Asisten II Setda Kota Jambi, Mulyadi, JERNIH.ID, KOTA JAMBI — Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi tancap gas memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar semakin adaptif, inovatif, dan berdaya saing di era digital. Langkah strategis ini dibuktikan lewat dukungan penuh Pemkot Jambi terhadap Seminar dan Workshop AIMPACT di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi.
Kegiatan yang diserbu ratusan pelaku UMKM ini dibuka langsung oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Kota Jambi, Mulyadi, mewakili Wali Kota Jambi. Pada momen yang sama, Mulyadi juga meresmikan peluncuran komunitas Jambi Digital Movement (JDM).
Acara ini menghadirkan para pakar teknologi dan bisnis terkemuka. Sebut saja Praktisi AI sekaligus Delegasi AI Vocational Training China 2026 yang juga Ketua BAKASTRA BPD HIPMI Jambi, Aditya Prabowo. Hadir pula Co-Founder AI Creator Labs sekaligus alumni Lanzhou Jiaotong University, Sepriansyah (Ruangsepri), serta perwakilan Ikatan Alumni ITB Jambi.
Sederet instansi dan lembaga turut bahu-membahu menyukseskan acara ini. Mulai dari OJK, Bank Indonesia, Bank Jambi, program permodalan UMKM Kota Jambi, BLK Tematik, TP4D, hingga berbagai komunitas pengusaha lokal.
Dalam arahannya, Mulyadi menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah membutuhkan kolaborasi erat lintas perangkat daerah demi mengoptimalkan potensi bisnis lokal.
Sebab, sektor UMKM saling berkelindan erat dengan dunia perdagangan, ekonomi kreatif, hingga pemanfaatan teknologi informasi.
"UMKM ini perlu kita dukung bersama. Ada beberapa OPD yang memiliki keterkaitan langsung. Kalau kita sinergikan, pembinaan UMKM bakal semakin maksimal," ujar Mulyadi.
Ia membeberkan, program AIMPACT selaras dengan visi Pemkot Jambi dalam menjadikan kota ini sebagai pusat perdagangan dan jasa. Mengingat minimnya sumber daya alam, sektor perdagangan, kuliner, pariwisata, dan jasa menjadi urat nadi penggerak ekonomi masyarakat.
Penguatan ekonomi kerakyatan ini juga bermuara pada konsep Kota Jambi Bahagia—akronim dari Bersih, Aman, Harmonis, Agamis, dan Inovatif. Menurut Mulyadi, konsep tersebut bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan kesejahteraan masyarakat.
Kota yang bersih dan nyaman otomatis menarik minat pengunjung untuk berbelanja, menginap, dan memborong produk UMKM lokal.
"Kalau kota kita bersih, aman, dan nyaman, orang pasti datang. Mereka beraktivitas, menikmati kuliner, dan berbelanja di UMKM. Semua itu bermuara pada pertumbuhan ekonomi masyarakat," ungkapnya.
Meski jumlah UMKM terus meroket, Mulyadi mengingatkan pentingnya daya tahan bisnis. Pemerintah berkomitmen mengawal pelaku usaha agar tidak hanya tumbuh, tetapi juga sukses naik kelas.
Di lapangan, tantangan klasik seperti keterbatasan modal awal masih menghantui pelaku usaha baru. Menjawab persoalan ini, Pemkot Jambi menyiapkan skema bantuan permodalan khusus UMKM.
Selain modal, literasi digital menjadi pekerjaan rumah bersama. Pelaku usaha kini dituntut meninggalkan cara-cara konvensional dan mulai menguasai pemasaran digital hingga kecerdasan artificial intelligence (AI).
Melalui workshop AIMPACT, peserta diajak membedah cara kerja AI agar ramah diaplikasikan dalam operasional bisnis sehari-hari. Teknologi ini diyakini mampu mendongkrak produktivitas, efisiensi, dan memperluas jangkauan pasar produk lokal.
Kehadiran komunitas Jambi Digital Movement (JDM) diharapkan menjadi wadah berkelanjutan bagi ekosistem digital Kota Jambi. Pemkot Jambi mendorong agar semangat kolaborasi ini tidak berhenti di ruang seminar, melainkan langsung dieksekusi menjadi aksi nyata di lapangan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.(*/JR2)