Amri Ikhsan Oleh: Amri Ikhsan
JERNIH.ID, Jambi - Sebenarnya, ibadah puasa ramadhan adalah tempat menempa diri, menyiapkan Ramadhan sebagai ‘sekolah kompetensi rohani’ bagi kaum beriman untuk belajar, menuntut ilmu dan mengisi ulang keimanan sebagai media membangun karakter dan peningkatan ketakwaan kita. Di bulan ini, orang yang beriman belajar banyak hal berhubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) dan dengan manusia (hablum minan-nas)
Selama bersekolah dalam bulan puasa, kita memiliki kurikulum universal yang berisi kompetensi inti, yaitu Al-Baqoroh ayat 183 “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” sedang kompetensi dasar: kita diwajibkan mengenal dan melaksanakan wajib puasa, syarat sah puasa, rukun puasa, sunnah puasa, makruh dilakukan saat berpuasa, dan hal yang membatalkan puasa.
Apakah semua orang bisa ikut belajar? Tidak, hanya orang yang sudah lulus menjadi ‘orang yang beriman yang bisa berpartisipasi. Bisa dipastikan ‘orang’ yang belum lulus belum sanggup mengikuti proses pelatihan ini karena proses pembelajarannya begitu ‘berat dan melelahkan’. Tapi bagi yang lulus, proses pembelajaran bisa diikuti dengan santai dan menyenangkan.
Apa saja kegiatan dalam proses pembelajaran ini? Kita diajarkan, dibimbing, dibina dan dilatih untuk mengenal Tuhan, melatih disiplin waktu, keseimbangan dalam hidup, mempererat silaturahmi, lebih perduli pada sesama, berhati-hati dalam berbuat, saling berbagi, melatih hidup sederhana, memperkuat etos kerja, mengembangkan kecerdasan emosi dan spritual, melatih untuk bersyukur, mendorong dan mendidik manusia agar selalu belajar dalam rangka memperoleh dan meningkatkan ketaqwaan, dsb.
Kapan proses pembelajaran dilakukan? Waktu pembelajaran berlangsung dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari (HR Ibnu Khuzaimah) setiap hari selama bulan ramadhan. Latihan ini menerapkan disiplin tingkat tinggi dalam proses pembelajaran. Lewat setengah detik saja dari terbit fajar, bisa dipastikan tidak bisa mengikuti proses pembelajaran pada hari itu. Walaupun berdisiplin tinggi, ada beberapa orang diberi dispensasi: (1) perempuan yang ‘berhalangan’, dia diberi dispensasi untuk tidak mengikuti proses latihan selama berhalangan tapi wajib mengikuti ‘remedial’ pada kesempatan yang lain dengan jumlah hari yang sama; (2) wanita hamil dan menyusui dengan kondisi tertentu; (3) orang sakit, yang sedang bersafar, orang yang sangat tua dan pekerja berat dan dalam keadaan lemah dalam kondisi tertentu dan orang sakit yang tidak kunjung sembuh (Qardhawi, 2007).
Siapa yang menjadi guru? Guru dalam pelatihan ini adalah diri sendiri. ‘Diri sendiri’ lah yang mengajar, membimbing, membina dan melatih diri sendiri berdasarkan ‘kurikulum’ yang sudah diberikan. Baik buruk kualitas diri sangat tergantung dari diri sendiri.
Apakah pembelajaran ini ada ujian? Pasti ada. Ujian dilaksanakan sepanjang waktu, setiap detik, kita diuji. Akhirnya kita mengikuti Ujian Akhir dengan syarat kelulusan: (1) menyelesaikan semua program baik rukun dan wajib ibadah puasa; (2) berakhlaq mulia; (3) lulus ujian harian, yaitu tidak tergoda dengan hal yang membatalkan puasa; (4) lulus Akhir, yaitu sangat sedih meninggalkan Ramadhan dan mentransformasikan nilai nilai puasa untuk sebelas bulan berikutnya.
Ujian boleh dilakukan dimana saja, tidak ada yang mengawasi. Pengawas juga diri kita sendiri, berbuat kecurangan, hanya kita yang tahu, diri sendiri yang menegur. Hanya kita yang tahu bila kita curang, hanya kita yang tahu bila kita pura pura ‘bersih’.
Apa harapan setelah mengikuti pembelajaran selamabulan Ramadan? Diharapkan setelah pelatihan ini, kita tidak hanya sibuk menjaga diri dari hal yang membatalkan puasa, menjaga diri dari perbuatan tercela, tetapi juga harus mampu menjadi teladan, tidak hanya memberi contoh atau membuat contoh tapi mencontohkan dalam kehidupan sehari hari, baik dalam berpikir, bertindak dan berkomunikasi santun.
Selanjutnya baca di halaman 2