JERNIH.CO.ID, Muara Sabak - Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagian besar merupakan ekosistem gambut oleh karena itu potensi kebakaran hutan sangatlah tinggi.
"Karhutla yang terdata pada tahun 2016 total lahan yang terbakar seluas 2,5 Hektar , tahun 2017 sebesar 46 Hektar , tahun 2018 sebesar 59 Hektar dan pada tahun 2019 sementara ini belum ada kasus kebakaran," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Tanjab Timur, Jakfar, Sabtu (2/3).
Dikatakan Jakfar Kecamatan Sadu dan Berbak merupakan wilayah yang berpotensi tinggi terjadi kebakaran hutan oleh karena wilayah tersebut memiliki kandungan gambut yang tinggi dan wilayah hutan yang cukup sangat luas.
Oleh karena itu edukasi kepada masyarakat untuk peduli terhadap kebakaran hutan dan lahan yang rawan terjadi di sejumlah wilayah penting disebarluaskan.
"Upaya dalam mengantisipasi Karhutla terbagi dalam dua kondisi yaitu kondisi normal dan kondisi siaga. Pada saat kondisi normal masing-masing instansi terkait seperti BPBD,TNI, Polri, dan manggala agni melakukan pemantauan di daerah terkait daerah yang rawan salah satu informasi yang di peroleh dari desa/kelurahan salah satunya dari desa tangguh becana. Apabila dalam kondisi siaga semua wilayah yang yang rentan akan didirikan pos komando siaga," katanya.
"Upaya pihak BPBD untuk mengingatkan dengan pihak perusahaan dengan melakukan koordinasi kepada satuan-regu pemadam kebakaran pihak perusahaan apabila terdapat titik panas (hotspot), melakukan partroli rutin di wilayah konsesi, dan menjaga daerah atau lahan sekitar perusahaan," tambahnya.