Hikmah Pagi: Rabi’ah ar-Ra’yi Ibn Farrukh (W. 136 H) Bagian 3

Penulis: Redaksi - Ahad, 30 Juni 2019 , 11:46 WIB


JERNIH.ID, Jambi - Mendengar teriakan itu, seketika Farrukh memeluk dan menciumi putranya. Begitu pula Rabi’ah, beliau mencium tangan ayahnya. Orang-orang pun bubar meninggalkan keduanya.

Turunlah Ummu Rabi’ah untuk menyambut suaminya dan memberi salam. Padahal dia tak mengira bisa bertemu lagi dengan suaminya setelah hampir sepertiga abad terputus kabar beritanya.

Kemudian Farrukh duduk-duduk bersama istrinya, lalu Farukh bertanya, “wahai istriku apa yang telah engkau lakukan dengan uang tiga puluh ribu dinar dulu? “Saya membawa uang lagi 10.000 dinar. Ambillah uang yang saya titipkan kepadamu dahulu, kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah baru yang lebih luas.

Mendengar pertanyaan itu, Ummu Rabi’ah tidak mengetahui harus bagaimana untuk menjawabnya. Kebetulan pada saat itu terdengarlah suara adzan, Farrukh bergegas mengambil air wudlu lalu menuju ke pintu sambil bertanya, “Mana Rabi’ah?”

Istrinya menjawab, “Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid. Saya kira engkau akan tertinggal shalat berjamaah.”

Sampailah Farrukh di masjid, beliau mendapati imam sudah menyelesaikan shalatnya.

Dia pun segera shalat, kemudian menuju ke makam Rasulullah dan mengucap shalawat kepadanya, setelah itu mengambil tempat di Raudhah Muthahharah (tempat antara makam nabi dengan mimbarnya). Betapa rindunya beliau untuk shalat di Majid Nabawy. Maka beliau memilih tempat untuk shalat sunah kemudian beliau berdo’a dengan berlinang air mata.

Selesai dari Raudlah tatkala beliau berhasrat untuk pulang, dilihatnya ruangan masjid sudah padat dengan orang yang hendak belajar, pemandangan yang belum ia saksikan sebelumnya. Mereka duduk melingkari Syaikh, majelis ilmu tersebut sampai tak ada lagi tempat kosong untuk berjalan. Dia mengamati, ternyata orang-orang yang hadir itu ada yang telah lanjut usia, orang-orang yang terlihat berwibawa nampak sebagai orang terhormat, juga para pemuda.

Mereka semua duduk menghamparkan lututnya, masing-masing memegang buku dan pena untuk mencatat semua uraian Syaikh itu, kemudian dihafalkan. Semua mengarahkan pandangan kepada Syaikh di majelis. Dengan tekun mereka mendengarkan dan mencatat hingga seolah-olah kepala mereka seperti ada burung yang bertengger.

Para mubaligh mengulangi kata demi kata dari Syaikh itu, agar tidak ada seorang pun yang keliru mendengarnya mengingat jaraknya yang cukup jauh. Rasa penasaranpun menghampiri Farrukh sampai kajian itupun selesai.

Semoga semakin penasaran bagian akhirnya, karena cerita ini kalau kita membacanya dari awal sampai akhir akan meuluhkan air mata, silahkan tunggu hikmah pagi berikutnya in sya Allah pada bagian akhir.

Semoga Allah menjadikan kita orang orang yang senantiasa merindukan Rasulullah dan majelis Ilmu Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID