JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Rahmat adalah milik Allah, semua rahmat adalah dari Allah, maka siapa saja makhluk yang mendekat dan inginkan rahmat Allah, dia akan mendapatkannya dari Allah. Rahmat memiliki makna kasih dan sayang Allah, kepada seluruh hambaNya (makhluk) dan kepada seluruh alam. Menurut ensiklopedi Al Qur'an, terdapat 70 kali kata Rahmat, 57 kali kata Rahman dan 90 kali kata Rahim.
Pengulangan ketiga kata itu, tergantung dari konteks masing-masing, ada yang dalam konteks sejarah, budaya dan peradaban, pendidikan, ekonomi, sosial, kesejahteraan, keumatan, kebangsaan, Ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan tentang kehidupan dan kematian semua mahkluk baik duniawi maupun ukhrawi.
Artinya rahmat Allah mencakup segala dimensi kehidupan makhluk. Begitulah rahmat Allah yang dianugerahkan dalam bentuk rahimNya yang memberi tiada pamrih kepada semua makhluknya sehingga dapat menikmati bahagia dunia dan akhirat kelak, seiring dengan itu, Allah memproteksi semua makhluknya dengan rahmanNya, sehingga makhlukNya selamat dunia dan akhirat.
Hanya saja tidak semua makhluk mau syukur atas anugerahnya, utamanya manusia, sehingga tidak sedikit manusia yang kufur nikmat, sehingga terpaksa Allah laknat dengan azab dunia, sebagai peringatan atas kekufuran dan kezalimannya.
Allah memberi jalan kepada manusia bagi yang ingin mendapatkan rahmatNya, telah difasilitasi Allah melalui wahyunya (Al-Qur'an) sebagai alat komunikasi dengan Allah. Al-Qur'an adalah rahmat Allah untuk manusia sebagai petunjuk agar selamat menjalankan misi kekhalifahannya di dunia.
Sisi lain Allah juga telah rahmati Muhammad Rasulullah sebagai uswah hasanah dengan sunnah rasul, sehingga manusia dengan mudah dapat melakukan identifikasi atau peniruan atas uswah yang telah disunahkan rasulullah. Bahkan rasulullah telah dirahmati Allah menjadi rahmat bagi semesta alam (wama arsalna ka illa rahmatal lil'alamain). Begitulah rahman dan rahim Allah kepada makhlukNya yang tiada tara. Siapapun dan dimanpun dia, rahmat Allah tetap dipancarkan, sehingga semua dapat menikmati hidup berdampingan dengan indah bersama makhluk lainnya, baik di darat, laut/sungai dan udara.
Maka itu, Allah amat murka tatkala rahmat Allah ini di eksploitasi oleh manusia dengan sewenang-wenang, tidak adil dan tidak maslahat bagi makhluk, (telah terlihat kerusakan di darat laut dan udara, akibat ulah tangan-tangan jahil manusia).
Kerusakan alam oleh manusia, adalah sebagai cermin rusaknya cara berpikir dan perilaku manusia, dengan tangannya, dengan keputusan atau kebijakannya, untuk memenuhi nafsu keserakahannya di dunia. Sehingga akibat perilaku jahat manusia ini, telah membuat alam kehilangan keseimbangannya, dan manusia acapkali menerima perlawanan alam yang merupakan manifestasi marahnya Allah kepada umat manusia.
Semoga Ramadhan karim Membuka mata hati kita, bahwa kita adalah simbiosa mutualisme dengan alam, yang merupakan rahmat Allah yang tak ternilai oleh materi dunia. Oleh karenanya, menjaga alam adalah menjaga kita semua, dan menjaga rahmat Allah, dan itu adalah bentuk syukur kita kepada Allah dan RasulNya. Semoga.