasa separti Abu Bakr (W. 13 H), Umar (W. 23 H), Utsman (W. 35 H), ‘Ali (W. 40 H) dan lain-lain.

Tatkala hambatan itu muncul, Allah memerintakan nabi untuk berhijrah ke Madinah atau dahulu yang dikenal dengan “Yatsrib”, Beberapa saudagar kaya yang mendapatkan banyak keuntungan dari berdagang saat di Mekkah, harus memulai lagi dari nol.

Perbedaan kultur antara warga Mekah dan Madinah menjadi salah satu faktornya. Kultur masyarakat Madinah memiliki pencaharian sebagai petani, sedangkan orang Mekkah adalah pedagang.
Saat sampai di Madinah, mereka tidak mempunyai mata pencaharian, karena tidak memiliki lahan untuk bertani, sebaliknya, mereka juga tak bisa berdagang karena tidak memiliki cukup modal dan tempat untuk berdagang.

Peran Rasulullah dalam hal ini sangat penting. Pasalnya, saat tiba di Madinah, Rasulullah langsung membuat masjid (sebagai pusat kajian keislaman) dan pasar (sebagai pusat ekonomi masyarakat) serta mempersaudarakan antara orang Muhajirin dari Mekah dengan orang Anshar dari Madinah. Dua hal ini dianggap cukup sebagai salah satu cara untuk memperkuat pengetahuan agama maupun memperkuat ekonomi antara pribumi (Anshar) dan pendatang (Muhajirin).

Namun di antara para Muhajirin tersebut ada yang kurang beruntung, mereka tidak dapat “bagian”, yang akhirnya mereka tidak memiliki tempat tinggal dan tidak memiliki mata pencaharian. Kelompok inilah yang kelak disebut sebagai Ahlus Shuffah (as-Shuffah).

Kelompok ini disebut sebagai Ahlus Shuffah karena tinggal di bagian belakang Masjid Nabawi. Diriwayatkan bahwa dahulunya tempat yang dihuni oleh kelompok as-Shuffah ini adalah bagian mihrab masjid Nabawi saat kiblat masih menghadap ke Masjid al-Aqsha Palestina.

Setelah turun wahyu perpindahan kiblat, bagian ini kemudian diberi atap dan ditempati oleh kelompok Ahlus Shuffah. Ibn Jubair menyebutkan bahwa nama kelompok Ahlus Shuffah ini dinisbahkan pada “suffatu masjid an-Nabawi” yang sekarang dikenal sebagai Dikkah al-Aghawat. (Lihat: Sirah Nabawiyyah ash-Shahihah, Hal: 257-258).

Shuffah tidak hanya dijadikan asrama penampungan saja, tetapi fungsinya sebagai lembaga pendidikan atau pesantren untuk belajar membaca, mempelajari, mengkaji dan memahami al-Qur’an, al-hadits dan ilmu Keislaman. Oleh karena itu, menurut sebagian ahli shuffah dianggap sebagai pesantren pertama.

Inilah pesantren pertama di dunia untuk menggodok lahirnya generasi ahli ilmu dan ulama’

Para penghuni Shuffah ini mengfokuskan diri untuk belajar, beri’tikaf di masjid dalam rangka beribadah, Mereka senantiasa melaksanakan shalat, membaca al-Qur‘ân, mempelajari ayat-ayatnya, berdzikirdan sebagian dari mereka juga belajar baca tulis.

Maka tak heran lahir dari sini generasi emas, sebut saja Abu Hurairah (W. 59 H) sang penghafal hadits terbanyak sekitar 5374 hadits, lahir dari pesantren ash-Shuffah ini adalah Hudzaifah Ibn Yaman (W. 36 H) yang dikenal sangat cerdas, tanggap dan pemegang rahasia Rasulullah.

Tak hanya itu bahkan sebgagian dari mereka juga ikut jihad bersama Rasulullah. Terbukti, sebagian diantara mereka gugur dalam perang Badr, seperti Shafwan bin Baidha’ (W. 2 H), Salim bin ‘Umair (W. 50 H) dan Sebagian gugur di medan Uhud yaitu Khanzhalah Ibn Abu Amir al-Anshari (W. 3 H).

Maka tak heran kemerdekaan bangsa Indonesia juga lahir dari seorang santri dengan “Resolusi Jihadnya” yang dikomandoi oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Maka tak heran jika alumi pesantren ada yang menjadi ulama, politisi, birokrat, pedagang, TNI, Polri dan lain-lain. Karena sejarah telah menulis demikian, dan sejarah akan terus terulang, karena 1/3 al-Qur’an pun adalah sejarah.

Semoga Allah menjaga kita dan memberkahi kita semuanya di dunia maupun di akhirat kelak Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.

*Mudir Ponpes Darul Arifin Jambi



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID