Rumah Tuo, Jejak Peradaban Purbakala di Merangin Jambi

Penulis: Upro , Editor: Muhammad Syafe'i - Ahad, 07 Juni 2020 , 22:41 WIB
Rumah Tuo di Rantau Panjang Kecamatan Tabir, Merangin
Upro/jernih.id
Rumah Tuo di Rantau Panjang Kecamatan Tabir, Merangin


JERNIH.ID, Merangin - Kabupaten Merangin sangat kaya akan potensi pariwisata. Ada Arung Jeram, Danau Depati Empat, Danau Pauh, Air Terjun Segerincing, Gua Tengko, dan banyak lagi tempat wisata alam yang tak bisa disebutkan.

Selain potensi wisata alam yang berlimpah, Bumi Tali Undang Tambang Teliti ini juga kaya akan tempat wisata bersejarah. Salah satunya adalah Rumah Tuo, yang terletak di Rantau Panjang Kecamatan Tabir.

Rumah Tuo ini dibangun ratusan tahun yang lalu, pada zaman purbakala. Dibangun pada tahun 1330, rumah yang berbentuk panggung khasnya zaman dulu ini ternyata masih berdiri kokoh sampai saat sekarang ini.

Rumah Tuo ini sekarang ditempati oleh keluarga Bapak Iskandar, keturunan ke-14 dari nenek moyang Suku Bathin (Suku Melayu Tua) yang pertama kali membangun rumah tersebut. Mereka sebut dengan gelar Puyong Bungkuk (Nenek Bungkuk).

Menurutnya perkampungan ini sudah lebih dari 700 tahun. Karena sudah berusia 7 abad, kampung yang ditempati mayoritas cucu para nenek moyang yang membangun kampung tersebut, desa ini dikenal dengan sebutan Desa Tuo.

"Kalau umur kampung ini sudah lebih dari 700 tahun. Tapi kalau Rumah Tuo 690 tahun. Karena dulu nenek moyang mau membangun rumah butuh kesepakatan dulu, musyawarah dulu butuh waktu," ujar Iskandar, ketika diwawancarai, Sabtu (6/6/2020) di Rumah Tuo.

Dikisahkan oleh Iskandar, awal mula terbentuknya perkampungan ini berawal ketika pada tahun 1300 ada sebuah Kerajaan Koto Rayo yang berada di daerah Rantau Panjang, Tabir saat ini.

Pada saat itu kerajaan ini dihilangkan dari pandangan mata manusia. Sehingga warga sedang berada diluar kerajaan tidak bisa lagi kembali pulang, karena kerajaan tersebut sudah tidak nampak.

"Kerajaan ini dilimun bahasanya atau dihilangkan dari pandangan mata. Jadi yang diluar tidak bisa pulang, mereka mengembara selama 30 tahun. Ada yang ke wilayah Bungo, Sarolangun, Batanghari dan Bangko," jelasnya.

Setelah itu dia melanjutkan, tahun 1330 sampailah mereka kembali ke daerah yang saat ini jadi perkampungan. Menurutnya saat itu ada sebanyak 19 orang yang mulai merintis pembangunan rumah dan perkampungan untuk bermukim di kawasan ini.

"Jadi nenek moyang kita ini 19 orang yang dimpimpin Puyong Bungkuk. Pertama kali dibangun Rumah Tuo ini. Kemudian baru dibangun lagi rumah yang lain sampai 19 rumah. Mereka bermukim menempati wilayah ini. Jadi karena ada pemukiman tentu ada peradaban, sehingga jadilah sebuah desa," tuturnya.

Rumah Tuo yang sudah ditetapkan sebagau Cagar Budaya ini, terus menjadi tujuan wisata. Tidak hanya wisatawan lokal, bahkan Nasional dan Manca Negara. Bapak Iskandar mengaku setiap harinya menerima tamu yang datang dari berbagai daerah ke Rumah Tuo.

"Tiap hari ada saja yang datang. Yang keturunan lansung dari Puyong Bungkuk sebenarnya istri saya. Jadi saya wajib tau semua sejarah Rumah Tuo dan perkampungan ini. Kalau ada yang berkunjung saya yang menjelaskan dan melayani tamu," tutupnya.

Untuk diketahui, Rumah Tuo ini saat ini dijadikan museum tempat penyimpanan barang bersejarah. Banyak peninggalan sejarah warisan dari nenek moyang yang membangun perkampungan tersebut, disimpan dengan rapi dirumah ini.

Tag:


PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID