Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd Menemukan "Sejatinya Manusia" di Tengah Pusaran Teknologi
Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd
Pendahuluan
Siapakah sejatinya manusia? Pertanyaan kuno ini kembali mendesak di era di mana kita mahir membedah atom, namun sering gagal memahami diri sendiri. Di tengah gemuruh teknologi dan lautan informasi, banyak dari kita justru terperangkap dalam krisis eksistensial, merasa hampa tanpa makna. Fenomena ini muncul karena kita telah menjauh dari dimensi kesadaran paling esensial: Kesadaran Ruhiyah dan Sadar Ilahiyah.
Kesadaran (consciousness) dalam sains kognitif adalah misteri terbesar. Namun, dalam kacamata spiritual-filosofis, Kesadaran tertinggi manusia adalah ketika ia mampu menyelaraskan Ruhiyah (dimensi ruhani yang ditiupkan Tuhan) dengan Ilahiyah (kesadaran akan kehadiran dan keesaan Sang Pencipta). Inilah puncak eksistensi yang mendefinisikan "Sejatinya Manusia."
Mengapa Manusia Sadar Ruhiyah - Sadar Ilahiyah
Tuntutan untuk mencapai kesadaran ini bukanlah sekadar pilihan dogma, melainkan kebutuhan ontologis yang melekat pada fitrah manusia.
Pertama, secara ontologis, manusia diciptakan dalam ahsan taqwim—bentuk terbaik—tetapi juga dibekali dua kecenderungan: fujur (keburukan) dan taqwa (kebaikan) (QS. Asy-Syams: 7-8). Kesadaran Ruhiyah berfungsi sebagai kompas, menarik kita kembali pada fitrah primordial. Ruh, yang ditiupkan langsung oleh Tuhan (Amr Rabbi), merupakan sumber energi Ilahi dalam diri (QS. Al-Isra: 85). Tafsir klasik menegaskan, Ruh adalah rahasia Ilahi yang tak terjangkau akal murni (Ibn Katsir, 2000, hlm. 411).
Kedua, secara eksistensial, Kesadaran Ilahiyah menawarkan solusi atas krisis makna. Al-Qur'an mengingatkan tentang orang-orang yang "lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri" (QS. Al-Hasyr: 19). Kelalaian (ghaflah) terhadap Sang Pencipta menghasilkan kelalaian terhadap self yang hakiki. Mengaktifkan Kesadaran Ruhiyah-Ilahiyah memberikan meaning-making transendental yang melampaui kepentingan materi dan ego sesaat (Zohar & Marshall, 2000, p. 5).
Eksistensi dan Epistemologi Kesadaran Manusia
Inti dari Kesadaran Ruhiyah-Ilahiyah terletak pada Qalb (hati spiritual), bukan hanya hati fisik atau emosi. Ruh adalah 'cermin' yang memantulkan Cahaya Ilahi. Akal (Aql) adalah instrumen rasionalitas, namun harus dipandu oleh Ruh dan Wahyu. Sebagaimana Al-Ghazali menegaskan, akal "seperti mata, dan wahyu seperti cahaya. Tanpa cahaya, mata tidak melihat," (Al-Ghazali, 1998, hlm. 74).
Epistemologi (cara mengetahui) Kesadaran Ilahiyah diperoleh melalui dua jalur: Nalar Rasional (Ayat Kawniyyah—mengenali tanda-tanda Tuhan di alam semesta) dan Intuisi Spiritual (Ayat Qawliyyah—mengenali tanda-tanda Tuhan melalui hati dan penyucian diri). Puncak kesadaran psikologis adalah Nafs Muthmainnah (Jiwa yang Tenang), di mana ego telah tunduk pada bimbingan ruh (Hasan, 2009, hlm. 308).
Karakter Kesadaran Manusia: Selaras dengan Karakter Ruhiyah - Karakter Ilahiyah
Ketika Kesadaran Ruhiyah aktif, manusia mencerminkan sifat-sifat keagungan Ilahi (Asma'ul Husna) dalam batas kekhalifahan. Karakter kesadaran ini berpuncak pada konsep Al-Ihsan: suatu kondisi di mana kita beribadah atau bertindak "seolah-olah kamu melihat-Nya, kalaupun kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu" (Hadis Jibril).
Kesadaran akan Al-Rahman (Kasih Sayang Tuhan) memicu Empati Universal. Kesadaran akan Al-Adl (Keadilan Tuhan) menumbuhkan Integritas dan Akuntabilitas Spiritual, di mana setiap perbuatan dipertanggungjawabkan kepada Sang Khalik (Subkhan, 2025, hlm. 5). Praktik Kesadaran ini disebut Muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Tuhan. Inilah level tertinggi spiritualitas yang menghasilkan moralitas paripurna, menjadikan individu seorang Insan Kamil (Manusia Paripurna).
Kesadaran Manusia: Peak Experience Kemanusiaan
Mengambil istilah Peak Experience dari Maslow (Maslow, 1964, p. 62), Kesadaran Ruhiyah-Ilahiyah adalah jalan menuju Peak Experience sejati. Khusyuk dalam ibadah adalah mini-Mi'raj, momen kenaikan ruhani di mana Qalb merasakan kedekatan mutlak dengan Ilahi.
Dalam tasawuf, puncak pengalaman ini bisa mencapai Fana' (peleburan diri ego) dan kemudian Baqa' (keberlangsungan diri dalam Kesadaran Ilahi). Pengalaman ini memberikan ketenangan jiwa mutlak (Tuma'ninah) dan memotivasi tindakan tanpa pamrih (fastabiqul khairat), melampaui segala batas keduniaan.
E. Menjaga Kesadaran Manusia: Sadar Ruhiyah - Cahaya Ilahiyah "Cahaya Kebenaran yang tak Pernah Padam"
Kesadaran adalah cahaya, dan ancaman terbesarnya adalah ghaflah (kelalaian). Untuk menjaga "Cahaya Kebenaran yang tak Pernah Padam" ini, diperlukan Tarbiyah Ruhiyah (Pendidikan Spiritual) secara berkelanjutan.
Tiga Pilar Penjaga Kesadaran:
Dzikrullah dan Muraqabah: Mengingat Allah secara berkesinambungan. Praktik Muraqabah memastikan kita selalu berada pada posisi tengah yang stabil.
Tadabbur Al-Qur'an: Merenungkan Wahyu sebagai Nur (Cahaya) yang paling murni, memandu akal dan hati (QS. Yunus: 57).
Muhasabah (Introspeksi): Proses self-correction dan tazkiyatun nafs untuk membersihkan 'cermin hati' (Qalb). Hal ini menguatkan Ruhiyah Quotient (RQ) dan memuliakan manusia (Basri, 2023, hlm. 50).
Penutup
Sejatinya Manusia adalah makhluk yang menemukan potensi tertingginya bukan di luar dirinya, melainkan di kedalaman ruhnya. Sadar Ruhiyah - Sadar Ilahiyah adalah fondasi bagi Spiritual Quotient (SQ) yang matang, mengintegrasikan dimensi fisik, intelektual, dan spiritual kita. Dengan Kesadaran ini, manusia dapat menjadi Khalifah yang otentik dan membawa rahmat bagi alam semesta.
Nilai manusia bukan terletak pada apa yang ia raih, melainkan seberapa jernih ia memantulkan Cahaya Ilahi yang telah ditiupkan ke dalam dirinya.
(Penulis merupakan Guru Besar - Ketua Senat UIN STS Jambi)
Daftar Pustaka
A. Kitab Klasik
Al-Ghazali, A. H. (1998). Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn. (Jilid III). Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Ibn Katsir, I. A. F. (2000). Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm. (Jilid II). Kairo: Dār al-Salām.
Ibn 'Arabi, M. (1980). Al-Futūḥāt al-Makkiyyah. (Jilid I). Kairo: Al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb.
Al-Thabari, M. J. (2001). Jāmi' al-Bayān 'an Ta'wīl Āy al-Qur'ān. (Jilid XV). Beirut: Mu’assasah al-Risālah.
Al-Qushayri, A. K. (1990). Al-Risālah al-Qushayriyyah. Kairo: Dār al-Ma'ārif.
Al-Bukhari, M. I. (2002). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. (Kitāb al-Īmān). Riyadh: Dār al-Salām.
Al-Nawawi, Y. S. (1996). Sharh al-Nawawi 'ala Muslim. (Jilid I). Beirut: Dār Iḥyā' al-Turāth al-'Arabī.
B. Jurnal
Al-Attas, S. M. N. (1999). The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Nasr, S. H. (2007). The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. New York: HarperOne.
Zohar, D., & Marshall, I. (2000). Spiritual Intelligence: The Ultimate Intelligence. New York: Bloomsbury.
Maslow, A. H. (1964). Religions, Values, and Peak-Experiences. Columbus: Ohio State University Press.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
King, D. B., & DeCicco, T. L. (2009). A Viable Model and Measure of Spiritual Intelligence. International Journal of Transpersonal Studies, 28(1), 68–85.
Vahdat, Z., & Aligard, T. (2021). The Role of Islamic Spirituality in Enhancing Mental Health: A Systematic Review. Journal of Religion and Health, 60(4), 2701–2718.
C. Buku & Jurnal Penunjang
Hasan, A. (2009). Psikologi Kebahagiaan: Pendekatan Ilahiyah. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Subkhan, A. (2025). Menumbuhkan Kesadaran Akuntabilitas Spiritual melalui Transformasi Nilai-Nilai Spiritualitas. Jurnal Balai Diklat Keagamaan Semarang, 4(1), 1–10.
Nizar, S. (2015). Saatnya Manusia Sadar. Jurnal UIN Suska Riau, 2(2), 115–130.
Rahmat, J. (2018). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kholil, M. (2018). Aspek Pendidikan Ruhiyah dalam Al Qur’an. Pigur: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(2), 52–65.
Basri, M. (2023). Supervisi Berbasis Ruhiologi Quetiont dalam Mewujudkan Pendidikan yang Memuliakan Manusia. Arus Jurnal Sosial dan Humaniora (AJSH), 4(2), 45–60.
Gulen, M. F. (2018). Konsep Muraqabah dan Pencapaian Personalitas Kolektif dalam Pemikiran Tasawuf Muhammad Fethullah Gulen.
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 20(1), 38–54.
Kemenag RI. (2021, Februari 23). Menjaga Kesadaran, Tetap Pada Posisi Tengah. Diakses dari laman resmi: https://kemenag.go.id/
Syaiful, A. (2024). Kecerdasan Spiritual Islami: Integrasi Al-Qalb, Al-Aql, dan Al-Ruh dalam Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Islam Kontemporer, 5(1), 77–90.
Raharjo, M. (2022). Kesadaran Beribadah: Studi Psikologi Agama pada Remaja. Jurnal Psikologi Islam, 8(2), 121–135.
Mufidah, H. (2020). Spiritualitas sebagai Landasan Etika Profesi dalam Islam. Jurnal Studi Etika, 1(1), 1–15.