JERNIH.CO.ID, JAKARTA - Tagar #NetizenBerPancasila di media sosial utamanya di Twitter menjadi trending hari ini yang bertepatan dengan hari kelahiran Pancasila. Tagar ini muncul kemarin (31/5) pukul 20.08 WIB dan naik menjadi trending topic hari ini pukul 03.05 WIB.
Beberapa akun awal yang menggunakan tagar #NetizenBerpancasila diantaranya akun Twitter resmi milik Humas Pemda DIY, @humas_jogja, dan @kominfodiy, kemudian diikuti beberapa akun berbasis di Yogya lainnya, selanjutnya menyebar di kalangan warganet. Apa makna tagar #NetizenBerPancasila?
Pengamat media sosial dari Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) Hariqo Wibawa Satrio menjelaskan, tagar #NetizenBerPancasila secara umum mengajak warganet menjadikan Pancasila sebagai filter saat kita memproduksi dan menyebarkan konten lewat media sosial. Tagar #NetizenBerPancasila, menurut Hariqo, punya kelebihan ketimbang tagar yang populer di tahun lalu yaitu #SayaPancasila karena sifatnya mengajak dan tidak menegasikan yang lain.
“Warganet itu sebenarnya juga wartawan, pemimpin redaksi, sekaligus pemilik bagi akun media sosialnya masing-masing. Saya melihat banyak sekali postingan dari sebuah akun media sosial milik warganet yang direspon dan dikomentari jauh lebih banyak oleh warganet ketimbang sebuah berita yang diproduksi oleh media mainstream,” ujar Hariqo dalam rilisnya, Jumat (1/16/2018).
Hariqo menambahkan, mengamalkan Pancasila bagi warganet dapat diartikan menghormati agama dan pemeluknya, memprioritaskan kemanusiaan, bersikap adil, menjunjung adab, menjaga persatuan, klarifikasi atau musyawarah sebelum produksi dan distribusi konten yang diragukan kebenaran dan manfaatnya, serta memperjuangkan keadilan sosial untuk siapapun warga Indonesia. Ukuran produksi dan distribusi itu adalah kepentingan nasional.
Terkait masih terus ramainya hoaks, ujaran kebencian dan hal negatif lainnya di media sosial, Hariqo mengatakan isu keamanan utamanya terkait hoaks memang paling banyak dibicarakan di medsos ketimbang dua isu lainnya seperti kreativitas dan kolaborasi. Sebab meskipun bangsa Indonesia mempunyai kekeluargaan dan modal sosial yang kuat, namun jika terus menerus dihantam oleh hoaks, ujaran kebencian, dan penyalahgunaan isu SARA, maka lama kelamaan akan rapuh juga.
Hariqo menyebut bahwa perang saudara di Timur Tengah salah satunya disebabkan lambatnya antisipasi terhadap ujaran kebencian, selain juga karena adanya sekelompok orang yang menjadikan proxy oleh negara-negara besar dibalik perang tersebut.
“Kita ber-NKRI bukan hanya untuk 100 tahun saja, tapi untuk selama-lamanya. Ibarat bangunan, jika kita ingin bangunan NKRI ini kokoh dari gempa, banjir, bom dan senjata nuklir. Maka salah satu caranya adalah dengan membangun fondasi persatuan yang kokoh. Upaya penggunaan tagar yang efektif dalam setiap momentum merupakan bagian dari gotongroyong besar untuk memperkokoh fondasi persatuan tersebut” jelas Hariqo.