Hikmah Pagi: Rabi’ah ar-Ra’yi Ibn Farrukh (W. 136 H) Bagian 2

Penulis: Redaksi - Sabtu, 29 Juni 2019 , 08:41 WIB


JERNIH.ID, Jambi - Ketika usianya sudah berberapa tahun, tanda-tanda ketangkasan telah nampak pada diri Rabi’ah. Nampak pula tanda-tanda kecerdasan pada perkataan dan tingkah lakunya. Oleh ibunya, Rabi’ah diserahkan kepada guru-guru agar mendapatkan pendidikan secara layak. Di samping itu, diundang pula pengajar dalam adab untuk mendidik budi pekertinya.

Dalam waktu yang tidak begitu lama, kecerdasar Rabi’ah berkembang begitu pesat. Pada mulanya mahir baca tulis, lalu hafal Al-Qur’an dan mampu membacanya dengan lantunan yang indah seperti tatkala dibaca oleh para sahabat terdahulu.
Ibunda Rabi’ah memberikan imbalan yang cukup dan hadiah-hadiah yang berharga kepada para guru putranya. Setiap kali nampak kemajuan pada diri Rabi’ah, dia tambahkan pemberiannya. Ini beliau lakukan untuk mewujudkan satu cita-cita yaitu menjadikan Rabi’ah sebagai bintang yang menerangi umat untuk menjadi bermanfaat bagi kaum muslimin.

Tahun demi tahun berlalu Rabi’ah telah berumur tiga puluh tahun, banyak masyarakat menyangka kalau istri dan anaknya telah di tinggal syahid oleh Farukh.

Suatu hari ada kejutan besar, seorang prajurit berusia enam puluhan tahun memasuki kota Madinah. Dia menyusuri jalan-jalan kampung menuju rumahnya dengan naik kuda. Dia tidak tahu apakah rumahnya masih seperti yang dahulu atau sudah berubah, karena telah dia tinggalkan sekitar tiga puluh tahun lamanya.

Waktu sore telah datang, tiba-tiba ia dapatkan dirinya telah berada di depan rumahnya. Dia dapatkan pintunya sedikit terbuka, kegembiraannya yang meluap menyebabkan ia lupa meminta ijin kepada tuan rumahnya. Ia pun langsung masuk rumah melalui pintu tersebut.

Si empunya rumah yang mendengar suara pintu terbuka menengok dari lantai atas rumahnya. Maka dalam cahaya bulan dilihatnya ada seorang yang menyandang pedang dan membawa tombak, malam-malam memasuki kediamannya.
Laki-laki yang menghuni rumah itu pun meloncat dengan marah dan turun sambil membentak, “Engkau berani memasuki rumah kami dan menodai kehormatan kami malam-malam, wahai musuh Allah?!”

Dia menerkam bagaikan singa yang mengamuk ketika sarangnya hendak dirusak. Tak ada kesempatan lagi untuk berbicara, keduanya langsung bergulat, saling terkam, saling tuduh dan makin lama makin panas. Para tetangga dan orang-orang di jalanan mengerumuni dua orang yang sedang berkelahi itu. Mereka hendak mengeroyok orang asing itu untuk membela tetangganya.

Beberapa jurus kemudian, laki-laki yang di rumah itu mencengkeram kuat-kuat leher lawannya seraya berkata, “Wahai musuh Allah, Demi Allah saya tak akan melepaskanmu kecuali di muka hakim!”

Orang asing itu berkata, “Saya bukan musuh Allah dan bukan penjahat. Tapi ini rumah saya, milik saya, saya dapati pintunya terbuka lalu saya masuk.” Dia menoleh kepada orang-orang sembari berkata, “Wahai saudara-saudara, dengarkan keterangan saya. Rumah ini milik saya, saya telah membelinya.

Wahai saudara sekalian, saya adalah Farrukh. Tidakkah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahu lalu pergi berjihad fi sabilillah?”

Bersaman itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur terbangun oleh keributan itu, lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya. Lidahnya nyaris kelu, namun dengan sekuat tenaga dia berseru, “Lepaskan lepaskan dia Rabi’ah, lepaskan dia, putraku, Dia adalah ayahmu dia ayahmu. Saudara-saudara, tinggalkanlah mereka, semoga Allah memberkahi kalian, tenanglah, Abu Abdurrahman, dia putramu… dia putramu.. jantung hatimu…”. (Lihat: Siyar A’lamin Nubala’, Jilid: 6/94-95). Cerita masih bersambung hee.

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita shalih shalihah senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID