Ramadhan Terakhir

Penulis: - Ahad, 10 Juni 2018 , 03:43 WIB


JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Sebentar lagi kita akan meninggalkan Ramadhan, bulan mulia karena kandungan mutiara ibadah yang sangat luar biasa berkilau memberikan cahaya hati, cahaya iman dan cahaya berpikir bagi yang mau memperolehnya.

Bagi yang tidak berkenan membingkai kemantapan iman, maka bulan Ramadhan hanya akan berlalu tanpa makna, dan tidak akan meninggalkan seberkas sinarpun di dada. Ramadhan hanya berlalu sebagai sebuah prosesi tahunan dengan melakukan kegiatan lapar-laparan dan dahaga-dahagaan. Ini yang kata Rasulullah, betapa banyak orang yang berpuasa, tapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali hanya lapar dan dahaga.

Betapa disayangkan, sudah melelahkan diri berpuasa tapi tidak memperoleh manfaat apapun. Demikian juga malam hari, seyogjanya adalah kesempatan memperoleh nilai ibadah yang tiada tara di sisi Allah, lewat begitu saja sampai subuh, tanpa ibadah malam yang mengokohkan keimanan dan takwa di sisi Allah, karena berlalu tanpa ibadah.

Malah ada yang melewatkan malam Ramadhan dengan beragam aktivitas yang menjauh dari mendekatkan diri pada Allah. Inilah puncak kerugian yang dilakoni manusia dalam bulan Ramadhan. Padahal belum tentu, dia akan bersua dengan Ramadhan yang akan datang.

Sekiranya demikian yang terjadi, sejogyanya kita jalani Ramadhan kali ini adalah bagai "Ramadhan yang terkahir", yang kemungkinan tidak akan hadir lagi tahun depan. Harus kita jalani yang terbaik mempersiapakan diri kita dengan berbagai ibadah siang maupun malam, baik ibadah mahdhah maupun sosial. Karena kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang memisahkan jasad dengan ruh kita. Yang penting kita harus siap seandainya dia datang tiap saat. Karena kematian pasti adanya "almauta haq".

Maka amatlah rugi kita lewati hari-hari Ramadhan tanpa memperoleh berkah, rahmat dan ampunan Allah. Rasulullah mengatakan, "mereka yang sangat merugi adalah, sampai akhir Ramadhan tidak mendapatkan ampunan Allah".

Kunci mendapat ampunan Allah adalah dengan mendirikan Ramadhan baik siang dan malamnya. Sabda rasulullah "barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan sungguh dan ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu".

Dalam hadis yang lain, dikatakan "barang siapa yang mendirikan Ramadhan", arti mendirikan di sini adalah mendirikan ibadah di malam hari, selain ibadah sosial sebagai kepedulian dan cinta kepada sesama.

Semoga Ramadhan kita lalui penuh makna (meaningfull), dan kita beroleh takwa di sisi Allah SWT. Dengan demikian Insya Allah, kita diridhai memperoleh novelty Allah, berupa surga dan ampunannya. Aamiin.



PT. Jernih Indonesia Multimedia - Jernih.ID