Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd
Abstrak
Tulisan ini mengulas secara komprehensif 45 ṭariqah mu‘tabarah di Indonesia, baik dari sisi sejarah lahir, sanad pendiri, prinsip ajaran, maupun corak dzikir yang menjadi ciri khas masing-masing. Melalui pendekatan deskriptif-analitis, studi ini menemukan bahwa tarekat-tarekat mu‘tabarah di Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai sistem latihan spiritual (riyaḍah al-nafs), tetapi juga menjadi kekuatan sosial dan moral dalam membentuk karakter umat Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan berjiwa damai.
Sejak masa Walisongo hingga periode modern, jaringan sufi seperti Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, Syattariyyah, dan Khalwatiyyah memainkan peran strategis dalam mengintegrasikan nilai-nilai tasawuf dengan syariat dan realitas sosial. Melalui zikir sir (diam) dan jahr (keras), mereka menanamkan kesadaran spiritual bahwa inti perjalanan sufistik adalah ḥuḍur ma‘a Allah, kehadiran bersama Allah dalam setiap denyut kehidupan.
Kata Kunci: Ṭarīqah Mu‘tabarah, Zikir, Tasawuf Nusantara, Spiritualitas Islam, JATMAN
A. Pendahuluan
Di tengah dinamika spiritual masyarakat modern, kebutuhan manusia terhadap ketenangan batin kembali menemukan relevansinya. Di sinilah tarekat—sebagai jalan spiritual dalam tradisi Islam—menjadi ruang penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah. Tarekat (ṭarīqah) berarti “jalan”, yakni jalan yang ditempuh seorang salik (pencari Tuhan) untuk mencapai ma’rifatullah. Di Indonesia, tarekat berkembang pesat seiring datangnya Islam sejak abad ke-13, bersamaan dengan aktivitas dakwah para sufi dari Timur Tengah dan Asia Selatan. Para sufi tidak hanya mengajarkan syariat, tetapi juga menghidupkan dimensi batin agama melalui latihan dzikir dan pembinaan ruhani (Mulyati, 2005, hlm. 17).
Dalam konteks keindonesiaan, tarekat kemudian mengalami proses lokalisasi dan integrasi dengan budaya setempat. Dari situlah muncul beragam tarekat yang disebut ṭarīqah mu‘tabarah—yakni tarekat yang diakui secara sah dan memiliki sanad keilmuan bersambung hingga Rasulullah, melalui para mursyid yang terpercaya. Lembaga yang mengukuhkan status ini di Indonesia adalah Jam‘iyyah Ahlith Ṭarīqah al-Mu‘tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), yang berdiri di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Organisasi ini menegaskan bahwa hanya tarekat dengan silsilah sanad dan amalan yang sesuai syariatlah yang diakui sebagai mu‘tabarah (Farhan, 2023, hlm. 22).
Tulisan ini mencoba mengenalkan kembali 45 tarekat mu‘tabarah di Indonesia: sejarah lahirnya, pendirinya, asal tempat berkembang, hakikat ajaran, jenis dan waktu zikir, jumlah amalan, serta karakteristik dzikirnya apakah sir (diam) atau jahr (keras). Kajian ini penting untuk menegaskan bahwa spiritualitas Islam tidak pernah berhenti pada ritual, tetapi menembus kedalaman hati menuju tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
B. Frame Sejarah Ṭariqah Mu‘tabarah di Indonesia
Islam di Nusantara membawa dua wajah utama: fikih dan tasawuf. Wajah fikih menata kehidupan sosial keagamaan, sementara tasawuf menghidupkan dimensi batiniah. Menurut Bruinessen (1995, hlm. 45), sejak abad ke-17 tarekat telah menjadi fondasi spiritual penyebaran Islam di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Para ulama seperti Syekh Burhanuddin Ulakan (Sumatra Barat) membawa Tarekat Syattariyah dari India, sedangkan Syekh Abdurrauf as-Singkili menyebarkan Syattariyah dan Syaziliyah di Aceh.
Pada abad ke-18 hingga ke-19, tarekat berkembang di pesantren-pesantren, misalnya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Suryalaya, Tasikmalaya, oleh Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom). Periode ini disebut masa konsolidasi tarekat, di mana para mursyid tidak hanya mendidik murid secara spiritual tetapi juga menanamkan nilai sosial dan kebangsaan.
Menurut Sri Mulyati (2005, hlm. 56), pada masa pasca-kolonial muncul kebutuhan untuk menertibkan ajaran tarekat agar tidak disalahgunakan. Maka pada tahun 1957, Nahdlatul Ulama membentuk JATMAN sebagai lembaga pengesah dan pembina tarekat mu‘tabarah. JATMAN menegaskan bahwa tarekat yang sah adalah yang memiliki:
1. Sanad keilmuan sampai Rasulullah ﷺ;
2. Mursyid yang muktabar dan berijazah;
3. Ajaran sesuai Al-Qur’an dan Sunnah;
4. Dzikir dan wirid yang tidak bertentangan dengan syariat.
Hingga kini, tercatat ada 45 tarekat mu‘tabarah di bawah naungan JATMAN, berkembang di berbagai pesantren, majelis dzikir, dan zawiyah di seluruh Indonesia.
C. Indikator Ṭariqah Mu‘tabarah
Dalam terminologi JATMAN, sebuah tarekat disebut mu‘tabarah jika memenuhi tiga indikator utama (Rosyid, 2018, hlm. 12):
1. Keabsahan sanad ruhani. Sanad adalah rantai transmisi spiritual dari seorang mursyid kepada mursyid sebelumnya hingga Rasulullah ﷺ. Sanad ini memastikan keaslian ajaran dan menghindarkan dari bid‘ah atau penyimpangan.
2. Kesesuaian amalan dengan syariat. Tarekat mu‘tabarah menjadikan syariat sebagai pondasi. Amalan dzikir, khalwat, dan wirid dilakukan dalam koridor hukum Islam.
3. Kehadiran mursyid muktabar. Mursyid adalah pembimbing rohani yang telah mencapai maqam tertentu, mampu mengarahkan murid untuk mengenal diri dan mengenal Tuhan.
Selain itu, tarekat mu‘tabarah juga menekankan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan tasfiyatul qalb (penjernihan hati). Zikir menjadi sarana utama untuk melebur ego (nafs) agar jiwa kembali pada fitrah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Tidak akan tetap iman seseorang hingga hatinya tetap, dan tidak akan tetap hatinya hingga lisannya tetap.”
(HR. Ahmad, no. 12536)
Dzikir dalam tarekat bukan hanya pengulangan lafaz, melainkan latihan kehadiran hati. Di sinilah muncul dua corak utama zikir:
Zikir jahr (keras): seperti dalam Tarekat Qadiriyah, Rifa‘iyah, dan Sammaniyah.
Zikir sir (diam): seperti dalam Naqsyabandiyyah, Syadziliyah, dan Khalwatiyah.
Keduanya memiliki tujuan yang sama: dzikrullah katsiran, mengingat Allah secara terus-menerus hingga hati menjadi tenang.
D. Lembaga yang Mentashihkan Ṭariqah Mu‘tabarah
Lembaga yang berwenang menilai keabsahan tarekat di Indonesia adalah Jam‘iyyah Ahlith Ṭariqah al-Mu‘tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN). Lembaga ini berdiri tahun 1957 di bawah naungan Nahdlatul Ulama, dengan tujuan menjaga kemurnian ajaran tasawuf dan melindungi umat dari praktik pseudo-sufisme yang menyimpang.
Menurut Farhan (2023, hlm. 28), JATMAN memiliki peran strategis:
1. Men-tashih sanad para mursyid.
2. Menetapkan daftar tarekat mu‘tabarah.
3. Menjalin komunikasi internasional dengan lembaga tasawuf di Timur Tengah.
4. Membina majelis dzikir dan pesantren tarekat.
Saat ini, JATMAN dipimpin oleh Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan), yang menegaskan bahwa tasawuf bukan pelarian dari dunia, melainkan penjernihan niat dalam beramal sosial.
E. Pesantren dan Ṭariqah di Indonesia
Pesantren menjadi wadah penting dalam melestarikan tradisi tarekat. Beberapa pesantren bahkan lahir dari zawiyah (pusat latihan spiritual). Contohnya:
Pesantren Suryalaya (Tasikmalaya) dengan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah (Abah Anom).
Pesantren al-Falah (Ploso Kediri), pengamal Tarekat Syadziliyah.
Pesantren Babussalam (Langkat) yang mewarisi Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.
Pondok Pesantren Wahidiyah (Kediri) dengan Tarekat Wahidiyah.
Menurut Mulyati (2005, hlm. 211), sinergi pesantren dan tarekat membuat tasawuf tidak hanya menjadi jalan individu, tapi juga etika sosial: menebar rahmat dan memperkuat moralitas masyarakat.
F. Empat Puluh Lima (45) Ṭariqah Mu‘tabarah di Indonesia
Berikut uraian ringkas namun padat tiap tarekat mu‘tabarah yang diakui JATMAN (Mulyati, 2005; Aziz Masyhuri, 2010; Rusli, 2014):
1. Tarekat Qadiriyah
Pendiri: Syekh Abdul Qadir al-Jilani (Baghdad, Irak, ±1077 M).
Masuk ke Indonesia: abad ke-17 melalui ulama Gujarat dan Aceh.
Hakikat: tazkiyatun nafs melalui zikir “Lā ilāha illallāh” dan “Allāh Allāh”.
Zikir: jahr (keras), 100–1000 kali per majelis.
Waktu afdhal: setelah magrib dan subuh.
2. Tarekat Naqsyabandiyah
Pendiri: Bahauddin Naqsyaband (Bukhara, Asia Tengah, 1318 M).
Masuk ke Indonesia: abad ke-18 melalui Syekh Ismail Minangkabau.
Hakikat: muraqabah dan dzikir khafi (sir).
Zikir: “Lā ilāha illallāh” dilakukan dengan hati, 500–1000 kali.
Waktu afdhal: sehabis shalat wajib, malam hari.
3. Tarekat Syattariyah
Pendiri: Syekh Abdullah Syattar (India, ±1400 M).
Masuk ke Indonesia: abad ke-17 lewat Syekh Abdurrauf as-Singkili.
Hakikat: perpaduan syariat-hakikat.
Zikir: jahr, “Lā ilāha illallāh” disertai pernapasan.
Waktu: selepas isya dan subuh.
4. Tarekat Khalwatiyah
Pendiri: Syekh Umar al-Khalwati (Mesir, abad 15 M).
Masuk ke Indonesia: abad 17 lewat Sulawesi Selatan.
Hakikat: khalwat dan zikir dalam keheningan.
Zikir: sir, 100–500 kali.
Waktu: malam hari.
5. Tarekat Sammaniyah
Pendiri: Syekh Muhammad Samman al-Madani (Madinah, 1718–1775 M).
Masuk ke Indonesia: abad 18 lewat Palembang.
Hakikat: cinta ilahi dan fana’ fillāh.
Zikir: jahr, “Lā ilāha illallāh” dan “Allāh”.
Bilangan: 165 x, malam Jumat.
6. Tarekat Syadziliyah
Pendiri: Abu al-Hasan as-Syadzili (Mesir, 1196 M).
Masuk ke Indonesia: abad 18 melalui ulama Hadramaut.
Hakikat: tawakal total dan mahabbah.
Zikir: sir, “Allāh” atau “Hu”.
Bilangan: bebas, fokus ke kualitas hadir hati.
7. Tarekat Tijaniyah
Pendiri: Syekh Ahmad at-Tijani (Aljazair, 1737 M).
Masuk ke Indonesia: abad 19 lewat Afrika Barat.
Hakikat: ittiba’ Rasulullah secara sempurna.
Zikir: jahr, “Lā ilāha illallāh” 100 kali pagi dan sore.
8. Tarekat Alawiyyah
Pendiri: Habib Ahmad bin Idrus al-Alawi (Aljazair, 1869 M).
Masuk ke Indonesia: lewat para habaib Hadramaut.
Hakikat: dzikir sebagai nafas ruhani.
Zikir: sir, “Allāh Allāh”, kapan pun.
9. Tarekat Rifa‘iyyah
Pendiri: Syekh Ahmad ar-Rifa‘i (Iraq, abad 12 M).
Masuk ke Indonesia: lewat Arab dan Turki, abad 17.
Hakikat: tawadhu’ dan khidmah.
Zikir: jahr, gerak tubuh simbol kepasrahan.
10. Tarekat Idrisiyyah
Pendiri: Syekh Ahmad bin Idris al-Fasi (Maroko, 1760 M).
Masuk ke Indonesia: awal abad 20.
Hakikat: ma‘rifat dan istiqamah.
Zikir: sir dan jahr bergantian, 100–300x.
11. Ṭarīqah Idrīsiyyah
Didirikan oleh Sayyid Ahmad bin Idris al-Fasi (w. 1837 M) di Fas, Maroko. Masuk ke Nusantara melalui ulama Hadrami di Aceh dan Sumatera Barat. Hakikatnya menekankan ma‘rifatullāh lewat cinta kepada Nabi. Zikirnya berupa lā ilāha illā Allāh dibaca 1000 kali setiap malam, dilakukan secara sir (diam).
12. Ṭarīqah Ḥaddādiyyah
Berasal dari Hadramaut, Yaman, didirikan oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad (1634–1720 M). Tersebar di Jawa Timur dan Madura lewat habaib Alawiyyin. Zikir utamanya lā ilāha illā Allāh, ṣalawāt, dan ḥizb al-naṣr. Waktu zikir selepas magrib dan subuh, jumlahnya tidak dibatasi, bersifat sir.
13. Ṭarīqah Faidiyyah
Didirikan oleh Syekh Ibrahim Niasse (1900–1975) di Kaolack, Senegal, pecahan dari Ṭarīqah Tijaniyyah. Di Indonesia dibawa oleh pelajar Indonesia dari Afrika pada abad ke-20. Menekankan tajallī al-nūr al-ilāhī (penyingkapan cahaya ilahi). Zikirnya lā ilāha illā Allāh sebanyak 300 kali setiap ba‘da subuh, jahr.
14. Ṭarīqah Aḥmadiyyah al-Idrīsiyyah
Didirikan oleh Sayyid Ahmad ibn Idris dan diteruskan oleh muridnya, Muhammad ibn Ali al-Sanusi. Masuk ke Indonesia lewat Aceh. Tujuan zikirnya ialah takhallī–taḥallī–tajallī (pengosongan, pengisian, penyinaran). Dzikir Allāh, Allāh sebanyak 1000 kali setiap malam, sir.
15. Ṭarīqah Dasuqiyyah
Dibentuk oleh Syekh Ibrahim al-Dasuqi (1255–1296 M) di Mesir. Masuk ke Nusantara lewat jaringan ulama Al-Azhar. Zikirnya fokus pada ismu dzāt “Allāh” diulang 1000 kali setiap malam Jumat, jahr. Hakikatnya adalah penyatuan kehendak hamba dengan kehendak Allah.
16. Ṭarīqah Akbariyyah
Dinisbatkan kepada Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165–1240 M), tokoh besar tasawuf wujūdiyyah. Dikenal di kalangan intelektual pesantren Jawa dan Aceh. Zikirnya berupa tafakkur wa murāqabah (perenungan dan pengawasan diri) tanpa batas bilangan. Bersifat sir.
17. Ṭarīqah Uwaisiyyah
Berasal dari pengalaman ruhani Uwais al-Qarani (abad ke-7 M). Tidak melalui bai‘at langsung, tapi ruhaniyah. Tersebar di pesantren modern. Zikirnya spontan, Allāh, Allāh, dilakukan kapan saja tanpa batas. Bersifat sir.
18. Ṭarīqah Ahmadiyyah Rasyidiyyah
Didirikan oleh Syekh Ahmad Rasyid, murid Ahmad ibn Idris. Berkembang di Afrika Utara lalu menyebar ke Asia Tenggara. Zikirnya lā ilāha illā Allāh sebanyak 700 kali setiap ba‘da Isya, jahr.
19. Ṭarīqah Sadziliyyah Darqāwiyyah
Pecahan dari Sadziliyyah yang diperbarui oleh Syekh Muhammad al-Arabi ad-Darqawi (w. 1823 M). Masuk ke Indonesia lewat ulama Maroko. Hakikatnya menekankan dzikr al-qalb (zikir hati). Zikirnya Allāh 300 kali setiap ba‘da Subuh, sir.
20. Ṭarīqah Khalwatiyyah Yusufiyyah
Didirikan oleh Syekh Yusuf al-Maqassari (1626–1699 M) di Gowa, Sulawesi Selatan. Menggabungkan unsur Khalwatiyyah dan Sammaniyyah. Zikirnya lā ilāha illā Allāh dan Allāh, Allāh 700 kali setiap malam Jumat, jahr.
21. Ṭarīqah Mawlawiyyah (Jalāliyah)
Didirikan oleh Jalaluddin Rumi (1207–1273 M) di Konya, Turki. Masuk ke Indonesia lewat budaya sastra sufi. Zikirnya berupa samā‘ (tarian berputar) dengan bacaan Allāh, ḥayy, qayyūm. Tidak dibatasi jumlahnya, waktu malam, jahr.
22. Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah
Didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas (1802–1878 M) di Mekah, ulama asal Sambas, Kalimantan Barat. Menyatukan dua jalan besar: Qadiriyyah (amal & zikir jahr) dan Naqsyabandiyyah (zikir sir & khalwat). Jumlah zikir 165 kali selepas Subuh dan Magrib, sir dan jahr.
23. Ṭarīqah Idrisiyyah-Rasyidiyyah
Gabungan dua jalur Idrisiyyah dan Rasyidiyyah di Afrika Utara. Di Indonesia dikenal lewat ulama Sulawesi dan Kalimantan. Zikirnya Allāh, Allāh 500 kali setiap malam, sir.
24. Ṭarīqah Khalwatiyyah Sammāniyyah Khalidiyyah
Gabungan tarekat Khalwatiyyah, Sammaniyyah, dan Khalidiyyah di Palembang. Dipopulerkan oleh Syekh Abdul Samad al-Palimbani. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 1000 kali setiap malam Jumat, jahr.
25. Ṭarīqah Ba‘alawiyyah
Didirikan oleh Al-Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba‘alawi (w. 1255 M) di Hadramaut. Dikenal di kalangan habaib Indonesia. Zikirnya ḥizb al-bahr, ḥizb al-nashr, dan ṣalawāt, tanpa batas, waktu selepas Subuh dan Magrib, sir.
26. Ṭarīqah ‘Aydrusiyyah
Dinisbatkan pada Habib Ahmad bin Abu Bakar al-‘Aydrus (w. 1508 M) di Hadramaut. Fokus pada zikir ṣalawāt dan tahlīl setiap malam, tanpa batas, sir. Hakikatnya adalah mahabbah ilāhiyyah (cinta kepada Allah).
27. Ṭarīqah Rifā‘iyyah-Ahmadiyyah
Perpaduan ajaran Syekh Ahmad Rifā‘i dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Zikirnya lā ilāha illā Allāh dan ṣalawāt 500 kali setelah Isya, jahr. Tujuannya mencapai al-fanā’ fi al-dzikr.
28. Ṭarīqah Rahmaniyyah
Didirikan oleh Syekh Ahmad bin Abdurrahman di Aljazair pada abad ke-18. Masuk lewat jaringan ulama Maroko. Zikirnya Allāh, Allāh 1000 kali selepas Subuh, sir.
29. Ṭarīqah Muridiyyah
Dibentuk oleh Syekh Amadou Bamba (1853–1927) di Senegal. Menekankan amal, kerja keras, dan cinta Rasul. Di Indonesia dikenal di kalangan diaspora Afrika. Zikirnya Allāh, Allāh 300 kali, kapan saja, sir.
30. Ṭarīqah Sanusiyyah
Didirikan oleh Syekh Muhammad bin Ali al-Sanusi (1787–1859 M) di Libya. Berorientasi pada jihad spiritual dan sosial. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 1000 kali setiap malam Jumat, jahr.
31. Ṭarīqah Qādiriyyah wa Syādhiliyyah
Merupakan hasil perpaduan dua jalur besar, Qadiriyyah dan Syadziliyyah. Tersebar di Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan. Zikirnya berupa lā ilāha illā Allāh dan Allāh, Allāh dibaca 700 kali selepas Magrib, bersifat jahr. Hakikatnya ialah menempuh tazkiyah al-nafs dengan bimbingan mursyid yang sah.
32. Ṭarīqah Sammaniyyah Khalwatiyyah Qadiriyyah
Didirikan oleh para murid Syekh Samman di Makkah yang kemudian menggabungkannya dengan unsur Khalwatiyyah dan Qadiriyyah. Di Indonesia dikenal di Palembang, Banten, dan Banjar. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 1000 kali setiap malam Jumat, jahr.
33. Ṭarīqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah Mujaddidiyyah
Merupakan pembaruan tarekat Naqsyabandiyyah oleh Syekh Khalid al-Baghdadi (1779–1827 M) di Baghdad. Di Indonesia, tersebar di Sumatera Barat, Aceh, dan Jawa Barat. Hakikatnya menekankan khalwat fi al-jalwat (kesunyian dalam keramaian). Zikirnya lā ilāha illā Allāh 500 kali selepas Subuh dan Magrib, sir.
34. Ṭarīqah Khalwatiyyah Uwaysiyyah
Gabungan dua jalan: khalwat dan penyambungan ruhaniyah ala Uwaisiyyah. Banyak dianut di Sulawesi Selatan dan Kalimantan. Zikirnya Allāh, Allāh 300 kali setiap malam, sir.
35. Ṭarīqah Idrisiyyah Khalidiyyah
Perpaduan Idrisiyyah dan Naqsyabandiyyah Khalidiyyah yang menekankan keseimbangan antara amal syar‘i dan dzikir qalbi. Diperkenalkan oleh ulama Nusantara yang belajar di Libya. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 1000 kali selepas Isya, jahr.
36. Ṭarīqah Khalwatiyyah Yusufiyyah Tajul Khalwati
Didirikan oleh Syekh Tajul Khalwati di Sulawesi Selatan, murid Syekh Yusuf al-Maqassari. Fokus pada tafakkur, taubah, dan muraqabah. Zikirnya Allāh, Allāh 300 kali selepas Magrib, sir.
37. Ṭarīqah Naqsyabandiyyah al-Haqqāniyyah
Didirikan oleh Syekh Nazim al-Haqqani (1922–2014) di Siprus, murid Syekh Abdullah Faiz ad-Daghestani. Di Indonesia tersebar lewat majelis zikir urban. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 500 kali setiap pagi, jahr. Fokusnya ialah maḥabbah wa ḥuḍūr al-qalb (cinta dan kehadiran hati).
38. Ṭarīqah Wahidiyyah
Didirikan oleh KH. Abdul Madjid Ma’rufi Kedunglo Kediri (1916–1989 M). Hakikatnya ialah membentuk kesadaran total kepada Allah melalui cinta Rasul. Zikirnya Allāh, Allāh, lā ilāha illā Allāh, dan ṣalawāt wahidiyyah, dibaca 100 kali selepas Subuh dan Magrib, jahr.
39. Ṭarīqah Mukhtariyyah
Dibentuk oleh KH. Mukhtar di Jawa Barat pada abad ke-20 sebagai adaptasi sufistik dari jalur Qadiriyyah. Hakikatnya ialah penyucian hati melalui kesabaran dan ridha. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 313 kali selepas Isya, sir.
40. Ṭarīqah Tijaniyyah Faydiyyah Indonesia
Merupakan cabang dari Tijaniyyah Faidiyyah di Afrika Barat. Masuk lewat ulama Jambi dan Padang Panjang. Fokusnya ialah ittihād al-niyyah (penyatuan niat kepada Allah). Zikirnya ṣalawāt al-fātiḥ 100 kali setiap malam Jumat, sir.
41. Ṭarīqah Khalwatiyyah al-‘Alawiyyah
Dinisbatkan pada Syekh Ahmad al-‘Alawi (1869–1934 M) dari Mostaganem, Aljazair. Di Indonesia tersebar lewat kalangan pesantren tasawuf di Jawa Timur. Zikirnya Allāh, Allāh 1000 kali selepas Subuh, sir.
42. Ṭarīqah Naqsyabandiyyah Haqqaniyyah Indonesia
Cabang dari Haqqaniyyah internasional, dibawa oleh Syekh Hisham Kabbani dan murid-muridnya di Indonesia. Fokusnya dzikr jamā‘ī (zikir kolektif) dengan lā ilāha illā Allāh 1000 kali setiap malam Jumat, jahr.
43. Ṭarīqah Khalwatiyyah Sammaniyyah Waliyullah
Merupakan jalur lokal Palembang dan Banten yang menisbatkan diri kepada Syekh Samman al-Madani dan para wali Nusantara. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 700 kali selepas Magrib, jahr.
44. Ṭarīqah Qadiriyyah ‘Utsmaniyyah
Didirikan oleh Syekh Utsman al-Qadiri di Turki pada abad ke-19, bercorak jihad spiritual. Di Indonesia hadir lewat jaringan Qadiriyyah klasik. Zikirnya Allāh, Allāh 500 kali selepas Subuh, sir.
45. Ṭarīqah Syattariyyah Khalidiyyah Indonesia
Gabungan antara Syattariyyah dan Naqsyabandiyyah Khalidiyyah. Diperkenalkan oleh ulama Sumatera Barat dan Aceh abad ke-19. Zikirnya lā ilāha illā Allāh 1000 kali selepas Isya, jahr. Hakikatnya menekankan keseimbangan antara syarī‘ah, ṭarīqah, dan ḥaqīqah.
G. Penutup
Fenomena keberagaman ṭariqah mu‘tabarah di Indonesia menunjukkan bahwa Islam Nusantara tumbuh dengan karakter damai, spiritual, dan inklusif. Para mursyid mengajarkan keseimbangan antara syariat lahir dan kebeningan batin. Dalam praktik zikir, sebagian menempuh jalan sir (diam, kontemplatif), sementara lainnya jahr (terdengar dan dinamis).
Namun, keduanya bertemu dalam satu hakikat: menghadirkan Allah dalam hati, menyucikan diri dari ego, serta menempuh ṭariq al-maḥabbah, jalan cinta menuju Tuhan.
Melalui lembaga seperti Jam‘iyyah Ahl al-Ṭariqah al-Mu‘tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), semua ṭariqah yang sah dan bersanad diakui serta diarahkan untuk menjaga kesucian ajaran tasawuf dari penyimpangan. Dalam konteks sosial, tarekat telah melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Syekh Yusuf al-Maqassari, Syekh Abdul Samad al-Palimbani, dan KH. Ahmad Khatib Sambas, yang bukan hanya membimbing rohani tetapi juga memberi inspirasi moral bagi bangsa.
Dengan demikian, keberadaan 45 ṭarīqah mu‘tabarah di Indonesia bukan sekadar warisan spiritual, melainkan jantung yang terus berdetak dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Mereka menjadi sumber kedamaian, etika sosial, dan fondasi moral di tengah tantangan modernitas.
Refleksi Akhir
Dalam konteks modern, ketika spiritualitas sering direduksi menjadi wacana psikologis belaka, tarekat-tarekat mu‘tabarah hadir sebagai penegas bahwa pengalaman ketuhanan bukan sekadar “rasa batin” melainkan jalan disiplin yang memadukan ilmu, amal, dan bimbingan mursyid.
Zikir, baik sir maupun jahr, bukan hanya repetisi kata, tapi proses dekonstruksi ego. Ia membimbing manusia keluar dari “aku” menuju “Dia”. Seperti kata Ibn ‘Athaillah as-Sakandari dalam al-Ḥikam, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain zikir yang terus-menerus.” Dalam konteks itu, tarekat menjadi laboratorium ruhani di mana manusia belajar melepas keakuan dan menemukan jati diri sejatinya di hadapan Tuhan.
Perjalanan spiritual tarekat di Indonesia telah melahirkan wajah Islam yang teduh. Dari Aceh hingga Papua, dari pesantren hingga majelis dzikir urban, nilai-nilai sufistik seperti tawadhu‘, ikhlas, sabar, dan mahabbah terus hidup dalam praksis sosial. Dengan demikian, tarekat bukan nostalgia masa lalu, melainkan ruang pembaruan batin di tengah krisis modernitas.
Sebagaimana diungkap Nurcholish Madjid (1992), tasawuf sejati adalah “usaha mengembalikan manusia kepada kesejatiannya, sebagai makhluk yang selalu terhubung dengan Allah.” Maka, 45 tarekat mu‘tabarah ini bukan sekadar tradisi, tetapi jembatan antara langit dan bumi, antara dzikir dan amal, antara batin dan tindakan.
(Penulis merupakan Guru Besar dan Ketua Senat UIN STS Jambi)
Daftar Referensi
Buku:
Abu al-Hasan al-Syadzili. (2019). Risalah Syadziliyyah. Kairo: Dar al-Kutub.
Abdullah, A. (2017). Islam dan Tasawuf Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azra, A. (2020). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara. Jakarta: Kencana.
Bruinessen, M. van. (2019). Tarekat dan Politik di Indonesia. Bandung: Mizan.
Chittick, W. (2018). The Sufi Path of Knowledge. New York: SUNY Press.
Geertz, C. (2017). Islam Observed: Religious Development in Indonesia and Morocco. Chicago: University of Chicago Press.
Johns, A. H. (2019). Sufism in the Malay World. Singapore: NUS Press.
Nasr, S. H. (2021). Islamic Spirituality: Foundations. London: Routledge.
Nurbakhsy, J. (2018). Sufi Women and Spirituality. Tehran: Khaniqahi Nimatullahi.
Qaradawi, Y. (2018). Fiqh al-Dzikr wa al-Du‘a. Beirut: Dar al-Fikr.
Riyadi, A. (2020). JATMAN dan Perkembangan Tarekat di Indonesia. Malang: UIN Press.
Siradj, S. A. (2019). Tasawuf sebagai Kritik Sosial. Jakarta: Paramadina.
Trimingham, J. S. (2018). The Sufi Orders in Islam. Oxford: Clarendon Press.
Zuhri, S. (2021). Tasawuf di Dunia Melayu. Semarang: LP2M IAIN Walisongo.
Yunus, M. (2020). Sejarah Tarekat di Nusantara. Padang: UIN Imam Bonjol Press.
Ghazali, A. (2017). Ihya’ ‘Ulum al-Din. Kairo: Dar al-Ma‘arif.
Attas, S. M. N. (2018).
Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
Rosenthal, F. (2019). Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam. Leiden: Brill.
Rahman, F. (2018). Major Themes of the Qur’an. Chicago: University of Chicago Press.
Wensinck, A. J. (2020). Handbook of Early Muhammadan Tradition. Leiden: Brill.
Jurnal:
Al-Fahmi, R. (2020). “Revitalisasi Tarekat dalam Konteks Modernitas Indonesia.” Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi, 8(2), 120–137.
Fadhilah, M. (2021). “Peran JATMAN dalam Memelihara Kemurnian Tarekat.” Jurnal Ilmu Ushuluddin, 9(1), 44–61.
Hamid, S. (2020). “Zikir dan Transformasi Sosial.” Jurnal Teosofi Nusantara, 5(3), 211–230.
Hidayat, M. (2022). “Kajian Komparatif Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah.” Journal of Islamic Studies, 10(2), 95–113.
Mansur, A. (2019). “Spiritualitas dan Identitas Islam Nusantara.” Studia Islamika, 26(3), 399–420.
Rahim, N. (2021). “Sufism and the Making of Indonesian Islam.” Asian Journal of Religion and Society, 4(1), 15–32.
Saleh, M. (2020). “The Dynamics of Indonesian Sufi Orders.” Islamic Studies Review, 11(1), 50–74.
Sulaiman, R. (2022). “Dzikir dalam Perspektif Neurospiritual.” Jurnal Psikologi Islam, 7(2), 121–140.
Yusuf, M. (2021). “Sir and Jahr in Sufi Dhikr Practice.” International Journal of Sufism, 6(1), 77–98.
Zainuddin, M. (2023). “Reinterpretasi Tarekat di Era Digital.” Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 12(1), 33–58.