JERNIH.CO.ID, Kota Jambi - Rasa takut adalah sebuah emosi yang muncul pada diri seseorang sebagai ekpresi berlebihan dalam merespon sesuatu objek. Sehingga rasa takut acapkali diikuti oleh khawatir, resah gelisah, bahkan puncaknya seseorang bisa mengalami hilangnya emosi rasa, "hilangnya perasaan dalam diri", sehingga menjadi linglung atau bingung.
Seorang yang hilang emosi rasa takut, boleh jadi dia bisa nekat karena pada saat yang bersamaan orang juga hilang rasa malu dalam dirinya, emosi khawatir dan resah gelisah naik memuncak. Dalam kondisi demikian orang dapat melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhannya, baik dengan cara positif maupun negatif.
Maka sering kita dengar orang mengucapkan kata "siapa takut", yang maksudnya seorang yang mencoba menghilangkan rasa takut dalam diri, padahal sesunguhnya dia takut, dia penakut karena dia memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan.
Banyak jenis takut yang dialami oleh manusia dengan manusia lainnya, seperti: takut istri, takut suami, takut orang tua, takut atasan, takut dengan pimpinan, ada juga takut karena suatu faktor yang mengancam dirinya.
Takut karena faktor manusia disebabkan faktor karakter, sedangkan takut dengan keadaan disebabkan oleh faktor psikologis, seperti takut gagal, takut ditolak permohonan, takut tidak sukses, takut tidak berprestasi, takut kehilangan dan sejenisnya.
Beragam takut ini, sesungguhnya tidak ada alasan yang melatari, selain adanya faktor emosi psikologis dan karakter yang berlebihan yang menguasai diri seseorang.
Tidak juga ada alasan untuk takut dengan manusia, toh manusia adalah sama statusnya sebagai makhluk dengan manusia lainnya. Takut yang berlebihan dengan sesama makhkuk, membuat manusia menjadi fanatisme bahkan sirik di sisi Allah. Dia kehilangan kemanusiaannya, dia rela menggadaikan idealisme dan harga dirinya bahkan dapat melakukan berbagai sikap-sikap tidak terpuji seperti menjilat, selalu mengambil muka agar dipuji manusia, selalu berkata "iya" sekalipun bertentangan dengan hati nurani dan norma kesusilaan.
Seyogyanya dengan sesama makhluk (manusia) ada nilai kepribadian luhur yang dikenal dengan "segan". Konsep segan adalah lahir dari saling menghargai karena seseorang memiliki nilai yang tinggi atau memiliki kapasitas dan kedudukan yang tinggi, baik berupa jabatan, kehormatan dan dimulyakan oleh manusia.
Saling segan adalah karakter terpuji, dengan demikian dia tidak sembarangan bersikap dengan atasan, istri, suami atau dengan siapa saja. Seyogyanya sebagai atasan atau pimpinan juga harus segan dengan bawahan, dengan masyarakat dan rakyat kalau melakukan sikap-sikap yang menyimpang "distorsif" dari kaidah dan norma-norma hukum apalagi peraturan yang menjadi pegangan dalam satu negara. Artinya, karakter segan harus timbal balik, sehingga terbangun sikap saling menghargai, menghormati dan saling memulyakan.
Sebagai manusia kita harus saling segan dengan sesama manusia sebagai takaran luhurnya budi. Kita takut hanya kepada Allah SWT, Dialah sang pemberi amanat dan nikmat dunia tiada ukuran dan tara, Dia sang pemilik segala materi dunia dan akhirat, Dia sang pengatur kehidupan dan kematian semua makhluk.
Allah ingatkan kita dalam QS. Al-A'raf 265, bahwa takut hanya kepada Allah, wujud takut kepada Allah, Dia perintahkan kita selalu ingat "zikir" di hati tiap saat, rendah hati, tidak berperilaku keras atau kasar baik dalam ucapan dan tindakan di sepanjang hari, dan menjauhi sikap lengah yang melenakan sehingga kita lupa diri dari sejatinya manusia sebagai makhluk. Semoga berkah Ramadhan. Amin.